Pantang Menyerah, Petani Lampung Tengah Siapkan Aksi Mogok Makan

Bernaung di bawah tenda-tenda sederhana, yang terkadang bocor jika datang hujan deras, tak membuat ratusan petani Lampung Tengah patah semangat untuk memperjuangkan hak-haknya di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lampung.

“Kami sudah hampir sebulan di sini, dengan kondisi yang memprihatinkan, tetapi semangat kami pantang surut,” ujar Loni, salah seorang petani asal Lampung Tengah yang turut bergabung dalam aksi pendudukan di depan kantor BPN Lampung, Minggu (8/4/2012).

Menurut Loni, meski sudah bertahan 20 hari di depan BPN, tetapi pihak pemangku kebijakan tak juga turun merespon tuntutan petani. Gubernur dan anggota DPRD pun tak pernah menampakkan batang-hidungnya di hadapan petani.

Padahal, hujan deras yang mengguyur beberapa terakhir cukup menyulitkan para petani. Puluhan orang sudah terserang penyakit diare dan malaria. Mereka pun terpaksa dipulangkan ke kampung.

Setiap hari, di tengah lalu-lalang kendaraan yang menebar asap knalpot, para petani Lampung Tengah hanya mendapati janji-janji getir. “Pihak BPN lampung terkesan mengulur-ngulur waktu. Terakhir malah ada kecenderungan mau melepas tanggung-jawab,” ungkap Rahmad, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang sehari-hari berada ditengah-tengah para petani.

Sudah begitu, beberapa hari lalu kantor BPN juga disesaki oleh aksi massa ribuan massa PT HKKB. Selesai itu, datang lagi masa liburan tiga hari yang membuat kantor BPN kosong melompong.

Untuk menghilangkan rasa jenuh, para petani mengorganisir diskusi dan menggelar pengajian. Para petani juga terhibur dan sekaligus terpompa kembali semangat juangnya tatkala musisi reggae kerakyatan, Red Flag, datang ke tenda petani dan melantunkan lagu-lagu perjuangan.

Besok, 9 April 2012, para petani berencana menggelar aksi mogok makan. Tidak hanya itu, para petani juga berencana menerobos masuk ke dalam kantor BPN. “Kita sudah bertahan lama di sini. Kami hanya diberi makan janji-janji kosong. Ya, kita akan merobos masuk ke kantor BPN besok,” kata Isnan Subkhi, aktivis LMND yang bertindak sebagai koordinator aksi.

Untuk diketahui, para petani Lampung Tengah ini sedang memperjuangkan pengembalian lahan mereka yang sebelumnya dikuasai oleh PT. Sahang. Namun, sejak tahun 2008, masa kontrak dan HGU PT. Sahang sudah berakhir.

Entah kenapa, perusahaan sawit itu tetap saja memaksa untuk mengangkangi tanah milik rakyat. Pejabat pemerintah setempat, termasuk BPN, juga seolah kehilangan akal untuk membantu petani mendapatkan kembali haknya.

SADDAM CAHYO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut