Nicolas Maduro Dilantik Sebagai Presiden Venezuela

Rakyat Venezuela akhirnya resmi memiliki Presiden baru. Majelis Nasional (DPR-nya Venezuela) melantik Nicolas Maduro, pemenang dalam Pemilu Presiden hari minggu lalu, sebagai Presiden Konstitusional Republik Bolivarian periode 2013-2019.

Dalam proses formal di Majelis Nasional, Nicolas Maduro diambil sumpahnya sebagai Presiden oleh Presiden Majelis Nasional Venezuela, Diosdado Cabello.

“Saya bersumpah kepada seluruh Rakyat Venezuela, kepada Comandante Tertinggi (Hugo Chavez), bahwa saya akan patuh dan menghormati konstitusi Republik…untuk membangun bangsa sosialis, merdeka, dan independen untuk semua,” ujar Maduro dalam sumpahnya.

Cabello dan putri Comandante Chavez, Gabriela Chavez, memasang “ikat pinggang Presiden”—kain berwarna bendera nasional yang dililitkan dari pundak ke pinggang—kepada Nicolas Maduro.

Prosesi ini dihadiri oleh perwakilan 61 negara dan 17 Kepala Negara atau Presiden dari sejumlah negara. Sejumlah Presiden dari Amerika Latin, seperti Cristina Fernandez (Argentina), Evo Morales (Bolivia), Raul Castro (Kuba), Dilma Roussef (Brazil), juga hadir dalam prosesi itu.

Namun, terjadi insiden ketika Maduro baru memulai pidatonya. Seorang pria berjaket merah tiba-tiba merebut mikrofon dan menyampaikan sebuah pernyataan. Namun, kejadian itu berlangsung singkat dan terekam oleh sejumlah Televisi.

Dalam pidato pertamanya sebagai Presiden, Maduro berbicara banyak tema, seperti warisan Hugo Chavez dan proyeksinya mengenai masa depan Revolusi Bolivarian.

Pidato Maduro juga menyinggung kejadian beberapa hari lalu di Venezuela, ketika kandidat oposisi Henrique Capriles menolak mengakui kekalahan elektoral.

Maduro juga mengeritik Capriles yang memerintahkan pendukungnya turun ke jalan dan memicu kekerasan di sejumlah tempat di Venezuela. Padahal, ada mekanisme konstitusional untuk menggugat hasil pemilu tanpa harus memaksakan kekerasan.

Maduro juga mengeritik strategi oposisi yang menebarkan “xenophobia” di Venezuela, misalnya kebencian terhadap orang Kuba dan dokter-dokter Kuba yang sedang bertugas di Venezuela.

Menurut Maduro, sentimen xenophobia ini harus bertanggung jawab atas penyerangan terhadap dokter-dokter Kuba di klinik-klinik kesehatan (CDI) beberapa hari lalu.

Dialog dan Revolusi

Dalam pidatonya, Maduro menyatakan akan fokusi bekerja dengan berbagai sektor rakyat Venezuela, termasuk yang menentangnya. Dia juga menyatakan menghormati suara oposisi, yakni 7.303.648, yang memilih Henrique Capriles.

Namun, ia mengeritik metode oposisi, yang lebih mengutamakan kekerasan ketimbang jalur konstitusional dalam menggugat hasil pemilu.

“Untungnya negara kami sangat kuat, rakyat dan angkatan bersenjata bersatu. Dan kami memiliki rakyat yang sadar, yang tidak bisa menerima skenario kekerasan. Kita mengalahkan mereka,” kata Maduro.

Maduro juga mengeritik kampanye intoleran yang dilakukan oposisi terhadap dokter-dokter Kuba. Ia menyayangkan aksi kekerasan yang dilakukan kelompok oposisi terhadap staff klinik kesehatan yang sebagian adalah orang Kuba.

Dia menegaskan, bahwa enam tahun pemerintahannya akan melanjutkan Revolusi Bolivarian untuk memajukan bangsa di politik, ekonomi dan sosial. “Hanya sosialisme yang bisa mengatasi kesenjangan sosial,” tegasnya.

Maduro menekankan apa yang disebut “revolusi dari revolusi”, yang berusaha memperdalam capaian revolusi Bolivarian di segala aspek ekonomi, politik, dan sosial.

Dia juga berjanji untuk berjuang mengatasi kejahatan, melawan inefisiensi birokrasi, dan memberantas korupsi. Dia juga berjanji akan meningkatkan produksi sembari menangani kekurangan dan sabotase ekonomi.

Yang menarik, Maduro bertekad akan mencapai sebuah cita-cita ambisius, yakni “nol kemiskinan”, pada tahun 2019 mendatang. Untuk mewujudkan ambisinya, Maduro akan menekankan program sosial dan program anti-kemiskinan lainnya.

Maduro juga bertekad melakukan “revolusi demokratis”, yang mempromosikan Dewan Komunal dan Komune menuju “corak kehidupan sosialis”. Dia menegaskan bahwa hal ini tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah, melainkan oleh massa-rakyat.

UNASUR Dan Gerakan Non-Blok Dukung Hasil Pilpres Venezuela

Perhimpunan Negara-Negara Amerika Selatan (UNASUR) dan Gerakan Non-Blok mengakui Nicolas Maduro sebagai Presiden.

Setelah pada hari Kamis (19/4) menggelar pertemuan mendadak di Peru, Lima, negara-negara UNASUR menyatakan “mengucapkan selamat kepada Presiden Nicolas Maduro atas terpilihannya sebagai Presiden.”

Delapan kepala negara yang hadir di pertemuan itu mengakui hasil pemilu Presiden Venezuela. Meskipun, Presiden Brazil Dilma Roussef dan Presiden Peru Ollanta Humala mengungkapkan keprihatinan atas ancaman ketidakstabilan politik di Venezuela.

Dalam statemennya, UNASUR meminta semua sektor yang terlibat dalam pemilu Venezuela untuk menghormati hasil pemilu Presiden.

Sementara itu, Gerakan Non Blok yang meliputi 120 negara melalui juru bicaranya, Mohammad Khazaee, menyerukan stabilitas dan penghentian kekerasan di Venezuela.

“Venezuela, di bawah Nicolas Maduro, akan melanjutkan berkontribusi dalam konsolidasi kesatuan Non-Blok dan akan berjuang bersama untuk mempertahankan prinsip gerakan (Gerakan Non Blok,” katanya.

Sementara itu, AS masih bersikukuh pada posisinya untuk menolak mengakui Nicolas Maduro sebagai Presiden dan secara langsung memberikan dukungan politik terhadap oposisi-fasistik Henrique Capriles.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Kemenangan rakyat Venezuala dibawah Maduro, merupakan kemenangan rakyat2 cinta damai dalam perjuangan mereka untuk kebebasan dan ketidak ketergantungan dari dikte negeri asing.