Wawancara dengan Sonny Melencio : “Krisis Ini Hanya Bisa Diatasi Dengan Mengganti Sistem”

Krisis kapitalisme yang terjadi secara global telah melahirkan perlawanan masif di mana-mana, tidak terkecuali mulai tampak di Asia Tenggara. Berdikari Online berkesempatan mewawancarai salah seorang intelektual kelas buruh, tokoh gerakan kiri, dan pimpinan Partai Lakas ng Masa Filipina, Sonny Melencio, saat perjalanannya ke Jakarta pada akhir Oktober lalu. Pembicaraan menyangkut situasi di Filipina, Asia Tenggara, dan situasi ekonomi-politik secara global. Berikut petikan wawancara Berdikari Online (BO) dengan Sonny Melancio (SM).

BO: Kita mulai dengan situasi politik di Filipina secara umum, bisakah anda gambarkan kepada kami?

SM: Baik. Ada beberapa kampanye yang diorganisir oleh kaum kiri dan gerakan progresif. Pertama tentang kenaikan harga bahan bakar minyak, yang terjadi dua kali hampir setiap minggu. Ada kebijakan deregulasi yang mengijinkan perusahaan-perusahaan minyak untuk menaikkan harga minyak. Kami mengorganisir kampanye untuk menggagalkan deregulasi ini. Kenaikan harga minyak di Filipina membuatnya menjadi hampir yang termahal di Asia Tenggara, dan salah satu yang termahal di Asia. Juga ada kebijakan yang diadopsi oleh pemerintah yang mewajibkan konsumen harus membayar kepada produsen listrik, bahkan ketika mereka tidak menggunakannya.

Juga kami kampanye melawan buruh kontrak yang juga terjadi di Philippine Airlines. Sekarang pemogokan sedang berlangsung di kantor-kantor Philipine Airlines dan kami gunakan momentum ini untuk kampanye melawan sistem buruh kontrak.

Jadi segalanya berjalan berdasarkan standard oleh pemerintah. Tidak ada yang berubah, atau janji dilakukan pemerintahan di bawah presiden yang baru. Sebagai contoh kampanye melawan korupsi di kalangan pejabat pemerintahan. Para pejabat yang terlibat korupsi dikalangan pemerintahan tetap bebas dan melakukan hal yang sama (korupsi). Jadi situasi hampir sama, tapi popularitas presiden yang baru, Nonoy Aquino, telah menurun karena masalah ini.

BO: Jadi isu pemberantasan korupsi juga digunakan oleh pemerintahan di negeri anda untuk menaikkan popularitasnya?

SM: Ya, pemerintahan ini di bawah Nonoy Aquino menggunakan slogan bahwa bila tidak ada korupsi maka tidak akan ada kemiskinan. Itu dipakai untuk memenangkan pemilu. Jika tidak ada orang yang korup, maka kemiskinan melenyap.

BO: Apa pendapat anda mengenai slogan (korupsi) tersebut?

SM: Tidak benar. Korupsi merupakan salah satu penyebab kemiskinan. Tapi penyebab utamanya adalah penguasaan elit terhadap sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik. Itulah mengapa gerakan occupy di negara-negara maju fokus kepada hal tersebut, yaitu kontrol dari 1% populasi terhadap kekayaan. Ini juga terjadi di Filipina. Jadi tidak benar bahwa korupsi merupakan satu-satunya penyebab kemiskinan. Sekali lagi, penyebab yang utama adalah kontrol elit terhadap sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik. Presiden yang baru datang dari klan politik elit yang mengontrol sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik di negeri ini.

BO: Kita beralih ke persoalan krisis kapitalisme global, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa. Bagaimana pendapat anda? Apakah ini bisa disebutkan sebagai akhir dari era kapitalisme?

SM: Occupy Movement (gerakan pendudukan) yang meletus di beberapa negara, dimulai dari New York Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan kemudian menyebar ke beberapa negara lain sampai ke Asia disebut sebagai kunci bagi revolusi dunia. Ini adalah kebangkitan yang damai dari kaum muda. Kebangkitan ini dimulai oleh kaum muda, khususnya para pemuda pengangguran. Gerakan ini saling berhubungan dengan kebangkitan di Timur Tengah (Arab Spring) dan gerakan di Spanyol. Kaum muda bergerak memobilisasi diri melawan krisis ekonomi, melawan kapitalisme. Itulah mengapa sebagian media kadang menyebut kegiatan ini tidak beragenda. Mereka membodohi diri mereka sendiri, karena agendanya jelas anti-kapitalisme, dan banyak sekali tuntutan di sana. Aksi melawan krisis ekonomi yang semakin mendalam memaksa kekuatan-kekuatan kapitalisme melakukan banyak hal untuk mengatasi krisis, tapi mereka tidak sanggup mengatasinya.

Ini bukan persoalan melindungi kepentingan 1%, tapi persoalan melindungi kepentingan 99%.  Jadi solusinya harus berpihak kepada lebih banyak orang, tidak seperti yang dilakukan oleh pemerintah yang memilih menalangi (bailing out) bank daripada menalangi rakyat miskin yang sangat kesusahan semasa krisis. Saya kira ini akan berlanjut karena tidak ada solusi terhadap krisis kapitalisme. Satu-satunya solusi adalah yang disampaikan oleh para peserta “Gerakan Pendudukan” yaitu mengganti sistem.

BO: Apakah krisis ini akan berdampak ke Asia Tenggara?

SM: Negeri-negeri Dunia Ketiga sudah mengalami krisis sejak lama. Jauh sebelum krisis kapitalisme terjadi di negeri-negeri kapitalis maju dewasa ini. Dalam kasus Filipina, satu-satunya cara rakyat Filipina mendapatkan uang, ketika memasuki masa krisis, adalah dengan mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri. Jutaan orang Filipina bekerja di luar negeri. Jadi sekarang pemerintah bukan lagi mengekspor barang, tapi mengekspor tenaga kerja.

Sebenarnya, keberadaan buruh di Filipina terbentuk melalui investasi asing yang panjang/lama. Jumlahnya sangat besar, lebih besar dari investasi asing di Filipina beberapa tahun lalu. Apa yang disebut sebagai pembangunan. Salah satu cara untuk membenahi krisis kapitalisme di negeri-negeri maju adalah eksploitasi tenaga kerja murah; dengan mengimpor buruh murah atau investasi di negeri-negeri yang upah buruhnya murah.

BO: Menurut anda, bagaimana peran kaum kiri dalam situasi ini?

SM: Persoalan besar yang kita hadapi bagi setiap usaha untuk memimpin revolusi adalah kapasitas dari kaum kiri untuk melakukannya. Ini selalu persoalan kepemimpinan dari kaum kiri. Kita berada dalam situasi di mana kaum kiri terpecah belah. Dan keterpecahan ini berkontribusi terhadap (berkurangnya) kapasitas kaum kiri untuk memimpin gerakan yang berkembang.

Tapi situasi ini tetap terjadi, rakyat tetap bangkit meskipun kita (kaum kiri) tidak memimpin. Perlawanan tetap terjadi. Di negeri-negeri kapitalis maju perlawanan terjadi secara masif, dan tanpa pengorganisiran atau kepemimpinan oleh kaum kiri. Mereka datang begitu saja, karena ini menyangkut suatu sentimen.

Ini juga yang terjadi dalam pemberontakan militer. Di Filipina, sebagian perwira militer melakukan perlawanan terhadap sistem tanpa ada pendampingan oleh kaum kiri. Mereka terpolitisasi oleh sistem yang tidak adil. Jadi, bilapun kita tidak melakukan apa-apa, perlawanan ini terjadi; sistem akan mempolitisir dan meradikalisir rakyat.

BO: Terkait hal ini, kami mendengar rencana anda mengadakan sebuah konferensi regional di Manila. Bisa diceritakan rencana anda dan apa yang diharapkan dari konferensi ini?

SM: Akan ada tim untuk Konferensi Sosialisme yang akan diadakan pada akhir November ini. Konferensi akan mengambil tema “Krisis Kapitalisme dan Kebangkitan Global”. Kita akan membahas fenomena ledakan “people power” dan juga bahwa kekuatan yang mendahului datang dari pusat kapitalisme.

Kami harapkan akan ada diskusi-diskusi seputar masalah ini. Jadi kami juga mengundang sejumlah tamu dari  sejumlah partai kiri terutama jaringan di Asia Tenggara untuk mendiskusikan soal Gerakan Pendudukan, krisis kapitalisme, dan lingkungan hidup. Dan kami berusaha untuk memperoleh sebuah strategi sebagai arah bersama sehingga kita mengetahui apa yang harus dilakukan dalam situasi ini di Asia Tenggara. (sekian)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut