Pandemi Mengubah Wajah Ekonomi Dunia? (Selesai)

Ekonomi Dunia tak Akan Kembali Sama

Situasi yang tidak normal memerlukan cara berpikir, bertindak, dan jalan keluar yang tidak normal pula. Cara berpikir lama tidak laku. Kelambanan tidak berguna. Jalan keluar yang biasa-biasa tak akan memberi manfaat.

Pada masa krisis, wacana kerap bergeser cepat. Nah, pergeseran wacana dari dianggap ekstrem menjadi berterima/normal biasanya dijelaskan oleh teori Jendela Overton (Overton Window).

Sebelum krisis, ide-ide progressif seperti kesehatan untuk semua (medical for all), nasionalisasi layanan publik, menggaji seluruh warga negara, hingga ekonomi perencanaan, dianggap ide yang terlampau radikal dan tak masuk akal.

Begitu krisis datang, sementara ide-ide yang berlaku tak bisa menjawab persoalan, orang beralih pada ide-ide yang sebelumnya dianggap radikal dan tak masuk akal. Pada kasus ini, terjadilah pergeseran Jendela Overton.

Inilah yang pertama, bahwa ide-ide radikal, yang bisa memberi alternatif, telah berterima luas. Ini akan menjadi gagasan mainstream yang baru.

Ambil contoh soal nasionalisasi. Beberapa tahun lalu, nasionalisasi dianggap sebagai ide yang muskil. Saya ingat, sebagai aktivis mahasiswa di tahun 2007-8, kami menyerukan nasionalisasi perusahaan tambang asing. Apa yang terjadi? Kami seolah berseru-seru di tengah Padang Pasir. Kendati, saat itu, kami selalu berusaha memberi contoh Venezuela.

Tapi sekarang, nasionalisasi tak hanya berterima sebagai ide yang masuk akal, tetapi terpraktekkan. Spanyol dan Irlandia menasionalisasi rumah sakit milik swasta.

Baca juga: Pandemi Mengubah Wajah Dunia? (Bagian 1)

Di Inggris, sedang bergulir ide untuk menasionalisasi maskapai penerbangan, operator kereta api, dan perusahaan operator bus. Di Perancis, Menteri Keuangannya membuka wacana untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan besar.

Dahulu, jangankan ide menggaji seluruh rakyat sesuai kebutuhan minimumnya, ide menggratiskan pendidikan dan kesehatan secara nasional sering berbalas cibiran.

Tetapi sekarang, ide menggaji rakyatnya agar bisa membiayai kebutuhan dasarnya mulai berterima luas. Entah dinamakan Universal Basic Income (UBI) maupun Basic Income Guarantee (BIG).

Di AS, UBI bukan hanya dilantangkan oleh politisi kiri, tetapi juga oleh kanan. Andrew Yang, seorang Calon Presiden dari partai Demokrat, menjadikan UBI sebagai jualan utama kampanye politiknya.

Sejak pandemi, ide ini makin berterima luas. Sebuah survei baru-baru ini menemukan, sebanyak 65 persen pemilih partai Republik di AS mendukung UBI.

Di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson mulai mengajak parlemen membicarakan UBI sebagai solusi melindungi rakyat Inggris di tengah pandemi.

Pada ranah teori ekonomi, disrupsi juga akan terjadi. Banyak teori yang tergeletak di pinggiran, bahkan yang dianggap kadaluarsa, akan tampil ke panggung.

Ekonomi terencana (planning economy), yang sudah dirayakan kematiannya oleh Francis Fukuyama dan kawan-kawan liberalnya, akan naik panggung lagi. Terbukti, negara dengan ekonomi terencana, seperti Tiongkok dan Vietnam, lebih perkasa secara ekonomi.

Apalagi, apa yang menjadi kekurangan Ekonomi Terencana di masa lalu, juga yang dipraktekkan oleh Tiongkok dan Vietnam bisa, bisa dikoreksi oleh perkawinan teknologi Big Data dan demokrasi partisipatif.

Teori Ekonomi Modern (MMT), yang dulu dianggap ide pinggiran, yang di Indonesia dianggap pikiran unik si Mardigu Wowiek, juga akan naik panggung.

Gagasan ekonomi yang kekinian, yang berusaha memberi alternatif terhadap kegagalan kapitalisme, juga akan mendapat tempat. Mulai dari varian Keynesianisme hingga Marxisme.

Kedua, Negara akan kembali tampil ke depan. Sejak 1980an hingga krisis keuangan 2008, negara ditaruh di lapis kedua, sementara yang tampil ke depan adalah pasar. Mekanisme pasarlah yang mengatur segalanya. Sementara negara hanya menjadi “penjaga malam”.

Masalahnya, kata Joseph Stiglizt, pasar hanya bekerja di masa normal, tetapi tidak di masa krisis. Setiap kali terjadi krisis, mekanisme pasar selalu lepas tangan, lalu dipanggillah Negara sebagai juru-selamat.

Itu pula yang terjadi sekarang. Lihatlah Amerika Serikat, negeri dengan PDB terbesar di dunia, segala teknologi mereka punya, hampir semua korporasi besar berkantor di sana, gagal merespon permintaan paling mendasar dalam perang melawan pandemi: alat pelindung diri (APD).

Malahan, gara-gara mekanisme pasar, banyak layanan kesehatan yang terprivatisasi. Ini yang membuat respon layanan kesehatan banyak negara, termasuk AS, kewalahan menghadapi lonjakan pasien Covid-19.

Pada aspek lain, ketika terjadi pembatasan sosial, mekanisme pasar juga tak berdaya menjaga rantai pasokan hingga ketersediaan bahan pokok. Akibatnya, di banyak tempat terjadi kekacauan.

Terhadap kegagalan itu, Negara dipaksa turun tangan. Mulai dari mengurusi korban PHK hingga mayoritas yang rentan terkapar oleh dampak ekonomi pandemi.

Di AS, Trump sudah bicara tentang perlunya “Big Government” untuk menghadapi berbagai persoalan. Di Eropa, hasil penyatuan ekonomi paling mutakhir, yaitu Uni Eropa, nyaris tidak bekerja. Yang tampak bekerja adalah negara-bangsa.

Baca juga: Pandemi Mengubah Wajah Dunia? (Bagian 2)

Bersamaan dengan itu, kemungkinan yang banyak bergema: American first; UK first, French first, Italian first, dan sejenisnya dalam beragam versi.

Jadi, di negara-negara yang dikontrol politisi kanan-konservatif, yang menguat akan nasionalisme ekonomi yang ekslusif dan agak otoriter, seperti dirigisme dan sejenisnya.

Sebaliknya, di negara yang dikontrol oleh kiri atau kaum progressif, yang menguat adalah model demokrasi ekonomi, yang mengawinkan antara peran Negara dan partisipasi warga.

Ketiga, episentrum ekonomi dunia kemungkinan akan bergeser. Kalau kita lihat pandemi, mulai dari eskalasi virus hingga dampak ekonomi, tampaknya AS dan Eropa-lah yang paling terpukul.

Dari data pertumbuhan yang disuguhkan IMF, AS dan Eropa-lah yang paling terpukul. Sementara AS dan Eropa pertumbuhan ekonominya minus parah, Asia masih bisa tumbuh meski agak tipis.

Sementara AS dan Eropa kelabakan menghalau virus, beberapa negara Asia menunjukkan prestasi: Tiongkok, Korsel, Vietnam, dan Singapura. Ini juga yang membuat negara-negara ini bisa meredam dampak ekonomi.

Sementara ekonomi AS dan Eropa menjerit-jerit karena lockdown, satu-satunya toko Apple yang masih buka di muka bumi ini hanya ada di Asia. GM dan VM juga masih berproduksi di Tiongkok.

Bukan tidak mungkin, apabila upaya pencegahan virus di AS dan Eropa tak menemukan terang, banyak perusahaan akan memindahkan usahanya ke negara-negara Asia yang relatif aman, seperti Tiongkok, Korsel, Singapura, dan Vietnam. Bukankah bisnis tak mengenal kebangsaan?

Keempat, tiba saatnya pekerja menikmati fleksibilitas kerja. Semasa pandemi, lewat pengenalan Work from Home secara drastis, tempat kerja dan jam kerja bisa fleksibel.

Manusia menjadi sadar, bahwa banyak pekerjaan yang sebetulnya bisa dikerjakan dari jauh (remote work). Bisa dikerjakan di rumah, di kota yang terpisah, atau di mana saja, asalkan ada koneksi internet yang bagus.

Tentu saja, remote work ini bisa menguntungkan kapitalisme juga. Sebab, ini bisa menghilangkan komponen pembiayaan untuk untuk tempat tinggal, transportasi, dan makan siang si pekerja jika harus datang ke tempat kerja/kantor.

Kemudian, jam kerja yang fleksibel juga memungkinkan pengusaha menyesuaikan operasionalisasi perusahaan dengan order/pesanan, ketersediaan bahan baku, dan lain-lain.

Sementara, di sisi pekerja, fleksibilitas kerja ini bisa menguntungkan mereka juga. Sebab, pekerja bia menegosiasikan jam kerja dan tempat dia akan bekerja (di rumah, kafe, atau tempat lain). Dengan begitu, si pekerja bisa menyesuaikan jam dan tempat kerja dengan keperluan pribadinya (jalan-jalan, mengurus rumah tangga, berkegiatan sosial/politik, dan lain sebagainya).

Nah, selama ini yang mengemuka, yang didorong oleh neoliberalisme—termasuk semangat RUU Cipta Kerja, adalah mendorong fleksibilitas tenaga kerja, yaitu status pekerja (kontrak dan outsourcing)dan upah. Dan itu jelas sangat menguntungkan pengusaha, tetapi sangat merugikan buruh.

Kelima, pandemi mengakselerasi perkembangan ekonomi digital. Semakin banyak aspek kehidupan ekonomi kita yang akan berpindah ke digital, mulai dari perdagangan, pendidikan, hingga dompet digital.

Bayangkan, sejumlah pasar tradisional yang tiba-tiba bisa berpindah ke online. Atau inisiatif sejumlah warga yang membangun pasar online untuk melayani kebutuhan warga di tempat tinggalnya. Tentu saja, sesuatu yang belum sempat kita bayangkan sebelum pandemi ini.

Sekarang, Tiongkok mengganti uang fiat dengan uang digital. Boleh jadi, ide ini sudah ada sejak lama, tetapi pandemi telah memaksa ide itu terealisasi lebih cepat.

Oiya,  Zoom, Google Meet dan Microsoft Teams juga berkembang pesat di masa pandemi ini. Zoom, misalnya, naik dari 10 juta pengguna per hari menjadi 200-an juta pengguna per hari. Ada banyak rapat-rapat berpindah ke ketiga aplikasi tersebut.

Tentu saja, bisnis travel dan penyedian ruang meeting yang akan paling terdampak oleh perkembangan itu. Jasa travel dan penyedian ruang meeting akan berkurang ketika pertemuan bisnis dan rapat-rapat bisa dilakukan via zoom, google meet, atau Microsoft Teams. Lebih efisien kok.

Sosialisme tak Jatuh dari Langit

Apakah pandemi, yang telah menunjukkan suram-gelapnya kehidupan di bawah kapitalisme, akan serta-merta menyediakan lorong menuju dunia yang terang?

Pandemi memang akan mengubah banyak cara pandang dan cara kerja kita. Kondisi darurat telah mempercepat jalannya sejarah. Sesuatu yang dulunya masih dipertimbangkan, masih butuh eksperimen sosial, tiba-tiba mendadak harus dipraktekkan dan dijalankan.

Tapi, seperti juga Black Death yang membuka jalan bagi penumbangan feodalisme berkat pemberontakan-pemberontakan petani dan pengembangan cara-cara baru dalam pengorganisasian ekonomi, krisis yang dipicu oleh pandemi korona butuh intervensi sosial.

Sosialisme tidak jatuh dari langit, kata Sukarno. Sosialisme tak seperti embun yang jatuh dari langit di malam hari, lalu tiba-tiba kita menyaksikannya di kala terbangun di pagi hari.

Pertama, Kita perlu mengubah semua kekecewaan dan kemarahan terhadap kapitalisme menjadi imajinasi tentang dunia pasca kapitalisme. Agar kekecewaan dan kemarahan itu tak berakhir dengan penjarahan dan kerusuhan, apalagi kalau dibelokkan menjadi rasisme dan xenophobia.

Yakinilah, imajinasi merupakan cara manusia untuk membebaskan daya pikirnya yang tertindas. Selama berabad-abad, sebagai ide yang dominan, kapitalisme lewat segala perangkat ideologisnya memaksa kita menerima kapitalisme sebagai takdir, sebagai akhir sejarah umat manusia. “There is no alternative,” katanya.

Yuval Harari, sejarawan dan penulis buku Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21st Century  yang lagi dikagumi banyak orang, sudah mengingatkan bahwa cerita fiksi—yang notabene hasil imajinasi—telah menggerakkan manusia untuk bekerjasama dalam jumlah yang besar dan fleksibel.

Kedua, gerakan solidaritas dari bawah yang menjamur sejak pandemi, perlu diapreasi tinggi-tinggi. Bukan saja karena telah menyatukan kita kembali dalam ikatan paling hakiki, yaitu kemanusiaan, tetapi juga telah menjahit kembali ikatan sosial kita yang dirobek-robek oleh neoliberalisme.

Neoliberalisme telah mengubah kita menjadi serpihan-serpihan kecil yang terpisah satu sama lain. Dari pabrik hingga kehidupan sosial sehar-hari. Konsumerisme yang berlebihan mengajarkan orang untuk berbelanja melebihi kebutuhannya, tetapi mengabaikan nasib orang-orang yang sekarat di sekitarnya.

Di banyak tempat, di berbagai belahan dunia ini, muncul gerakan solidaritas dari bawah. Mulai dari mengorganisasikan dapur umum, memproduksi APD, hingga kerja sukarela menjaga rantai pasokan kebutuhan pokok.

Selain itu, keberhasilan gerakan solidaritas dalam menyelamatkan kehidupan banyak orang telah memulihkan kepercaaan mereka pada pentingnya “kekuataan bersama”. Ini modal sosial yang besar untuk memperjuangkan masyarakat yang lebih baik.

Ketiga, sementara pandemi telah membawa kapitalisme pada batas-batasnya, yakni batas alam dan sosial, perlu perjuangan politik yang lebih hebat untuk menghamparkan alternatif terhadap sistim ini.

Kita harus menggeser jendela overton ke kiri, dengan mengupayakan ide-ide kiri bisa berterima secara luas di tengah-tengah masyarakat. Nah, agar bisa berterima, tentu ada kewajiban pada kita untuk menunjukkan bahwa ide-ide itu bukan hanya relevan, tetapi juga kompeten menjawab persoalan.

Jadi, tantangannya adalah bagaimana memajukan ide yang paling rasional dan masuk akal, yang bisa menarik semua orang yang kecewa dan tidak puas dengan keadaan hari ini. Bukan mengajukan ide yang paling radikal, dengan jargon-jargon yang membuat orang untuk takut bergabung, sehingga berpotensi mengosiolasi kita menjadi sekte suci abadi.

RUDI HARTONO, pimred berdikarionline.com


Keterangan: Artikel ini dimuat dalam tiga bagian. Ini adalah bagian ketiga (terakhir) dari artikel ini. Terima kasih.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid