Hari-Hari Menjelang Kudeta

Machuca (2004)
Sutradara: Andrés Wood
Penulis: Roberto Brodsky, Mamoun Hassan dan Andrés Wood
Tahun Produksi: 2004
Durasi: 120 menit
Pemain: Matías Quer, Ariel Mateluna, Manuela Martelli dan Ernesto Malbrán.

Kisah ini dimulai dari sebuah sekolah dasar elit di kota Santiagi, Chile. Nama sekolah itu adalah Saint Patrick. Sekolah itu dipimpin oleh seorang Imam progressif, bapak  McEnroe. Di bawah kebijakannya, anak-anak miskin di sekitar sekolah diberi kesempatan untuk menikmati pendidikan di sekolah elit ini.

Kebijakan inilah yang memungkinkan Gonzalo Infante (Matías Quer), anak seorang keluarga kaya di Chile, bisa berteman dengan anak dari keluarga miskin bernama Pedro Machuca (Ariel Mateluna). Perkawanan dua anak dari latar-belakang kelas yang berbeda ini cukup menarik. Gara-gara bertemu dengan orang miskin, Gonzalo akhirnya bisa masuk ke gubuk-gubuk kumuh dan bersentuhan langsung dengan orang miskin. Sebaliknya, karena berteman dengan anak orang kaya, Machuca bisa melihat betapa istimewanya menjadi anak keluarga kaya: punya sepatu adidas, pakaian yang banyak, punya koleksi komik Lone Ranger, dan lain-lain.

Machuca kemudian mengenalkan Gonzalo dengan seorang teman perempuannya, Silvana (Manuela Martelli), anak dari seorang penjual bendera. Gara-gara itu, Gonzalo sering mendatangi berbagai aksi demonstrasi, baik oposisi maupun pendukung Presiden Salvador Allende, demi menjual bendera.

Kisah ini diangkat oleh sutradara Chile, Andrés Wood, ke layar lebar melalui film berjudul “Machuca”. Film ini mengambil latar belakang Chile menjelang kudeta militer tahun 1973. Saat itu, kehidupan politik Chile sudah mencapai titik didihnya. Di satu sisi, Salvador Allende semakin menegaskan komitmennya untuk mewujudkan sosialisme di Chile. Sementara sayap kanan, yang sebagian besar kaum kaya dan borjuis kecil, semakin khawatir dengan proyek sosialisme itu.

Di film ini, Andrés Wood berusaha menggambarkan keadaan itu. Aksi demonstrasi mewarnai jalanan Chile setiap hari. Tembok-tembok berisi poster berisi seruan propaganda. Orang-orang kaya mulai berfikir untuk meninggalkan Chile dan hidup nyaman di negara lain. Sementara orang miskin menaruh harapan besar terhadap proyek revolusi sosialis, yang memang bercita-cita mendistribusikan kekayaan agar lebih adil.

Ada banyak hal menarik di film ini. Kita bisa melihat respon orang kaya terhadap ide progressif kepala sekolah, bapak imam McEnroe. Bagi orang kaya, pengintegrasian orang miskin di sekolah elit adalah upaya “memerahkan” sekolah tersebut. Orang kaya juga menuding proyek memasukkan orang miskin ke sekolah elit dengan biaya gratis sebagai bentuk paternalisme. Alasannya, karena si miskin tidak membayar atas apa yang mereka dapatkan. Sementara bagi pendukung proyek Bapak Mc Enroe, pendidikan adalah hak demokratis setiap orang dan setiap warga negara harus diberi kesempatan yang sama.

Yang menarik juga, metode memukul panci dan wajan—sebagaimana dipraktekkan oposisi sayap kanan di Venezuela saat ini—juga dipergunakan oleh oposisi sayap kanan Chile. Inilah yang janggal: mereka lebih suka menciptakan kebisingan ketimbang menyampaikan pesan protes mereka secara damai. Hanya yel-yel ini yang terdengar jelas: “Komunis, bajingan! hidup dari negara.”

Namun, bagaimanapun mau dipersatukan, perbedaan klas tetap saja tak bisa menyatukan dua anak itu. Dan itu terlihat ketika Silvana, anak si penjual bendera itu, bertengkar dengan perempuan kaya saat demonstrasi oposisi. Ibunya Gonzalo, María Luisa Infante, memaki Silvana dengan sangat kasar. “Pergi kau perempuan rendahan!” katanya dengan suara keras. Penghinaan itu kembali terjadi saat Machuca dan Silvana berusaha melarikan sepeda milik Gonzalo. Gonzalo berteriak, “rakyat jelata sialan!”

Dan perbedaan klas itu makin nampak saat kudeta meletus: 17 September 1973. Orang-orang miskin, dengan rumah gubuknya dan pakaian lusuhnya, dengan gampang dituduh sebagai orang komunis. Sementara Gonzalo, yang datang menyaksikan ke penangkapan orang-orang miskin pendukung Allende itu, bisa lolos karena warna kulit, pakaian mewah dan sepatu adidas-nya.

Dalam film ini, Andrés Wood juga memperlihatkan sekilas tentang kudeta militer itu. Pesawat tempur militer memborbardir Istana Kepresidenan Chile, La Moneda Palace, tempat Presiden Allende berada. Pidato Pinochet di layar Televisi setelah berhasil. Dan propaganda menyesatkan dari media perihal Salvador Allende.

Di bawah kudeta militer, sekolah-sekolah dijaga tentara. Murid-murid diperlakukan layaknya “sekolah militer”. Rambut mereka dipangkas. Dan kepala sekolah yang progressif, bapak  McEnroe, digantikan oleh seorang militer. Begitu ditangan militer, sekolah elit itu dibersihkan dari orang miskin. “Tidak boleh lagi ada siswa yang tidak membayar,” kata si kepala sekolah baru yang orang militer itu. Dan memang, sejak kediktatoran Pinochet berkuasa, pendidikan di Chile telah diprivatisasi.

Begitu Pinochet berkuasa, pembantaian, penyiksaan, penculikan, penghilangan orang terjadi di mana-mana. Data resmi menunjukkan, diktator kejam itu menyebabkan 3.095 orang dibunuh, 28 ribu orang disiksa, dan 1200 orang hilang tanpa jejak. Ironisnya, ketika pembantaian itu terjadi, FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) mengklaim situasi Chile dalam keadaan “normal”.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut