Tugas Kaum Nasionalis: Menangkan Program Kemandirian Nasional!

Diskusi-PRD.jpg

Program kemandirian nasional, yang mewarnai visi-misi dua kubu Calon Presiden dalam Pemilu Presiden (Pilpres) tahun 2014, dianggap sebagai jawaban atas persoalan bangsa saat ini.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi peluncuran Sikap Politik Partai Rakyat Demokratik (PRD) terhadap Pilpres tahun 2014, di Jakarta, Selasa (10/6/2014).

Menurut Masinton Pasaribu, politisi PDI Perjuangan sekaligus Tim Sukses Jokowi-Jusuf Kalla, program kemandirian bangsa memang jalan keluar atas keterpurukan bangsa akibat sistim neoliberal selama ini.

“Kalau di kubu Jokowi-JK, jelas sekali mengusung Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di lapangan ekonomi, dan berkepribadian secara budaya,” kata Masinton.

Menurut dia, untuk menjalankan gagasan Trisakti tersebut, tahap awalnya adalah revolusi mental. Dengan revolusi mental, segala penyakit kepemimpinan nasional, seperti mental korup, mental borjuis, dan mental anti-rakyat, akan terbabat habis.

“Gagasan Trisakti tidak mungkin bisa diterapkan tanpa merevolusi mental bangsa ini, terutama pemimpinnya,” ujarnya.

Kebutuhan untuk mengedepankan program kemandirian nasional juga diakui oleh kubu Prabowo-Hatta Rajasa. Menurut Ahmad Doli Kurnia, juru bicara nasional tim kampanye Prabowo-Hatta Rajasa, isu kemandirian nasional berusaha menjawab persoalan ekonomi, sosial-budaya, pembangunan manusia, dan lingkungan.

“Pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, yang mengusung 8 Program Selamatkan Indonesia, berjuang untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara berdaulat, mandiri, dan bisa menentukan nasibnya sendiri,” jelasnya.

Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir, faham neoliberal cukup mewarnai pengambilan kebijakan di Indonesia. Akibatnya, banyak kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan rakyat. “Kita bisa lihat dalam pemanfaatan kekayaan alam kita. Itu banyak dimanfaatkan dan dikuasai oleh modal asing,” terangnya.

Dalam kerangka itu, menurut Ahmad Doli, pasangan Prabowo-Hatta Rajasa akan lebih mengedepankan rasa nasionalisme agar pemanfaatan sumber daya alam bisa memakmurkan rakyat.

Soal Konsistensi

Masinton menegaskan, kendati dua capres mengusung tema kemandirian nasional, tetapi perlu ditelusuri rekam jejak para capres-cawapres untuk menilai konsistensinya.

Ia menilai, pasangan Jokowi-JK punya rekam jejak yang bersih dan berprestasi. “Jokowi sukses menjalankan pemerintahan di Solo dan Jakarta, sedangkan Pak JK punya prestasi dalam mendorong perdamian di Aceh dan Poso,” ungkapnya.

Sebaliknya, ia mengeritik kubu Prabowo-Hatta Rajasa yang berbicara ide kemandirian nasional, tetapi mengakomodir program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang sangat neoliberal.

Tak hanya itu, kata Masinton, kubu Prabowo-Hatta juga mengaku akan melanjutkan program SBY. “SBY itu kan sudah terbukti neoliberal. Kalau mau melanjutkan program SBY, itu kan nggak nyambung,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ahmad Doli punya penjelasan tersendiri. Menurut dia, kubu Jokowi-JK juga tidak sepenuhnya punya rekam jejak yang baik.

“Kita lihat pak Jusuf Kalla. Selama lima tahun menjadi Wapres, dia punya dedikasi terhadap SBY. Dan jangan lupa, semasa posisinya sebagai Menteri dan Wapres, kepentingan bisnis keluarganya juga berkembang sangat cepat. Artinya, dia tidak clear juga,” ungkapnya.

Terkait pernyataan Prabowo-Hatta yang ingin melanjutkan program SBY, Ahmad Doli berdalih, tidak semua program dari kepemimpinan nasional sebelumnya akan dilanjutkan. Kata dia, yang dilanjutkan adalah program yang sudah dianggap baik, sementara yang merugikan rakyat akan dibuang.

Karena itu, bagi Ahmad Doli, dalam konteks memajukan kepentingan bangsa, tidak relevan mengedepankan perdebatan soal siapa yang nasionalis asli dan palsu. Sebaliknya, dia mengajak dua kubu untuk berbicara mengenai gagasan-gagasan besar mengenai visi membangun Indonesia yang lebih baik.

Sementara itu, Koordinator Kajian dan Bacaan Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) Rudi Hartono menilai, ketika dua kubu capres yang maju di Pilpres tahun 2014 mengusung program yang sama, yakni kemandirian nasional, maka yang diperlukan adalah penajaman program hingga ke bentuk praksis rencana kerja ketika berkuasa.

“Saya kira, yang perlu diperdebatkan bukan mana nasionalis palsu dan bukan, tapi lebih ke penajaman program. Dengan begitu, rakyat akan memilih capres yang programnya dianggap paling rasional dan konkret,” kata Rudi.

Mengawal Isu Kemandirian Nasional

Kendati demikian, baik Masinton maupun Ahmad Doli sepakat bahwa, siapapun yang terpilih dalam pilpres mendatang, program kemandirian nasional tetap harus menjadi agenda utama.

“Siapapun yang menang nanti, isu kemandirian bangsa itu harus dijalankan. Kita tidak mau, janji menjalankan Pancasila, UUD 1945, Trisakti hanya janji-janji kampanye,” tegas Masinton.

Sementara, menurut Ahmad Doli, tugas kaum muda adalah mengawal janji kemandirian nasional dari para capres. “Kawan-kawan muda yang berada di parlemen maupun di luar parlemen harus mengawal janji kemandirian nasional itu,” ujarnya.

Dalam konteks pengawalan itu, Rudi Hartono menyampaikan tiga hal mendesak yang mesti dikerjakan oleh kaum nasionalis. Pertama, mendesak para capres untuk mengkonkretkan program kemandirian nasionalnya hingga tataran praksis. Selain itu, kaum nasionalis tidak boleh sungkan mengeritik program capres yang tidak sesuai dengan agenda kemandirian bangsa.

Kedua, penyatuan seluruh kaum nasional yang sepakat dengan program kemandirian nasional. Penyatuan kekuatan itu, kata Rudi, dimaksudkan untuk memastikan agenda kemandirian nasional tidak diblokir oleh kekuatan-kekuatan neoliberal dan kompradornya.

Ketiga, pewadahan massa rakyat untuk mengawal konsistensi capres terpilih dalam menjalankan agenda kemandirian nasional. Menurutnya, sebuah pemerintahan pro kemandirian nasional yang tidak dikawal oleh gerakan rakyat yang terorganisir hanya punya dua pilihan: moderat atau digulingkan.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut