Peringati Harkitnas, PRD Kupang Serukan Republik Indonesia Keempat

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), puluhan anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD) kota Kupang menggelar aksi kampanye di Pantai Teddy’s Kota Kupang, Rabu (20/5/2015).

Dalam aksi tersebut, koordinator aksi Antonius J. Afeanpah mengatakan, hari kebangkitan nasional punya nilai sejarah yang penting, yaitu semangat anti-kolonialisme, yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini untuk keluar dari penjajahan baru alias neokolonialisme.

“Hari ini, 107 tahun sejak kebangkitan nasional dan jelang 70 tahun usia Kemerdekaan kita, bangsa kita terhambat kemajuannya oleh sebuah persoalan besar, yakni penjajahan baru alias neokolonialisme,” kata Antonius.

Akibat neokolonialisme itu, ujar Antonius, cita-cita bersama yang mengikat kita sebagai sebuah bangsa, yakni masyarakat adil dan makmur, makin makin terkoyak oleh menguatnya kesenjangann ekonomi antara si kaya dan si miskin, ketimpangan pembangunan antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur, dan ketimpangan antar pusat dengan pinggiran.

Situasi itulah, kata dia, yang menjadi basis material bagi menguatnya etnosentrisme, semangat kedaerahan, fanatisme keagamaan, dan gerakan separatisme yang mengancam eksistensi kita sebagai sebuah bangsa.

Di tempat yang sama, Ketua PRD Kota Kupang Wanandi Kabu mengeritik pemerintahan Jokowi-JK yang belum memperlihatkan inisiatif politik untuk mewujudkan Trisakti.

Sebaliknya, kata Wanandi, pemerintahan Jokowi-JK yang getol mengkampanye Trisakti semasa kampanye Pilpres justru masih melanjutkan agenda neoliberal rezim sebelumnya.

“pemerintahan Jokowi-JK sangat bergantung pada modal asing. Jokowi-JK juga mengalihkan tata-niaga sejumlah barang publik, seperti BBM, listrik, gas elpiji, tarif transportasi, dan lain-lain, kepada mekanisme pasar. Tidak Cuma itu, pemerintahan Jokowi-JK dengan khusuknya melanjutkan proyek MP3EI,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Wanandi menceritakan, sejak berdirinya hingga sekarang, Republik Indonesia sudah melalui berbagai tahapan sejarah yang ditandai dengan kemajuan dan kemandekan.

Di era pasca Proklamasi, yang disebutnya sebagai Republik Indonesia pertama, ada upaya untuk menegakkan cita-cita kemerdekaan melalui penyelenggaraan negara yang berkarakter Trisakti.

Namun, lanjut Wanandi, di era Orde Baru—yang disebutnya Republik Indonesia kedua—cita-cita kemerdekaan itu diinterupsi. “Orba kembali mengundang modal asing untuk mengambil peran menentukan dalam ekonomi nasional,” jelasnya.

Situasi itu diperparah, ujar dia, ketika Republik Indonesia ketiga, yakni era liberalisme pasca reformasi, yang membuka pintu negeri seluas-luasnya bagi modal asing yang eksploitatif.

Karena itu, Wanandi menyerukan, di momentum Harkitnas ke-107, PRD mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memperjuangkan Republik Indonesia Keempat yang akan mewujudkan cita-cita kemerdekaan nasional.

“Mari mewujudkan Republik Indonesia keempat, dengan pijaknnya Pancasila sebagai dasar dan Trisakti sebagai jalannya, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur,” serunya.

Dalam seruannya, PRD Kupang mengajak warga Kupang yang sudah berusia 17 tahun atau sudah menikah, tanpa membedakan suku, agama, dan golongan, untuk bergabung dan berjuang bersama PRD untuk memperjuangkan Republik Indonesia Keempat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut