Pedagang Bugis Dan Berdirinya Singapura

Teman saya yang baru pulang jalan-jalan di Singapura dengan bangga mengatakan, ada Bugis Street di Singapura. Artinya, kata dia, ada sejarah dimana orang Bugis pernah berkembang pesat di Singapura.

Saya hanya melongo. Ya, itu bisa saja terjadi, pikirku. Sebab, karakter pedagang memang menempatkan manusia Bugis di mana saja. Termasuk di Singapura. Jangankan di Singapura, jejak-jejak manusia Bugis juga bisa ditemukan di Malaysia, Philipina, dan Thailand.

Tiba-tiba saya membaca buku Christian Pelras, Manusia Bugis. Di bagian agak akhir buku setebal 449 halaman itu, ada penjelasan soal pedagang Bugis pada abad ke-19 dan berdirinya Singapura.

Pelras bilang, pedagang-pedagang Bugis membangun jaringan perdagangan melalui pelabuhan-pelabuhan nusantara. Nah, pelabuhan paling penting disebut entrepot (pusat niaga pantai) di Kepulauan Riau. Di situ, orang Bugis melakukan perdagangan secara bebas tanpa campur Belanda.

Pelras, yang mengutip penulis bernama Philip Curtin, mengatakan, pedagang Bugis segera menyangi pedagang Belanda di Malaka. Kata Pelras, pedagang Belanda menerapkan kebijakan jangka panjang unit profit (laba per barang) tinggi. Akibatnya, penjualannya rendah. Sedangkan pedagang Bugis membuka Riau buat semua pedagang. Jadinya, bukan cuma pedagang bugis dan makassar yang datang, tetapi juga pedagang Tionghoa, Inggris, Thailand, dan Jawa. Riau berkembang menjadi pelabuhan penting dalam jalur perdagangan yang menghubungkan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa serta Samudera Hindia.

Belanda menduduki Riau tahun 1784. Kata Pelras, motif utamanya adalah menyingkirkan pedagang Bugis. Pedagang bugis dihambat dan dihalang-halangi dengan berbagai peraturan yang dipaksa oleh Belanda. Belanda ingin melindungi kepentingan perdagangannya.

Begitu kekuasaan di Riau beralih ke Inggris, orang-orang Bugis diuntungkan. Orang Bugis punya kepentingan dagang yang sama dengan Inggris. Akhirnya, ketika Belanda mengusai kembali Riau pada 1819, pedagang-pedagang Bugis memilih menyingkir. Pindahlah mereka secara besar-besaran ke Singapura.

Dulu, orang Tionghoa menyebut Singapura “Pu-Lou-Chung” atau “pulau di ujung semenanjung”. Namun versi Wikipedia menyebutkan, tempat yang bernama Singapura sekarang itu baru dikenal abad ke-2 Masehi. Katanya, itu pos terluar kerajaan Sriwijaya di Nusantara. Namanya Temasek atau “kota laut”.

Raffles, yang diangkat sebagai Wakil Gubernur Inggris di Bengkulu pada 1818, mulai melirik Singapura sebagai pos dagang. Menurut Pelras, kehadiran pedagang Bugis di Singapura mungkin menjadi salah satu pertimbangan Raffles. Sebab, sebelumnya Raffles mengincar Pulau Karimun.

Pintu perdagangan baru dibuka. Populasi orang Bugis di Singapura bertambah. Pada 1824, populasi orang Bugis yang bermukim di kampong Glam mencapai 1.851 orang dari total penduduk sebesar 10.683 orang.

Singapura tumbuh menjadi emporium (pusat perniagaan umum) baru. Di sana, perdagangan bebas cukai. Konon, harga barang disana 50% lebih murah dibanding dengan harga barang di Batavia. Singapura berkembang pesat.

Seiring dengan itu, kedatangan orang Bugis ke Singapura terus berlangsung. Misalnya, pada tahun 1824, 90 perahu orang Bugis Wajo datang ke Singapura. Tahun berikutnya, 1825, ada 120 perahu yang menyebrang ke Singapura.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, pedagang-pedagang Bugis punya kontribusi besar dalam membuka Singapura sebagai pusat dagang. Dan, karena aktivitas perdagangan yang dirintis orang Bugis itu, Raffles menunjuk Singapura sebagai pos dagang dan pemukiman orang Inggris.

Irwan Zakaria

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut