Pemimpin Karismatik

Di tengah banyaknya persoalan bangsa saat ini, seperti kemiskinan, bencana alam, korupsi dsb, sebagian besar rakyat Indonesia mengidam-idamkan sosok pemimpin yang kharismatik. Bahkan tidak sedikit yang bermimpi akan datangnya Sang Mesias, yang akan membebaskan rakyat dari berbagai penindasan dan ketidakadilan.

Pemimpin sekarang memang sangat payah. Jangankan diharap bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi rakyat, memiliki rasa empati dan kepedulian pun hampir tidak ada. Terlebih, pemimpin sekarang berupaya menjadikan politik pencitraan, yaitu gaya kepemimpinan yang dibuat-buat seolah-olah seperti bekerja dan mencintai rakyat, tetapi kenyataannya justru berbeda.

Bung Karno merupakan salah satu pemimpin kharismatik dalam sejarah Indonesia. Rakyat banyak yang mengikuti Bung Karno, pemimpin besarnya, yang telah membawa mereka ke arah kemerdekaan, yang mengerti dengan baik dan meresapi dengan halus jiwa dari rakyat, dan pidato-pidatonya yang terus membangkitkan rakyat untuk meraih masa depan yang gemilang.

Sekarang ini, setelah sekitar 30 tahun kepergiannya, masih banyak orang yang mengagumi gaya kepemimpinannya, bahkan tidak sedikit yang mengharapkan orang semacam Soekarno kembali memimpin bangsa ini.

Seorang pemimpin kharismatik bisa dilihat beberapa hal; pertama, lahir dari pandangan mistik yang sulit dijelaskan secara ilmiah, misalnya kepercayaan, tradisi, dan lain sebagainya. kedua, pemimpin yang dilahirkan produk dari kondisi sosial tertentu.

Yang pertama sering mengacu mitos masyarakat yang mesian, seperti harapan datangnya sang ratu adil, yang akan menegakkan kembali “zaman lama yang indah” dan membentuk masyarakat tenteram dan damai. Dalam sejarah masyarakat Indonesia, mitos mesian seringkali menjadi faktor pembentuk kesetiaaan sebagian besar masyarakat terhadap pemimpin tertentu.

Sementara yang kedua seringkali mengacu pada lahirnya pemimpin-pemimpin politik di saat kesulitan rakyat sudah di puncak. Pemimpin seperti ini memiliki kelebihan-kelebihan secara personal, seperti intelektualitas, keberanian, pengorbanan, dan kepiawaian, sehingga bisa menyatukan masyarakat untuk keluar dari berbagai persoalan yang melilit.

Sikap-sikap seperti intelektualitas, keberanian, pengorbanan, dan kepiawaian itulah yang sekarang ini absen dalam kepemimpinan politik nasional. Sebaliknya, sebagian besar pemimpin politik sekarang ini, termasuk SBY, adalah pemimpin yang tidak cakap, peragu, dan kurang empati terhadap persoalan rakyat.

Ada banyak kritikan terkait lemahnya kepemimpinan politik SBY, seperti sering ditemukannya perbedaan antara ucapan dan tindakan, sangat lamban dalam merespon persoalan bangsa, dan tidak sanggup menegakkan otoritas terhadap bawahannya.

Begitu pula dengan elit politik yang lain, khususnya anggota parlemen, yang justru bertindak secara berlawanan dengan aspirasi umum masyarakat. Ketika rakyat sedang kesusahan dan tertekan oleh kemiskinan, para anggota parlemen ini justru menghamburkan uang negara untuk proyek-proyek tidak bermanfaat, seperti studi banding ke luar negeri dan proyek-proyek lainnya.

Tidak mengherankan, karena besarnya ketidakpercayaan rakyat terhadap elit politik dan politisi, maka mereka tak lagi berharap lahirnya pemimpin kharismatik dari dunia politik. Sebaliknya, rakyat justru menemukan pemimpin-pemimpin kharismatik di tengah komunitasnya, seperti masyarakat Merapi yang takjub dengan sosok Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi yang menjalankan tugasnya sampai akhir hayatnya.

Alih-alih pidato SBY bisa membangkitkan gairah rakyat untuk berjuang keluar dari persoalan, sebagian besar pidatonya adalah keluhan, serangan terhadap lawan politik, dan retorika kosong.

Tidak mengherankan, seperti dalam kasus bencana alam, sangat sedikit rakyat yang mau mendengarkan pemerintah. Bahkan rakyat tidak sedikit yang tidak menghiraukan pemerintah. Ini berhubungan dengan pengalaman sosial, dimana rakyat sudah sangat sering dibohongi oleh pemerintah.

Plekhanov, seorang Marxist Rusia, pernah menjelaskan bahwa seorang pemimpin kharismatik bisa mendapatkan popularitas sepanjang bisa merespon kebutuhan mayoritas rakyat yang hidup dalam ketimpangan dan ketidakadilan.

Seorang pemimpin, karenanya, harus bisa memahami tahap perkembangan sejarah, bisa melihat masa depan, dan menyakinkan rakyat untuk menuju masyarakat baru.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut