Pahlawan dan Persoalan Bangsa

Pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya, 65 tahun yang lalu itu tentu tak akan pernah dilupakan bangsa dan rakyat Indonesia. Berbagai peringatan untuk itu digelar terlebih di kota Surabaya sendiri. Pada tanggal dan bulan ini pun dikenal rakyat Indonesia sebagai hari Pahlawan dan seringkali pemerintah pun mengumumkan dan memberi gelar pahlawan nasional pada orang-orang yang dianggap berjasa bagi bangsa dan Negara.

Pada 10 November itu, sekitar empat bulan sesudah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya itu dengan gagah berani membuktikan tekad dan cita-cita untuk merdeka dengan tak mundur setapakpun dari ancaman bala tentara Inggris yang merupakan salah satu pemenang perang dunia II. Dengan begitu pertempuran 10 November menegaskan semangat Indonesia merdeka dan kerelaan rakyat Indonesia untuk berjuang sampai darah penghabisan demi terbebas dari penjajahan asing yang telah berabad mencengkeram. Tak salah bila hari itu kemudian ditetapkan sebagai hari pahlawan.

Keberanian dan kepahlawanan 65 tahun yang lalu itu kini seakan dituntut kembali bila kita menengok pada problem bangsa sekarang ini. Kita memerdekakan diri dari penjajahan asing tentu untuk keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan. Tak ada jiwa-jiwa inlander yang merasa hina dan rendah di hadapan bangsa lain. Tak ada pendidikan yang diskriminatif tapi setiap rakyat Indonesia diberi kesempatan untuk maju dan cerdas, menguasai sains dan teknologi yang semakin memajukan hidup rakyat dan bangsa. Kolonialisme tentu akan menghalangi rakyat jajahan menjadi pintar, cerdas dan berilmu. Untuk itulah kolonialisme selalu mendapatkan perlawanan. Tapi setelah 65 tahun proklamasi kemerdekaan dan tekad merdeka seperti yang ditunjukkan rakyat Indonesia pada pertempuran 10 november itu, kemiskinan, korupsi, ketaksanggupan memahami bencana masih menghantui. Kekayaan alam yang melimpah tak sanggup diolah untuk kemakmuran rakyat negeri. Justru yang tampak kekayaan alam itu dikuasai dan diolah untuk kemakmuran asing. Kemerdekaan 65 tahun yang lalu itu seakan tidak menjadi modal untuk memajukan rakyat Indonesia dalam bidang ekonomi, ilmu, teknologi dan pengetahuan tapi justru tampak kembali pada rel menjadi bangsa terjajah, miskin, susah ilmu, teknologi dan pengetahuan.

Dengan begitu nilai kepahlawanan yaitu keberanian untuk membela bangsa dan rakyat di berbagai bidang tidak tampak dan tidak mengakar kepada rakyat. Rakyat justru dibuat takut, dipecah belah dengan berbagai isu, rendah diri karena kurang pendidikan dan kurang gizi yang semua itu jauh dari cita-cita republik yang dimerdekakan dengan gagah berani oleh para pahlawan.

Dengan begitu jelas menjadi pahlawan untuk jaman sekarang dapat dilakukan dalam berbagai cara. Nilai kepahlawanan yang identik dengan pengorbanan dan keberanian juga harus ditanamkan di tengah masyarakat agar dapat mengatasi persoalan bangsa akhir-akhir ini. Pahlawan-pahlawan yang diangkat pun seharusnya dapat menginspirasi: persatuan dan perjuangan anti kolonial yang kini juga semakin terasa serta membela rakyat dari berbagai bidang: ilmu, teknologi, seni dan budaya, termasuk olah raga bahkan..

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut