Oknum Marinir Kembali Aniaya Pedagang Asongan Kereta Api

Tindak kekerasan oleh oknum Marinir terhadap pedagang asongan yang sedang berjualan di atas kereta api kembali terjadi. Kemarin, Jumat (13/6//2014) di Stasiun Bangil, Jawa Timur, seorang pedagang Asongan yang bernama M.Sutoyo (37 thn) ditangkapi dan dianiaya oleh oknum Marinir.

Zainal, Ketua Pedagang Asongan Bangil, menuturkan bahwa kekerasan itu terjadi ketika Kereta api Probowangi jurusan Surabaya-malang sedang berhenti di stasiun Bangil. Saat itu empat orang pedagang asongan menaiki kereta tersebut. Mengetahui ada pedagang asongan yang sedang berjualan di dalam kereta, pihak Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) dan Marinir kemudian mengunci pintu kereta dari luar. Tiga orang pedagang asongan kemudian berhasil keluar, sedangkan satu orang terperangkap di dalam kereta.

M Sutoyo, pedagang yang terperangkap itu, kemudian ditangkap oleh anggota Marinir. Ia kemudian ditampar dan dipukuli berkali-kali oleh anggota marinir hingga tersungkur di lantai. Ia baru diturunkan setelah kereta tiba di stasiun Sidoarjo.

Menurut pengakuan M Sutoyo, setelah oknum marinir puas memukuli dirinya, ia kemudian diancam. “Kalau sampai ketangkap sekali lagi, saya akan hajar kamu lebih keras dari ini,” ujar Sutoyo menirukan ucapan oknum anggota marinir tersebut.

Kekerasan terhadap pedagangan asongan di kereta api bukan kali ini saja. Pada tanggal 9 Juni lalu, seorang pedagang asongan bernama Muhamad Samsul juga mengalami patah kaki.

Pedagang jagung rebus ini ketakutan saat dipergoki oleh anggota Marinir saat sedang berjualan di atas kereta. Tanpa berpikir panjang, Samsul pun meloncat keluar melalui pintu kereta. Naas, kaki kirinya tergelincir dan patah. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit.

Tidak hanya pedagang Asongan, seorang pengamen yang bernama Samsul (38 thn) juga mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum Marinir. Ketika itu, Samsul menaiki kereta Penataran jurusan Malang. Ia dipukuli oleh anggota marinir dan diturunkan paksa di stasiun Lawang.

Menurut Zainal, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum Marinir merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan. “Ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia, karena sudah melakukan kekerasan dan melarang pedagang untuk mencari nafkah di dalam kereta,” ujarnya.

Zainal melanjutkan, tindak kekerasan yang terjadi terhadap pedagang asongan merupakan dampak dari instruksi Direksi PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Nomor 2/LL.m006/KA2012 tertanggal 13 Januari 2012. Instruksi tersebut melarang pedagang berjualan di sekitaran Peron dan diatas gerbong kereta api.

Menurutnya, dengan instruksi tersebut, pihak polsuska dan marinir punya dalih untuk melakukan tindak kekerasan terhadap setiap pedagang yang berjualan di atas kereta api.

“Kita sebagai pedagang merupakan korban dari program instruksi PT.KAI. Instruksi tersebut menghilangkan sumber pekerjaan dan pendapatan sebagai rakyat kecil. Kita butuh penyelesaian atas semua ini,” ujarnya.

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut