Kisah Sukses Long March Petani India

Metode aksi jalan kaki (long march) bukanlah hal baru bagi gerakan tani. Di belahan dunia lain, aksi long march sudah seringkali dilakukan. Jumlah peserta aksi dan jarak tempuhnya pun tidak main-main.

Pada tahun 2001, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista–organisasi politik yang menghimpun petani dan masyarakat adat–menggelar aksi long-march sejauh 2000 mil (Chiapas-Mexico City) untuk menuntut demokrasi dan hak-hak masyarakat adat.

Pada tahun 1997, Gerakan Petani Tak Bertanah (MST) di Brazil menggelar aksi long march ribuan kilometer. Mereka membentuk tiga barisan melintasi sejumlah wilayah selama dua bulan menuju Ibukota Brazil, Brazilia.

Tahun 2005, MST kembali menggelar aksi long march ribuan kilometer. Sebanyak 12.000 laki-laki, perempuan, dan anak-anak bergabung dalam aksi long-march untuk menagih janji reforma agraria.

Di Asia, aksi long march juga pernah dilakukan oleh petani di Tiongkok dan India. Nah, tulisan pendek ini mau berkisah tentang sukses aksi long march petani India.

Aksi long-march oleh petani India diselenggarakan pada Oktober 2012 lalu. Sebanyak 60.000 petani dan masyarakat adat Dalit bergabung dalam aksi longmarch dari Gwalior di Madhya Pradesh menuju New Delhi, Ibukota India. Jarak yang ditempuh berkisar 350 kilometer.

Aksi ini digelar oleh sebuah gerakan sosial bernama Ekta Parishad, yang menghimpun sekitar 2000-an organisasi rakyat, termasuk petani, di seantero India. Gerakan sosial ini sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran bapak nasional India, Mahatma Gandhi.

Tuntutan pokok aksi long-march ini adalah mendesak pemerintah segera memberikan tanah kepada petani tak bertanah di India. Selain itu, mereka juga menuntut jaminan hidup yang lebih baik, termasuk perumahan, terhadap kaum tani di wilayah pedesaan India.

Aksi long-march ini dipersiapkan cukup lama. Pada tahun 2007, pemerintah India membentuk semacam Komite Reformasi Agraria. Namun, organisasi itu tidak pernah berjalan sebagaimana mestinya. Mereka juga tidak pernah memanggil organisasi petani untuk membahas langkah-langkah yang mau diambil.

Petani pun sangat kecewa. Tahun itu juga,  Ekta Parishad melakukan kunjungan ke seantero India untuk berkampanye tentang hak petani atas tanah. Mereka menghubungi berbagai organisasi lokal dan menyakinkan mereka akan perlunya sebuah tekanan yang bersifat nasional.

PV Rajagopal, aktivis pengikut ajaran Gandhi dan sekaligus pendiri gerakan Ekta Parishad, menjelaskan perjalanannya ke seantero India itu: Setahun yang lalu, saya meninggalkan Delhi dan ke Rajghat, tempat Gandhi beristirahat. Kemudian saya melakukan perjalanan ke seluruh pelosok negeri. Saya melakukan perjalanan sejauh 80,000 km, melintasi 24 Provinsi and 350 kabupaten.”

Dari perjalanan itu, Rajagopal bertemu dengan ribuan orang dengan kasus yang sama: konflik agraria. Dia juga mendengar cerita dan pengakuan petani mengenai perampasan lahan mereka. Dan dari situlah sebuah gerakan nasional dirancang dan dipersiapkan.

Seiring dengan intensitas neoliberal di India, banyak perusahaan asing menyerbu masuk India. Mereka kemudian membeli dan merampas tanah-tanah milik petani dan masyarakat adat/pedalaman.

India memang masih negeri agraria. Sekitar 70% penduduknya masih menggantungkan hidupnya pada tanah. Setelah India merdeka tahun 1947, pemerintah memang menjalankan sejumlah reformasi agraria. Meski demikian, masih ada 20% rakyat India yang hidup tanpa tanah.

“Pemerintah selalu mengatakan kepada rakyat bahwa tidak ada lagi tanah yang tersedia untuk rakyat. Namun, ketika perusahaan besar seperti Tata dan Vedanta yang meminta tanah, pemerintah langsung menyiapkan tanah seluas 5000-10000 hektar dalam 15 menit,” kata Rajagopal.

Karena ketiadaan tanah itu, banyak petani tak bertanah harus bekerja di tanah orang lain. Mereka mendapat upah 5 kg gandum atau 100 rupee (£ 1.18) untuk delapan jam bekerja.

Begitulah aksi long march itu dipersiapkan. Dan ketika dilangsungkan, 60.000 petani, termasuk kaum perempuan, berbaris rapi di sepanjang jalan dengan mengangkat bendera kecil warna hijau-putih.

Gerakan mendapat dukungan luas. Media massa juga tidak bisa menghindar untuk tidak meliput gerakan ini. Akhirnya, partai berkuasa, yakni partai Kongres, yang memang basis dukungannya dari wilayah pedesaan, langsung ketar-ketir.

Menteri Pembangunan Pedesaan India, Jairam Ramesh, langsung mengajak petani melakukan negosiasi. Tanpa negosiasi panjang, Si Menteri langsung menyetujui semua tuntutan petani. Tanda-tangan kesepakatan kemudian diperlihatkan kepada puluhan ribu peserta long-march yang sudah berkumpul di Agra, Uttar Pradesh.

Perjuangan petani miskin pun menang!

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut