Venezuala Hadapi Kelangkaan Sembako

Warga Venezuela belanja di toko sembako yang dibangun oleh negara, Mercal. (Foto: Reuters: Jorge Silva)

Dalam beberapa bulan terakhir, Venezuela terus didera kelangkaan barang kebutuhan pokok. Bahkan, Bank Sentral Venezuela menganggap kelangkan sembako ini mencapai level tertinggi sejak April 2009.

Banyak ekonom menilai, kelangkaan itu dipicu oleh kurangnya devisa, kontrol harga, dan defisit fiskal. Sementara pemerintah mengklaim, kelangkaan ini disebabkan oleh meningkatnya konsumsi dan sabotase ekonomi oleh pihak swasta Venezuela.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang berpidato di Televisi pada hari Sabtu, menyalahkan “perang ekononomi” yang dilakukan oleh sektor swasta sebagai penyebab kelangkaan.

“Kami mengantongi banyak indikasi, bahwa Empresas Polar SA (perusahaan makanan swasta terbesar di Venezuela) telah mengurangi produksi mereka dan menimbun bahan makanan untuk menciptakan kelangkaan,” kata Maduro.

Menurut Maduro, ia akan menuntut perusahaan tersebut untuk menjelaskan alasan mengapa mereka mengurangi produksi mereka. Selain itu, ia juga akan meminta pemilik perusahaan, Lorenzo Mendoza, untuk bertemu dengannya dan menjelaskan alasan mengapa mengurangi produksi.

Pihak swasta Venezuela menuding kebijakan kontrol harga, yang diterapkan Venezuela sejak Juli 2012 lalu, sebagai salah satu akar masalah penyebab kelangkaan.

Menurut mereka, kebijakan kontrol harga telah menyebabkan maraknya penyelundupan sembako ke negara tetangga Venezuela, terutama ke Kolombia.

Namun, pemerintah bersikeras, kebijakan kontrol harga merupakan langkah pemerintah untuk melindungi rakyat miskin agar tetap bisa menjangkau harga sembako.

Menghadapi kelangkaan sembako, pemerintah Venezuela telah mengimpor pangan 700.000 metrik ton dari negara-negara Mercosour, terutama Brazil. Tapi pemerintah menegaskan, langkah impor ini hanya kebijakan yang sifatnya sementara.

Memang, masalah pangan merupakan masalah besar di Venezuela. Ini adalah warisan dari rezim sebelum Chavez, yang benar-benar bersandar pada “minyak”. Sebagian besar penduduk Venezuela pindah ke kota untuk mencari rejeki minyak. Akibatnya, tahun 1990-an, jumlah penduduk Venezuela di pedesaan tinggal 12%. Akibatnya, produksi pangan Venezuela merosot. Hampir 70% kebutuhan pangan diperoleh melalui impor.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut