Mahasiswa Lampung Peringati Hari Perempuan Sedunia

Sedikitnya 30-an mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembela Aspirasi Rakyat (GEMPAR) menggelar aksi massa memperingati Hari Perempuan Sedunia di Bundaran Tugu Adipura Bandar Lampung, Minggu (8/3/2015).

Dalam aksinya massa aksi menyerukan diakhirinya berbagai bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan, baik di lapangan ekonomi, sosial-budaya, maupun politik.

Mereka juga menyerukan agar kaum perempuan mulai mengambil peran yang lebih luas di wilayah publik, termasuk dalam urusan politik, baik di tingkat lokal maupun nasional.

“Kami mendesak pemerintahan Jokowi-JK membuktikan komitmennya untuk memperbaiki kehidupan perempuan dengan melaksanakan Trisakti dan Nawacita,” ujar Cahaya Harapan, salah seorang orator dalam aksi mahasiswa tersebut.

Ia juga mendesak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak agar lebih mendekatkan program-program pada persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan.

Dalam menjalankan aksinya, massa aksi GEMPAR melakukan mimbar bebas dan menyebarkan selebaran. Sayang, baru sekitar satu jam aksi ini berjalan, pihak kepolisian memaksa massa aksi untuk segera membubarkan diri.

Namun, massa aksi mengabaikan desakan kepolisian tersebut. Akhirnya, polisi menyeret dua massa aksi, yakni Rismayanti Bourthon (Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi/LMND Bandar Lampung) dan Agung Aditya (Ketua Front Mahasiswa Nasional/FMN Bandar Lampung), keluar dari barisan.

Keduanya kemudian digiring ke kantor Polresta Bandar Lampung. Lalu, setelah melalui proses negosiasi yang alot, kedua aktivis mahasiswa tersebut dibebaskan. “Kita sekarang ini seolah-olah didongengi soal demokrasi. Tetapi pada saat menyampaikan pendapat, kita diperhadapkan dengan aturan fasistik,” kata Rismayanti mengomentari tindakan kepolisian tersebut.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut