Kandidat Partai Buruh Menangi Pilpres Putaran Pertama Brazil

Dilma-PT.jpg

Dilma Rousseff, kandidat yang diusung oleh Partai Buruh (PT), berhasil memenangi Pemilu Presiden (Pilpres) putaran pertama yang berlangsung pada hari Minggu (5/10/2014).

Menurut Dewan Pemilu Tertinggi (TSE) Brazil, dari 99% suara yang sudah dihitung, Dilma meraih 41,5% suara. Sementara pesaingnya dari Partai Sosial-Demokrat Brazil(PSDB), Aecio Neves, menempati urutan kedua dengan 33.5% suara. Sedangkan kandidat dari Partai Sosialis Brazil, Marina Silva, meraih 21.32% suara.

Di parlemen, partai koalisi pendukung Dilma meraih kursi mayoritas, yakni 294 kursi dari 513 kursi parlemen. Hal ini, tentu saja, menjadi modal besar bagi Dilma bila kelak terpilih kembali. Adapun partai koalisi pendukung Dilma, antara lain: Partai Buruh (PT), Partai Sosial Demokratik, Partai Komunis Brazil, Partai Buruh Demokratik, Partai Progressif, Partai Republik, Partai Republik Tatanan Sosial, Partai Republiken Brazil, dan Partai Gerakan Demokratik Brazil.

Karena tidak satupun kandidat yang meraih suara 50% atau lebih, maka Brazil akan menggelar Pilpres putaran kedua pada 26 Oktober mendatang. Dilma rousseff akan berhadapan langsung dengan kandidat sayap kanan, Aecio Neves.

Saat berpidato di hadapan pendukungnya, Dilma menjanjikan akan memperluas dan memperdalam program kesejahteraan sosial jika dirinya kembali terpilih sebagai Presiden. “Brazil akan menjadi lebih modern, lebih kompetitif, untuk menjamin pertumbuhan yang menjaga kemajuan,” katanya.

Dilma, yang sekarang ini menjabat Presiden, menikmati dukungan berkat programnya dalam memerangi kemiskinan. Lebih dari 48 juta warga Brazil menerima manfaat dari program-program kesejahteraan sosial di bawah pemerintahan Partai Buruh.

Tak hanya itu, pemerintahannya juga berhasil menciptakan 21 juta lapangan pekerjaan dan menaikkan upah buruh. Pemerintahannya juga membuat kebijakan affirmative untuk mendorong anak dari keluarga miskin bisa menikmati pendidikan hingga Universitas.

Ekonomi Brazil tumbuh menjadi 7 besar dunia. Pendapatan perkapita naik tiga kali lipat dan ketimpangan menurun. Angka pengangguran juga menurun dari 12,3 % di tahun 2003 (sebelum Partai Buruh berkuasa) menjadi 4,9%. Sementara pekerja yang terperangkap di sektor informal menyusut dari 22% menjadi 13%.

Namun demikian, pemerintahan Dilma bukan tanpa tantangan. Ketika sebagian besar rakyat Brazil mulai keluar dari lingkaran kemiskinan, tuntutan mereka mulai bergeser dari tuntutan kuantitatif (ketersediaan lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, dll) menjadi tuntutan kualitatif (lapangan pekerjaan dengan upah lebih layak, pendidikan yang lebih berkualitas, dan layanan publik yang lebih baik dan modern). Sebagian besar yang menyerukan tuntutan kualitatif itu adalah kaum muda.

Pada bulan Juni 2013, jutaan rakyat Brazil turun ke jalan. Mereka memprotes praktik korupsi, kualitas layanan publik yang rendah, dan belanja piala dunia yang terlalu besar. Protes tersebut berlanjut hingga perhelatan Piala Dunia pada bulan Juni-Juli lalu.

Di Pilpres putaran kedua mendatang, Dilma akan berhadapan dengan kandidat sayap kanan, Aecio Neves. Dia dianggap mewakili kepentingan bisnis besar. Semenjak menjadi Gubernur di daerah Minas Gerais, pada tahun 2003, Neves sangat loyal menjalankan agenda neoliberalisme. Semasa menjadi Gubernur, Ia memangkas anggaran untuk kesejahteraan sosial.

Yang menarik, pada Pilpres putaran pertama lalu, Dilma mendapat seorang pesaing kuat, yakni Marina Silva. Dia adalah seorang aktivis lingkungan yang pernah berjuang bersama dengan Chiko Mendez. Ia juga pernah menempati jabatan Menteri Lingkungan di era pertama pemerintahan Lula Da Silva.

Pada tahun 2008, karena perbedaan pandangannya dengan pemerintahan Partai Buruh, Marina Silva meninggalkan jabatannya. Sejak itu ia menjadi pengeritik paling pedas terhadap kebijakan pemerintahan Partai Buruh di Brazil, terutama terkait dengan kebijakan pembangunan ekonomi yang berefek kepada lingkungan.

Pada tahun 2010, ia maju sebagai Capres yang diusung oleh Partai Hijau. Ia nyaris mendapat suara 20%. Belakangan, politik Marina Silva makin bergeser ke kanan. Ia menjadi penentang perkawinan sejenis dan hak aborsi. Ia juga menentang intervensi negara dan mulai percaya dengan kebajikan pasar. Ia berjanji meningkatkan hubungan perdagangan dengan AS.

Di bidang lingkungan, Silva juga banyak bergeser. Dari penentang benih rekayasa genetika/GMO menjadi tidak menentang. Ia juga mendukung produksi biofuel yang banyak ditolak aktivis lingkungan di Brazil. Ia juga kurang suka dengan kedekatan Brazil di bawah partai Buruh dengan Kuba dan Venezuela.

Di Pilpres kali ini ia maju dari Partai Sosialis Brazil (PSB), setelah partai ini kehilangan kandidat Presidennya, Eduardo Campos, akibat kecelakaan pesawat. Silva maju bersama wakilnya, Luis Roberto “Beto” Albuquerque, seorang yang dianggap sangat dekat dengan jaringan bisnis.

Pilpres putaran kedua mendatang diperkirakan akan berlangsung ketat. Sebagian besar pendukung Silva diperkirakan akan berpindah mendukung kandidat kanan, Aecio Neves. PSB dan PSDB sendiri memiliki platform yang relatif sama secara politik.

Pertarungan pada Pilpres putaran kedua mendatang adalah antara progressif versus neoliberal. Dua hari lalu, di hadapan para pendukungnya, Dilma sudah mengingatkan bahaya kembalinya “hantu masa lalu”, dalam hal ini PSDB dan agenda neoliberalnya, dalam gelanggang politik Brazil.

Menurut Dilma, rakyat Brazil tidak ingin ‘hantu-hantu masa lalu’ yang terjadi di era pemerintahan PSDB, seperti resesi ekonomi, pengangguran yang tinggi, dan upah yang sangat rendah. Menurutnya, PSDB telah membangkrutkan Brazil tiga kali dan tidak pernah mempromosikan kebijakan sosial dan pengurangan ketimpangan ekonomi.

Kemenangan Dilma menjadi penting, bukan saja untuk kelanjutan kekuasaan pemerintahan Partai Buruh dan kebijakan progressifnya di Brazil, tetapi juga efek politiknya dalam kerangka menjaga proyek integrasi Amerika Latin dalam gelombang yang makin ke kiri.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut