Evo Morales, Presiden Pencinta Sepak Bola

evo-Bola.jpg

Pertengahan Mei lalu, seorang Presiden bergabung dengan klub sepak bola profesional. Ini bukanlah pencitraan menjelang pemilu. Tapi, sang Presiden memang ‘penggila’ sepak bola sejak kecil.

Dia adalah Evo Morales, presiden Bolivia saat ini. Ia akan bermain untuk Sport Boys, sebuah klub divisi satu yang bermarkas di Provinsi Santa Cruz, Bolivia. Nantinya, Evo akan mengenakan kostum bernomor 10 dan mendapat gaji sebesar 214 dollar AS atau sekitar Rp 2,4 juta–setara dengan upah minimum pekerja di Bolivia.

Morales memang pencinta sepak bola. Di sela-sela kesibukan menjalankan tugasnya sebagai kepala negara, ia kerap menyempatkan diri bermain sepak bola. Tak jarang, ketika ia sedang berkunjung ke negara lain, ia juga menyempatkan diri untuk bermain sepak bola.

Seperti tahun 2007 lalu, saat menghadiri pertemuan pemimpin Amerika Latin di Santiago, Chile, Evo justru memanfaatkan waktu senggannya untuk bermain bola melawan legenda-legenda tua Chile. Alhasil, dalam pertandingan itu, kesebelasan sang Presiden berhasil menang dengan skor 8-1.

Kemudian di tahun 2008, saat European Union, Latin America and the Caribbean Summit di Lima, Peru, Evo lebih memilih bermain sepak bola di pertandingan yang dibuat oleh “people summit”–pertemuan tandingan yang diorganisir oleh gerakan sosial dan partai kiri. Saat itu Evo mencetak gol melalui tendangan penalti.

Lalu, pada tahun 2010, saat berkunjung ke Iran, ia juga sempat bermain futsal bersama Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Evo dan Ahmadinejad berada dalam satu tim. Pertandingan itu berakhir dengan skor imbang: 4-4. Namun, dalam adu penalti, tim Evo-Ahmadinejad berhasil unggul dengan skor 8-6.

Sepak bola sudah mendarah-daging dalam kehidupan Evo Morales. Ia sudah bermain sepak bola sejak kecil. Di usia 13 tahun, Evo mendirikan klub sepak bola bernama Fraternidad (Persaudaraan) di kampung halamannya. Dia berperan sebagai kapten kesebelasan, pemain, wasit, dan penggalang dana (fundraiser).

“Aku seperti pemilik tim. Aku hanya punya domba dan wol llama. Ayahku membantu kami. Dia adalah seorang olahragawan. Kami menjual wol untuk membeli bola dan seragam,” kenang Evo Morales mengenai klub masa kecilnya itu.

Di tahun 1980-an, karena didesak oleh kekeringan pangan, Evo dan keluarganya terpaksa pindah ke Chepare. Di sana Evo dan keluarganya bertani koka. Nah, untuk membuka tali persahabatan dengan anak-anak seusianya, Evo menggunakan sepak bola. “Suatu hari, saya bermain dengan penduduk setempat dan mencetak gol. Sejak itu semua orang ingin bermain dengan saya,” kata Evo.

Sepak bola pula yang mengantarkan Evo ke dunia pergerakan politik. Di tahun 1980-an, di bawah kediktatoran Luis García Meza, pasukan anti-narkoba membakar hidup-hidup aktivis petani koka. Evo mendengar kekejaman itu di lapangan sepak bola.

Tak lama kemudian, Evo dan kawan-kawannya mulai menghadiri rapat-rapat tertutup. Tak hanya itu, Ia juga mulai bersentuhan dengan bacaan kiri. Tak lama setelah bermukim di Chepare, ia ditunjuk sebagai Sekretaris bidang Olahraga di Serikat Petani Koka setempat. Di tahun 1985, Ia sudah ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Serikat Petani Koka di Chepare. Setahun kemudian, Ia sudah menjadi pemimpin dari enam federasi serikat petani di wilayah tersebut.

Sejak itulah Evo menjadi pejuang terkemuka dari petani koka dan masyarakat adat Bolivia. Bagi masyarakat Indian, termasuk di Bolivia, koka sudah menjadi bagian dari tradisi budaya mereka. Daun koka bisa digunakan sebagai teh dan obat-obatan. Sebagian besar masyarakat asli Bolivia adalah petani koka—sering disebut “cocaleros”.

AS sendiri tidak suka dengan daun koka. Dengan menggunakan topeng “perang melawan narkoba”, AS terlibat langsung dalam pemusnahan kebun koka di Bolivia. Mereka juga menggunakan tentara lokal untuk membasmi tanaman koka. Pada saat itulah Evo tampil sebagai ‘pahlawan’ para petani koka.

Pada tahun 2005, Evo maju sebagai Calon Presiden. Ia berpasangan dengan Alvaro Garcia Linera, seorang intelektual kiri dan bekas gerilyawan marxis. Sedangkan lawannya, Jorge “Tuto” Quiroga, seorang insinyur jebolan universitas di AS, diusung oleh partai sayap kanan Kekuasaan Sosial Dan Demokratis (PODEMOS). Evo berhasil memenangi pemilu itu dengan perolehan suara 54%.

Sejak menjadi Presiden, Evo juga berjuang keras membangun sepak bola negerinya. Ia berjuang mengembalikan sepak bola sebagai olahraga rakyat. Maklum, selama beberapa dekade, sepak bola menjadi bisnis dan dikuasai oleh para miliarder Bolivia.

Di tahun 2008, FIFA mengeluarkan larangan pertandingan sepak bola kualifikasi Piala Dunia di gelar di stadion yang berada di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau lebih. Alasannya: untuk melindungi kesehatan para pemain.

Evo dan rakyat Bolivia memprotes larangan itu. Pasalnya, Bolivia memang berada di dataran tinggi. Ibukota Bolivia, La Paz, tempat berlangsungnya sejumlah pertandingan internasional, berada di ketinggian 3.640 mdpl. Selain itu, selama bertahun-tahun, berbagai turnamen dan liga profesional berlangsung di negeri-negeri berdataran tinggi, seperti Bolivia, Kolombia, dan Peru, tak satupun kejadian orang menderita sakit akibat bermain di daerah ketinggian.

Evo pun menggelar aksi protes. Ia mendapat dukungan dari legenda sepak bola dunia asal Argentina, Diego Armando Maradona. Dan sebagai bentuk protesnya, Evo dan Diego bermain sepak bola di sebuah stadion di La Paz. Tak hanya itu, Evo juga menggelar pertandingan di Nevado Sajama, sebuah kawasan pegunungan bersalju yang berada 6,542 meter di atas permukaan laut.

Bagi Evo, sepak bola bukan hanya soal juara, medali, ataupun piala. Namun, lebih dari itu, sepak bola adalah alat pemersatu, pembangun solidaritas, kerjasama, dan persaudaraan. Ia mengutuk keras praktek komersialisasi yang telah memisahkan olahraga sepak bola dari massa rakyat.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut