Perginya Pimpinan Gerilyawan Yang Berkacamata Tebal

Jumat malam, 4 November 2011, ribuan tentara Kolombia mengepung sebuah desa di distrik Cauca, yang terletak di bagian barat daya Kolombia. Helikopter dan serangan darat dilakukan bersamaan untuk memastikan tidak satupun gerilyawan meloloskan diri.

Dan, setelah melalui pertempuran sengit, seorang pria berjanggut dan berkacamata tebal ditemukan tewas di tempat. Ia adalah Alfonso Cano, pemimpin tertinggi Angkatan Perang Revolusioner Kolombia (FARC). Kematiannya dianggap pukulan telak bagi gerilyawan Marxist terbesar di Amerika Latin tersebut.

Padahal, pada jumat pagi, ia masih berhasil meloloskan diri dari serangan bom yang dihujankan oleh pesawat tempur militer. Tentara hanya menemukan pakaian, puntung rokok, dan anjing kesayaangannya. Tetapi rupanya militer Kolombia tidak memberinya kesempatan untuk berlari jauh. Dari Bogoto, Ibukota Kolombia, Presiden Juan Manuel Santos memerintahkan pengejaran.

Kematian Cano dianggap kemenangan besar oleh Presiden Santos. “Ini adalah pukulan telak kepada FARC,” kata Santos. Pada saat kampanye pemilu lalu, Presiden sayap kanan ini memang menjanjikan akan membasmi FARC hingga ke akar-akarnya.

Karenanya, setelah kematian Cano, Presiden Santos memerintahkan FARC segera mendemobilisasi diri. “Demobilisasi…atau anda akan berakhir di penjara atau di dalam kuburan,” kata Santos dalam konferensi persnya.

Tahun lalu, FARC juga kehilangan salah satu pimpinan kuncinya, Jorge Briceno (sering dipanggi “Mono Jojoy”). Jojoy juga tewas akibat serangan udara di daerah Macarena, salah satu basis pertahanan FARC. Tahun 2008, seorang komandan FARC lainnya, Raúl Reyes, juga tewas akibat serangan bom di perbatasan Ekuador.

FARC sendiri merupakan gerilyawan Marxist terbesar di Amerika Latin. Organisasi ini berdiri pada bulan Mei 1964. Selain FARC, ada juga kelompok bersenjata kiri lain yang dibentuk tahun itu, yaitu ELN (Tentara Pembebasan Nasional). ELN sangat terinspirasi oleh Che Guevara.

Pada tahun 1994, pasca negosiasi penghentian pertempuran dengan pemerintahan Belisario Betancour, gerilyawan FARC sempat sempat terlibat dalam pembentukan sebuah partai untuk terlibat dalam pemilu: Patriotic Union (UP). Di dalamnya ada partai komunis dan aktivis serikat buruh.

Tetapi sejak tahun 1997 militer Kolombia melanggar kesepakatan. Pihak militer telah menyerang FARC dan menangkap aktivisnya. Setidaknya 5000 anggota UP terbunuh oleh kebrutalan militer.

Pada tahun 1998, FARC berhasil memukul militer Kolombia. Mereka berhasil menyandera 500 tentara pemerintah, dan menggunakannya sebagai ‘senjata’ untuk memaksa pemerintah memulai perundingan.

Dalam perundingan itu, delegasi FARC dipimpin oleh Alfonso Cano. Ia juga pernah memimpin delegasi FARC dalam perundingan dengan pemerintah Kolombia di Caracas, Venezuela, pada tahun 1991. Lalu, ia juga tampil di perundingan Tlaxcala, Meksiko, tahun 1992. Tetapi kedua perundingan itu berakhir dengan kegagalan.

Selepas peristiwa 11 September di AS, yang dikenal sebagai lonceng dimulainya “perang melawan terror”, pemerintah AS dan sekutunya memasukkan FARC sebagai organisasi teroris yang setara dengan Al-Qaida.

FARC bukan organisasi teroris. FARC dibentuk oleh rakyat Kolombia sebagai respon terhadap tindakan pemerintah membunuh petani, buruh, dan aktivis kiri. Awalnya, organisasi ini merupakan unit pertahanan petani melawan tuan tanah, paramiliter, dan aparat pemerintah.

Hugo Chavez pun pernah menuntut AS dan Eropa menghapus FARC dan ELN dari daftar organisasi teroris. “Mereka adalah kelompok bersenjata yang punya tujuan, punya proyek, yaitu bolivarianisme. Dan kami menghormatinya,” kata Chavez.

Filsuf Yang Memegang Senjata

Alfonso Cano lahir di Bogota, Kolombia, pada 22 Juli 1948. Ia terlahir dari kalangan keluarga klas menengah. Ayahnya seorang ahli agronomi dan ibunya adalah seorang guru.

Ia memiliki nama asli Guillermo Leon Saenz. Pada tahun 1968, ia masuk jurusan antropologi di Universitas Nasional di Bogota. Tahun itu adalah era kebangkitan gerakan mahasiswa di seluruh dunia, termasuk Kolombia.

Saat itulah Cano mulai terlibat kelompok diskusi dan mempelajari marxisme. Ketertarikannya pada politik mengantarkannya untuk bergabung dalam sayap pemuda Partai Komunis Kolombia.

Sejak saat itu, Cano dituding sudah bersimpati terhadap FARC. Ia menjadi murid dari ideolog dan sekaligus pimpinan FARC, Jacobo Arenas. Tahun 1990an, Cano sudah mulai memainkan peranan sebagai tim negosiator FARC.

Dengan kacamata tebal yang menjadi ciri penampilannya, Alfonso dikenal sebagai seorang ahli teori yang handal. “ketika para pemimpin FARC berbicara mengenai peledakan jembatan, Cano justru memilih membaca buku,” ujar Carlos Lozano, editor koran Partai Komunis Kolombia, Voz (Suara Rakyat).

Pada tahun 2000, FARC mengalami serangkaian refresi dari militer. Agar tetap dapat mendapat dukungan dari gerakan massa, FARC menghidupkan dua mesin politik: (1) Partai Komunis Kolombia Klandestein (PCCC), yang berfungsi sebagai organ politik yang bergerak tertutup, dan (2) Movimiento Bolivarian por la Nueva Colombia (Gerakan Bolivarian Untuk Bolivia Baru.

Gerakan Bolivarian resmi dibentuk April tahun 2000. Organisasi politik ini diarahkan untuk menjangkau massa luas, khususnya pekerja, petani, dan mahasiswa. Gerakan Bolivarian menuntut keadilan sosial, kedaulatan nasional, redistribusi pendapatan, perlindungan HAM, pendidikan gratis, dan lain sebagainya.

Cano ditunjuk sebagai pemimpin Gerakan Bolivarian untuk Kolombia Baru ini. Pada tahun 2003, gerakan ini membentuk sayap pemuda bernama Gerakan Muda Bolivarian. Mereka berusaha merekrut mahasiswa-mahasiswa radikal dari berbagai kampus untuk terlibat dalam gerakan.

Alfonso Cano sendiri mengaku sebagai pengagum Simon Bolivar, pahlawan pembebas Amerika Latin dari penjajahan Spanyol. Ia pun menjadi penggagas berdirinya Continental Bolivarian Movement (MCB), yang sempat menggelar pertemuan di Caracas, Venezuela, pada Desember 2009.

Pada Maret 2008, pimpinan tertinggi FARC, Manuel Marulanda, meninggal karena serangan jantung. Alfonso Cano ditunjuk sebagai pemegang tongkat komando kepemimpinan partai.

Begitu ia terpilih, Cano pun mengumumkan rencana dialog dengan pemerintah. Tetapi Alvaro Uribe, yang menjadi Presiden Kolombia saat itu, segera mengobarkan peperangan terhadap FARC.

Uribe menganggap Alfonso Cano sebagai “teroris yang berpura-pura sebagai filsuf”.

Ketika Kolombia mengalami pergantian rejim, FARC tetap membuka “pintu” untuk dialog dan perdamaian. Tetapi, Manuel Santos menolak tawaran itu dan memulai “perang panjang” memerangi FARC.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut