Pemerintah “Obral Murah” Krakatau Steel

PT Krakatau Steel, perusahaan baja terbesar di Indonesia yang dibangun semasa pemerintahan Bung Karno, hendak dijual murah oleh SBY kepada pihak asing.

Rencana ini sudah tercetus sejak tahun 2008, ketika SBY berniat mengobral 44 BUMN Indonesia kepada asing, yang mana PT. Krakatau Steel masuk di dalamnya. Untuk menjalankan rencana ini, pemerintah telah memutuskan opsi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Krakatau Steel.

Tidak tanggung-tanggung, Kementerian BUMN membandrol harga saham Krakatau Steel sama dengan harga kerupuk, yaitu Rp850 per-lembarnya. Jumlah saham yang akan dilepas mencapai 3,1 miliar atau sekitar 20 persen saham dari total modal disetor.

Peran Strategis Krakatau Steel

Melalu uluran tangan Soviet, Bung Karno berhasil membangun pabrik baja Trikora pada 1962, lalu berubah nama menjadi PT Krakatau Steel.

Bung Karno punya keyakinan sangat besar, bahwa ekonomi nasional yang kuat dan mandiri harus didukung oleh Industri dasar yang kuat pula, salah satunya, industri besi dan baja.

Sayang sekali, rejim Soeharto dan sesudahnya tak satupun yang memperhatikan pembangunan industri nasional ini, bahkan PT Krakatau Steel seperti berjalan di tempat, tidak ada kemajuan dan dorongan.

PT. Krakatau Steel tetap memiliki kapasitas produksi mencapai 2,5 juta ton per tahun dan merupakan industri baja terpadu terbesar di Asia Tenggara.

PT Krakatau Steel memiliki enam pabrik berbasis baja, yaitu: Pabrik Besi Pons, Pabrik Billet Baja, Pabrik Batang Kawat, Pabrik Slab Baja, Pabrik Pengerolan Baja Canai Panas (HSM), dan Pabrik Pengerolan Baja Canai Dingin (CRM).

Dalam ekonomi nasional, PT. Krakatau Steel memegang peranan yang menentukan, yaitu memegang 60% kebutuhan baja nasional dan menjadi basis untuk kepentingan industrialisasi di dalam negeri. Hampir 95% peralatan logam yang dipergunakan manusia berasal dari baja, sehingga industry baja sangat penting bagi perekonomian suatu bangsa.

Industri baja sangat terkait dengan infrastruktur transportasi, pembangkit listrik, pelabuhan, rel kereta, air bersih, gudang dan perbengkelan, kompleks perumahan, rumah sakit, dan sebagainya.

Alasan Menjual Saham Krakatau Steel

Alasan utama kenapa pemerintah berkeinginan keras menjual saham PT. Krakatau Steel adalah efisiensi dan penaikan produktifitas.

Entah dengan rumus dan teori apa, pemerintah berkeyakinan bahwa privatisasi akan memicu produktifitas, sehingga Krakatau Steel bisa mencapai kapasitas 5 juta ton per tahun.

Maklum, sejak berdirinya hingga sekarang, kapasitas produksi PT. Krakatau Steel baru mencapai 2,5 juta ton. Itupun, PT. Krakatau kadang merugi setiap tahunnya.

Dengan menjual PT.Krakatau Steel, pemerintah “bermimpi” mendapatkan suntikan modal sehingga bisa memacu produksi.

Namun, alih-alih memicu produksi dan efisiensi, strategi privatisasi justru menggeser monopoli produksi baja nasional ke tangan asing dan tidak jarang menjadi sarang korupsi besar-besaran.

Persoalan Terbesar Krakatau Steel

Persoalan terbesar PT. Krakatau Steel terletak di kesalahan kebijakan pemerintah.

Pertama, Krakatau Steel mengalami kekurangan pasokan bahan baku, seperti bijih besi, bijih mangan, bijih chrom, bijih nikel, kapur dan dolomit. Keseluruhan bahan baku itu dapat disediakan oleh alam Indonesia, namun pemerintahan SBY-lah yang mengekspornya dengan harga sangat murah ke luar negeri.

Kedua, produksi Krakatau Steel terkendala oleh kurangnya pasokan energy, khususnya listrik, sehingga industri baja tidak bisa beroperasi secara maksimal.

Sayang sekali, lagi-lagi SBY membuat kesalahan besar ketika mengekspor murah batu bara Indonesia ke luar negeri, sementara kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi.

Indosat Jilid II

Politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, menyamakan kasus penawaran IPO Krakatau Steel dengan kasus “obral murah” PT Indosat kepada korporasi asing, Temasek.

“Jadi, ini cerita Indosat seri kedua,” ujarnya.

Amin mencurigai adanya ketidakberesan dengan penetapan harga IPO PT.Krakatau Steel dengan sangat murah.

Sementara kolega Amien Rais lainnya, Drajad Wibowo menganggap penetapan harga terlampau murah itu sebagai ‘kebangeten’.

Drajad dan Amien Rais sama-sama mencium adanya aroma tidak sedap, seperti korupsi, mark-up, dan konspirasi, dibalik penetapan harga murah saham Krakatau Steel ini.

Merugikan Kepentingan Nasional

Jika saham PT.Krakatau Steel tetap dijual, maka hal itu akan semakin memperbesar kepemilikan asing terhadap produksi baja nasional.

Situasi ini juga akan merugikan kaum buruh, karena semakin terancam oleh pemecatan massal dan outsourcing. Masyarakat dan gerakan sosial pun akan disingkirkan.

Lebih jauh lagi, jika modal asing mulai mengontrol produksi baja nasional, maka ini akan berpengaruh terhadap industri hilir yang bergantung pada hasil produk PT Krakatau Steel.

Dengan demikian, adalah tidak masuk akal pemerintah menggebu-gebu hendak membangun industry nasional, sementara program privatisasi dan dominasi modal asing masih berjalan terus.

Pemerintah tidak perlu alergi dengan nasionalisme ekonomi, jikalau hal itu memang mutlak diperlukan dalam membangun ekonomi nasional kita secara mandiri dan berdaulat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut