Agus Jabo Priyono: Dengan Persatuan Nasional, PRD Perjuangkan Republik Keempat!

Pada penghujung bulan Maret ini, Partai Rakyat Demokratik (PRD) akan menyelenggarakan kongres VIII. Berbeda dari Kongres-Kongres PRD sebelumnya yang jauh dari publikasi, kongres kali ini akan diselenggarakan secara terbuka.

PRD sendiri menganggap kongres kali ini sebagai tonggak yang penting. Selain menjadi ruang untuk konsolidasi partai secara ideologi, politik dan organisasi, kongres VIII PRD ini juga akan menjadi ruang bagi PRD untuk menjawab situasi objektif bangsa Indonesia saat ini dan gagasan perjuangan kedepan.

Apa arti penting kongres VIII PRD ini, gagasan-gagasan politik apa saja yang akan digulirkan, dan bagaimana proyeksi arah perjuangan politik PRD ke depan? Berikut petikan wawancara pemimpin redaksi Berdikari Online, Rudi Hartono, dengan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono.

Apa tema besar yang akan diusung oleh PRD dalam kongresnya yang VIII?

Di tengah naiknya harga beras dan kelangkaan gas, pangan dan energi, dua hal yang sangat vital dalam kehidupan bangsa, PRD sedang melaksanakan tahapan-tahapan kerja menuju Konggres VIII. Tema yang kami angkat adalah: Bangun Indonesia yang Berdaulat, Berdikari dan Berkepribadian (TRISAKTI), dengan Persatuan Nasional.

Apa arti penting Kongres VIII ini bagi sejarah kelahiran dan perjuangan PRD untuk bangsa ini?

Dalam alam liberal seperti sekarang ini, perjuangan yang mengusung program pembebasan nasional dengan menyandarkan kepada gerakan rakyat bukanlah perjuangan yang mudah. Ini juga dirasakan oleh PRD.

Sebelumnya, pada Konggres VII PRD tahun 2010, telah diputuskan hal-hal yang fundamental menyangkut azas Partai, yakni PANCASILA, kemudian tentang politik Persatuan Naional anti Imperialisme, dan bentuk organisasi partai yang terbuka. Selama kurang lebih lima tahun ini KPP PRD telah berusaha sekeras-kerasnya dalam membangun landasan idiologi, politik dan organisasi, untuk membangun sistem kepartaian yang kuat.

Jadi, dalam Konggres VIII ini, kami akan menunjukkan kepada segenap bangsa Indonesia bahwa PRD sudah siap berjuang secara terbuka, bersama kekuatan lain yang mengusung platform program kemandirian bangsa, kita siap bersatu serta memimpin perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan diri dari cengkeraman imperialisme, untuk menegakkan Trisakti.

Memang bukan perjuangan yang mudah untuk mewujudkan hal tersebut, karena perjuangan politik menuju kekuasaan sekarang ini secara umum hanya dimaknai dengan kekuatan uang, televisi dan lembaga survey.  Bukan sebuah kemenangan pertarungan gagasan untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Bagaimanapun sulitnya situasi, karena perjuangan ini adalah panggilan sejarah, dengan niat yang tulus ikhlas, PRD akan tetap berjuang bersama massa rakyat, baik yang sedang menghadapi konflik maupun yang sedang menghadapi tekanan-tekanan hidup akibat semakin hebatnya dominasi imperialisme di dalam negeri, sampai terwujudnya Trisakti sebagai jembatan emas menuju masyarakat Indonesia yang bermartabat, adil makmur, aman sentosa, lahir batin.

Maka untuk pertama kalinya, dalam Konggres VIII ini, PRD akan melaksanakan Kongres secara terbuka.

Bagaimana PRD meletakkan Kongres VIII ini untuk menjawab situasi ekonomi politik saat ini?

Problem pokok bangsa Indonesia saat ini adalah imperialisme. Banyak produk Undang-Undang (UU), bahkan UUD 1945 diamandemen, untuk melindungi kepentingan imperialisme itu. Ekonomi nasional tidak terbangun, semua diserahkan kepada pasar, sumber daya dikuasai asing, tidak ada kedaulatan pangan dan energi, upah murah, petani kehilangan tanah garapannya, kebutuhan di dalam negeri dipenuhi barang-barang import, harga-harga bahan-bahan pokok naik tinggi.

Padahal pada Pilpres kemarin, gelora Trisakti (berdaulat di bidang politik, berdikari di lapangan ekonomi, dan berkepribadian secara budaya) menggema di seluruh Nusantara. Namun, empat bulan kekuasaan baru di bawah Jokowi-Jusuf Kalla, kebijakan dan gerakan untuk menciptakan kedaulatan pangan, kedaulatan energi sebagai pilar utama tegaknya sebuah bangsa, belum terlihat. Justru yang muncul ke permukaan adalah konflik antar lembaga negara, konflik antara eksekutif dengan legeslatif, dan lain sebagainya.

Tugas PRD bersama komponen bangsa lainnya dalam wadah persatuan nasional adalah menjadi lokomotif perjuangan menegakkan Trisakti tersebut, sesuai dengan amanat Proklamasi, dengan filosofi dan dasar Pancasila, guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil makmur.

Dalam Konggres PRD VIII ini, kita akan meneguhkan kembali jalan perjuangan tersebut.

Apakah dalam Kongres akan memutuskan posisi politik PRD terhadap pemerintahan sekarang ini?

Tentunya demikian. Kami akan mengevaluasi serta memberikan sikap politik terhadap Pemerintahan JKW-JK sekarang ini. Apakah masih di dalam rel Trisakti dan Nawacita atau justru menguatkan dominasi imperialisme yang telah merobohkan Trisakti tersebut. Apabila Pemerintahan ini masih dalam jalur Trisakti dan Nawacita, mau mengembalikan jalan dalam berbangsa dan bernegara sesuai dengan cita-cita Proklamasi, menjadikan Pancasila sebagai filosofi, pedoman dan dasar berbangsa dan bernegara,  mengembalikan UUD 1945 kepada semangat Trisakti, dan meyusun program-program Pemerintah yang sesuai dengan semangat Trisakti, maka PRD akan berdiri paling depan untuk mendukung pemerintah.  Begitu pula sebaliknya.

Visi Partai seperti apa yang akan digagas PRD dalam Kongres VIII ini?

PRD  akan tetap dalam garis perjuangan melawan imperialisme, dengan membangun persatuan nasional, dan berjuang secara terbuka guna mengisi ruang-ruang politik dengan terus menerus mengkampanyekan garis perjuangan tersebut, baik di tingkat nasional maupun di daerah-daerah.

Dalam diskusi dan perdebatan menuju Kongres, muncul gagasan besar tentang ‘Republik Keempat’. Bisa dijelaskan tentang gagasan ‘Republik Keempat’ tersebut?

Secara singkat bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah mengalami banyak perubahan bentuk dan isi. Pada awalnya, setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Pemerintah bersama rakyat bahu membahu, bergotong royong mengimplementasikan arti kemerdekaan tersebut, tidak semata-mata pergantian kekuasaan dari Kolonialisme Belanda ke tangan Bangsa Indonesia, tetapi perjuangan menegakkan Trisakti sebagai tahapan menuju masyarakat Indonesia yang adil makmur. Kekuasaan lama yang menjajah bangsa Indonesia dinegasikan, baik ekonomi, politik maupun sosial budaya.

Jadi untuk mengidenifikasi sejarah perkembangan kebangsaan dan sistem kenegaraan, PRD mengklasifikasi dalam tahapan-tahapan, yaitu :

Republik Pertama adalah Republik yang mengkonsolidasikan diri untuk meletakkan dasar-dasar Indonesia Merdeka, yaitu Politik yang Berdaulat, Ekonomi yang Mandiri dan Berkepribadian Nasional dalam Kebudayaan, sebagai tahapan menuju Masyarakat Indonesia yang adil makmur, aman sentosa, lahir serta batin. Ini terjadi di era 1945 hingga tergulingnya pemerintahan Bung Karno di tahun 1967.

Republik Kedua adalah Republik yang membelokkan cita-cita Republik Pertama, dengan membuka kembali pintu bagi modal asing untuk berkuasa di dalam negeri Indonesia. Walaupun demikian, Republik Kedua ini masih memberikan batasan-batasan terhadap kebebasan modal asing tersebut. Ini terjadi di era Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto.

Republik Ketiga adalah Republik yang tunduk dan patuh terhadap ekspansi modal asing, baik melalui negara maupun lembaga-lembaga Internasional. Ini terjadi sejak bergulirnya reformasi—dengan pengecualian Gus Dur—hingga sekarang ini.

Sedangkan Republik Keempat adalah Republik yang meneruskan perjuangan Republik Pertama dan cita-cita Kemerdekaan Nasional untuk menegakkan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan kepribadian dalam budaya, dengan cara menghapus semua produk UU yang pro terhadap kepentingan asing, mengembalikan UUD 1945 sesuai dengan cita-cita proklamasi, melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 secara konsekwen, dan sistim politik yang berbasiskan pada konsep sosio-demokrasi.

Bagaimana PRD memperjuangkan gagasan besar ‘Republik Keempat’ tersebut?

Untuk tahap pertama, gagasan tersebut harus dikampanyekan kepada seluruh rakyat Indonesia. Kedua, kami akan menggalang persatuan nasional untuk mewujudakan Republik Keempat tersebut. Ketiga, membangun wadah-wadah persatuan tersebut dari tingkat nasional sampai ke daerah-daerah. Keempat, mendesak Pemerintah untuk segera melaksanakan program-program Trisakti tersebut.

Yang jelas, tanpa Persatuan Nasional yang kokoh, tanpa filosofi dan landasan kebangsaan serta kenegaraan yang yang kuat, tanpa kepemimpinan nasional yang kuat dan tegas secara programmatik, tanpa melibatkan partisipasi massa rakyat, mustahil Trisakti bisa dimenangkan serta ditegakkan. ***

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut