Natan Blanc, Pemuda Israel Yang Menolak Wajib Militer

Natan Blanc, pemuda Israel berusia 19 yang menolak melayani militer Israel (Israel Defense Forces/IDF), kembali dijatuhi hukuman penjara 9 hari pada hari Kamis (18/4) lalu.

Sanksi militer ini dijatuhkan karena Natan Blanc menolak wajib militer. Memang, sejak November 2012, Natan Blanc menolak perintah militer karena tidak setuju dengan aksi militer negerinya, Israel, terhadap Palestina.

Gara-gara sikapnya itu, Natan Blanc sudah 9 kali keluar-masuk penjara militer karena kasus yang sama. Ia pun telah menghabiskan lebih dari 150 hari di dalam penjara militer Israel.

Kepada media Inggris, Guardian, Natan Blanc pernah membeberkan alasan penolakannya. Ia mengatakan, kesadarannya menolak melayani militer mulai muncul sejak operasi  Cast Lead, yakni operasi penyerbuan terhadap Gaza pada tahun 2008 dan menyebabkan 1400 orang Palestina tewas.

Ia tak setuju dengan gelombang militerisme agressif yang dipertontonkan oleh Israel. Dia bilang, “pemerintah tidak tertarik untuk mencari solusi atas persoalan yang terjadi, tapi lebih berjaga-jaga…Kita berbicara tentang pencegahan, kita membunuh beberapa teroris, tetapi kami kehilangan warga sipil di kedua belah pihak.”

Menurutnya, sebagai warga negara dan manusia, ada kewajiban moral untuk menolak terlibat dalam permainan itu. “Kami tidak mau menyediakan tanah untuk generasi baru yang penuh kebencian di antara kedua belah pihak,” katanya.

Di Israel, ada kewajiban militer terhadap setiap pemuda-pemuda yang sudah dewasa. Tiga tahun untuk pemuda dan dua tahun untuk pemudi. Biasanya, kewajiban militer itu datang di akhir-akhir sekolah. Akibatnya, semangat militerisme sangat kuat tertancap di dalam kesadaran kolektif anak-anak muda Israel.

Mereka yang menolak kewajiban militer akan dicap anti-patriotisme. Banyak yang menolak karena alasan kesehatan. Ada juga karena sikap pasifisme dan anti-militerisme.

Namun, pada kenyataannya, sangat sedikit pemuda Israel yang menolak wajib militer karena alasan moral. Sejak November 2012, kata Natan, hanya ada 300-400 tahanan di penjara militer nomor 6—tempat mereka yang menolak wajib militer.

Pada tahun 2003, Haggai Matar adalah salah satu penolak wajib militer yang sempat menghiasi media. Gara-gaara itu, Haggai menghabiskan waktu sedikitnya 2 tahun di penjara Israel—tidak berturut-turut, tetapi keluar masuk.

Natan Blanc berasal dari Haifa, kota terbesar di utara Israel. Ia belajar perfilman di sekolah tinggi. Natan berasal dari latar-belakang keluarga aktivis politik. Ia sering ikut orang tuanya dalam aksi demonstrasi menentang pendudukan.

“Melayani militer tidak hanya mempengaruhi kehidupan anda, tetapi juga kehidupan orang lain. Anda harus punya hati nurani yang bersih. Anda harus berfikir hati-hati sebelum ambil bagian dalam pendudukan dan perang,” katanya.

Bagi Natan, sejak berada di bawah pendudukan militer Israel, rakyat Palestina kehilangan demokrasi dan kesempatan menentukan nasibnya sendiri.  “Saya tidak mau ambil-bagian dalam segala hal yang bertentangan dengan nurani saya sebagai manusia,” kata Natan.

Jadi, dengan kasus Natan ini, mudah-mudahan mata kita terbuka bahwa konflik Israel bukanlah konflik agama ataupun ras. Ini murni penindasan nasional alias penjajahan oleh Israel terhadap Palestina. Dan penjajahan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut