Pelantikan Di Kampung Kumuh

Gubernur DKI Jakarta yang baru, Joko Widodo, tampaknya berjuang keras mengubah wajah dan watak birokrasinya. Ia sangat berkeinginan menjadikan semua pejabat/birokrat dan aparatur di bawahnya benar-benar berfungsi sebagai pelayan rakyat.

Karena itu, ketika sedang jalan-jalan ke kampung-kampung, ia selalu mengajak serta Kepala-Kepala Dinas dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jokowi sangat berharap, para Kepala Dinas dan SKPD juga bisa mengenal keadaan. Dengan demikian, mereka pun bisa responsif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh rakyat.

Namun, langkah Jokowi tidak terhenti di situ. Kemarin, 20 Desember 2012, Ia melantik Walikota Jakarta Timur yang baru dan wakilnya di sebuah lapangan di tengah-tengah perkampungan kumuh  Pulo Jahe, Cawang, Jakarta Timur. Konon, lapangan itu adalah bekas rawa-rawa dan tempat pembuangan sampah.

Tak pelak lagi, Krisdianto, Walikota Jak-Tim yang baru itu, tampak bercucuran keringat. Maklum, acara pelantikan itu berlangsung ruang terbuka. Tak ada pendingin ruangan. Rakyat banyak pun bisa menyaksikan secara langsung acara pelantikan itu tanpa berjarak.

Mengenai acara pelantikan yang tak lazim itu, Jokowi hanya bilang, “pelantikan biasanya dilakukan di gedung, di balai kota, di kantor wali kota. Tapi hari ini kita lakukan di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah rakyat.”

Orang bisa menyindir sepak-terjang Jokowi ini sebagai aksi mencari sensasi. Tapi, orang-orang itu harus mengingat, bahwa Republik Indonesia ini juga diproklamirkan secara  sederhana di halaman rumah Bung Karno: tidak ada pesta, tidak ada musik, tiang benderanya pun dari bambu yang baru dipotong, dan tidak ada seragam khusus peserta upacara.

Bandingkan dengan pelantikan Walikota di tempat lain: pelantikan Bupati Aceh Besar menghabiskan Rp 514,6 juta; pelantikan Lhokseumawe (Aceh) menghabiskan Rp 289,5 juta; pelantikan Walikota Tangeran Selatan (Banten) menghabiskan Rp 230 juta; pelantikan Walikota Batu (Jawa Timur) menghabiskan Rp 200-an juta.

Jokowi berharap, dengan menggelar acara pelantikan di tengah perkampungan kumuh, pejabat Walikota yang baru itu bisa menangkap persoalan yang dialami oleh rakyat di daerah kerjanya. Memang, pengenalan lapangan memang hal penting bagi pemerintahan Jokowi-Basuki.

Maklum, sekarang ini banyak pejabat, bahkan termasuk Presiden, tidak tahu persoalan yang dialami rakyat. Buktinya, banyak kebijakan Presiden yang tidak “nyambung” dengan keinginan rakyat, seperti penghapusan subsidi, liberalisasi impor, privatisasi, pemberlakuan sistem kerja kontrak dan outsourcing, pengelolaan SDA yang pro-korporasi asing, dan lain-lain.

Selain itu, Jokowi berharap, prosesi pelantikan di tengah perkampungan kumuh itu bisa memangkas jarak pejabat dengan rakyat. Sudah bukan rahasia lagi, pejabat di negeri ini sering tampil sebagai kelompok elit di tengah rakyat. Kehidupan mereka sangat bertolak-belakang dengan rakyat kebanyakan. Akhirnya, ketika mereka kunjungan ke basis rakyat, kehadiran pejabat itu tak ubahnya penampakan “makhluk asing” dari planet lain.

Jakarta tak akan berubah jika mental birokratnya tak berubah. Karena itu, perombakan mental birokrasi tak bisa ditawar-tawar lagi. Mereka harus dipaksa mengenal keadaan. Hati mereka harus dipaksa peka melihat penderitaan rakyat di sekitarnya. Kalau tetap tak berubah, ya, pecat saja.

Perubahan mental itu tak cukup sekedar peka. Namun, yang lebih penting, cara pandang mereka terhadap kekuasaan harus diubah. Seperti kata Jokowi sendiri: “Jabatan itu bukan untuk sebuah kuasa. Jabatan itu adalah untuk melayani. Jabatan itu adalah untuk bekerja kepada masyarakat.” Merombak corak berfikir memang bukan pekerjaan gampang, tapi bukan berarti tidak mungkin.

Jokowi baru memulai. Sepak-terjangnya memang masih nampak sebagai sebuah ide-ide besar. Maklum, ia bergerak dalam ruang politik yang sangat terbatas. Namun, sejarah mengajarkan kepada kita, ide-ide besar tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa gerakan massa-rakyat. Karena itu: tugas kita adalah mengorganisir massa-rakyat di lingkungan masing-masing untuk membantu Jokowi menerjemahkan ide-ide besarnya dalam praktek konkret.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut