Relawan Pilpres Dan Pewadahan Rakyat

Hiruk pikuk Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 seakan tak pernah hilang sekejap dalam pandangan mata dan pikiran rakyat Indonesia. Sejak pendeklarasian masing-masing calon presiden, hampir tiap hari bahkan tiap jam keingintahuan kita tentang perkembangan kampanye pilpres mengalahkan pemberitaan World Cup (Piala Dunia) 2014 di Brazil.

Hiruk pikuk ini juga banyak diwarnai dengan banyaknya kelompok masyarakat (relawan) yang menyatakan dukungan kepada kedua pasang kandidat. Mulai dari politisi yang tadinya menyatakan netral sampai pada kelompok-kelompok seniman yang tadinya sangat apolitis. Mereka sangat antusias untuk terlibat aktif dalam pemenangan calon presiden masing-masing.

Deklarasi dari relawan ini tentunya sebual hal yang lumrah dalam arena pertarungan pemilihan, apalagi sekelas pemilihan presiden. Dan, karena pilpres 2014 hanya diikuti oleh 2 pasang kandidat, makan suasana atau hawa pertarungan pun sangat terasa sampai pada tingkatan akar rumput. Di Madura, Jawa Timur, dua tukang becak saling pukul hanya karena soal beda pilihan dalam pilpres kali ini.

Dalam kerangka untuk memenangkan sebuah kompetisi pemilihan Presiden, relawan dianggap sebagai pewadahan dari beragam kelompok yang ingin mendukung pasangan calon. Metode pewadahan seperti ini memang sangat menguntungkan bagi para kandidat:selain bisa memperbanyak kelompok yang ingin bergabung yang tidak masuk dalam partai pengusung, kelompok relawan ini juga bisa dimanfaatkan menjadi ujung tombak untuk menjangkau wilayah-wilayah yang tidak bisa disentuh oleh tim dari masing-masing pasangan capres.

Dengan hadirnya relawan-relawan tersebut, maka kerja-kerja pemenangan tentunya semakin mudah buat pasangan calon. Semakin banyak rakyat yang terwadahi dalam kelompok pemenangan maka semakin terbuka peluang untuk mendapatkan kemenangan. Kerja pemenangan dari masing-masing kelompok relawan tentunya tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk mengumpulkan orang, tetapi harus bermakna lebih. Dalam artian, pengelompokan rakyat dalam sebuah wadah kelompok relawan harus mampu dimanfaatkan memajukan kesadaran rakyat.

Patut dicermati bahwa khusus di pilpres 2014 ini dua pasang calon presiden dan wakil presidenmemiliki kemiripan program, yakni kemandirian nasional. Isu kemandirian nasional dan sentimen ekonomi kerakyatan menjadi isu utama dari kedua pasang calon. Dalam konteks inilah relawan yang telah dibentuk harus menajamkan program dari masing-masing capres. Ini penting dilakukan oleh relawan dikarenakan:

Pertama, para relawan lebih dekat dan lebih banyak bersentuhan dengan rakyat sebagai pemilih, sedangkan para kandidat capres/cawapres kemungkinan tidak punya banyak waktu menjangkau rentang kendali wilayah pemenangan.

Kedua, relawan pemenangan penting menajamkan program agar program yang tadinya masih abstrak, kabur, dan ragu-ragu bisa lebih obyektif bagi rakyat. Ini penting dilakukan agar rakyat bisa melihat dan mengetahui program dari masing-masing capres secara rasional dan obyektif.

Ketiga, kerelaan untuk membentuk sebuah kelompok pemenangan sudah pasti dikarenakan kesamaan program dan kecintaan terhadap calon yang diusung. Karena itu,manakalacapres terpilih tidak konsisten dengan program dan agendanya, sudah pasti akan dilawan. RELAWAN, rela ga rela ya harus dilawan.

Alif Kamal, Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPPPRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut