Kartini dan Ide Revolusionernya

Jika selama ini gagasan emansipasi hanya dikaitkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, emansipasi yang digagas Kartini justru lebih tinggi. Ia mengimpikan keadilan sosial dan kesetaraan umat manusia.

Mari sejenak mengenangkan masa kanak-kanak, ketika masih di Sekolah Dasar. Peringatan 21 April kerap dirayakan dengan lomba bernyanyi, Ibu Kita Kartini, syair yang digubah W.R Supratman. Dari situlah boleh jadi pertama kali kita mengenal Kartini, kebesarannya, keperempuanannya, dan cita-citanya. Kita tidak akan langsung berkenalan dengan sekian banyak ide-ide yang disampaikan, tapi hanya dicukupkan pada “sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia”. Lantas, apa yang dicita-citakan bagi Indonesia?

Akhir abad-19, Kartini hidup dalam kebudayaan pingitan. Saat itu, perempuan keturunan bangsawan tidak memiliki kebebasan dan hanya dapat menerima apa yang diberikan lingkungannya. Namun, dalam masa pingitan itulah ia terlibat dalam pergulatan pemikiran.

Di masanya, istilah “Indonesia” belum dikenal. Ia hanya mengenal lingkungan Jawa, jajahan Hindia Belanda, sebagai tanah kelahirannya. Istilah “Indonesia” baru dikenal sekitar tahun 1920-an, belasan tahun pasca Kartini tutup usia. Meski begitu, ia mengenal “seorang pemuda Sumatera” yang menginginkan kemajuan bangsanya agar  tak lagi berada di dalam kolonial Belanda: Agus Salim, siswa Hogere Burgere School, pribumi pertama yang lulus dengan nilai tertinggi diseluruh Hindia Belanda tetapi terkendala biaya untuk melanjutkan pendidikan. Lalu, Kartini merekomendasikan Agus Salim untuk menggantikan dirinya berangkat ke Belanda.

Pramoedya A. Toer merangkum Kartini sebagai pemula zaman modern Indonesia dan sekaligus sebagai  peletak dasar gagasan Indonesia merdeka. Pikirannya tajam dalam memandang masa depan dan punya visi mengenai bangsanya. Tentang hal itu, Kartini menulis,“ Aduhai, bagaimana kami melukiskan rasa haru kami yang mendalam, ketika pertama kali, kami tahu apa yang kami inginkan, ketika cita-cita dalam pandangan kami begitu jelas dan terang. Kami hendak bekerja untuk  bangsa kami, membantu mendidiknya, mengangkatnya ke tingkat derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Begitu bagus dan indah cita-cita yang berkilauan dan bersinar di hadapan kami”. [ Surat Kartini kepada E.H. Zeehandelaar 25 April 1903]

Kartini hidup ketika kolonialisme masih kuat mencengkeram dan feodalisme masih menancap kuat. Namun, berkat politik etis, sejumlah pribumi bisa mengenyam pendidikan barat. Termasuk ayah Kartini. Kartini sendiri dianggap produk politik etis itu. Namun, tak bisa disangkal, bahwa Kartini merupakan salah satu perempuan yang bisa menulis dengan bahasa Belanda yang baik. Karena itu, setelah kematiannya tanggal 17 September 1904, ia tak hanya dikenal sebagai istri seorang Bupati, tetapi juga karena pemikiran dan gagasannya.

Ia kukuh mengeritik feodalisme—setidaknya sistim sosial yang mengukuhkan otoritas kebangsawanan/keningratan. Melalui penanya, ia mengeritik keras laku kaum bangsawan itu. Tetapi ia juga mengeritik laku orang-orang Eropa yang tak kalah kejamnya dibanding penguasa pribumi. Misalnya, dia menulis:“Saya pernah melihat, bagaimana seorang Eropah yang sama sekali tidak bodoh, bahkan sebaliknya sangat terpelajar, pada suatu perayaan rakyat dengan cara yang keji mula-mula memukul seorang anak, kemudian seorang perempuan dan seorang gadis, hanya karena orang-orang itu kurang menyisih untuk tuan besar itu. Saya tekan gigi kuat-kuat agar tidak terucapkan suara apapun. Tiap pukulan rasanya mendera saya.” [Surat Kartini Kepada E.C Abendanon, 17 Agustus 1902].

Melalui pergaulannya dan interaksinya dengan dunia luas—termasuk melalui korespondensi, Kartini membandingkan kehidupan Eropa dan kehidupan bangsanya. Ia antara lain menulis begini: “Di Hindia orang berhak pensiun sesudah 10 tahun. Hindia memang surga bagi pegawai, bukan? Meskipun begitu, sejumlah orang Belanda mengumpat  Hindia sebagai negeri Kera yang brengsek. Saya dapat menjadi marah sekali, kalau saya mendengar orang mengatakan Hindia brengsek. Orang terlalu sering lupa bahwa negeri kera yang brengsek itu telah mengisi beberapa saku kosong dengan emas.”  [Surat Kartini kepada E.H. Zeehandelar 6 November 1899].

Ia menyaksikan ketidakadilan, masyarakat pribumi dianggap sebagai manusia hina, mahluk primitif, sementara para pendatang Eropa merampas dan menjadi kaya dari Hindia Belanda.

Adalah J.H Abendanon Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, teman korespondensi Kartini. Ia menerbitkan surat-surat Kartini pada tahun 1911. Buku inilah yang semakin membuat Kartini dikenal luas kalangan bangsanya. Cita-cita Kartini oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda, pada 25 Desember 1911, diadopsi sebagai program organisasi–paham nasionalisme baru.

Dalam buku yang diterbitkan Abendanon, Kartini digambarkan sebagai perempuan yang berjuang untuk kesetaraan kaumnya. Hanya sampai disitu. Ada banyak dokumen surat Kartini yang tidak dipublikasikan, entah di sengaja dihilangkan atau tidak. Tidak terpublikasikannya surat-surat Kartini tentunya berhubungan erat dengan posisi Belanda sebagai penjajah. Betapa tidak, Kartini merupakan penanda awal babak baru kebangkitan kaum pribumi. Jika selama penjajahan perlawanan bersifat kedaerahan, kadang dengan angkat senjata, maka Kartini menandai perlawanan gagasan dan cita-cita perjuangan untuk sesuatu yang lebih luas: kemanusiaan.

Gagasan-gagasan Kartini banyak mempengaruhi tokoh pergerakan nasional di masa berikutnya. Organisasi perempuan terbesar dan paling progressif di tahun 1960-an, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), menamai korannya “Api Kartini”. Pramoedya Ananta Toer menyebut Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama.

Sayangnya, sejak orde baru berkuasa hingga sekarang, Kartini hanya disimbolkan dengan sanggul dan kebaya. Ia juga hanya dikenal sebagai pejuang emansipasi. Parahnya lagi, organisasi-organisasi perempuan di jaman orba, yang mengaku “pengikut Kartini”, tak ubahnya organisasi istri pendukung karir suami. Padahal, ketika masih hidup, Kartini sudah mengeritik peran perempuan semacam itu. Kartini sendiri pernah menyindir, “Orang perempuan itu bukan apa-apa. Orang perempuan itu diciptakan untuk kesenangan orang laki-laki. Mereka dapat berbuat sekehendaknya terhadap orang perempuan.”  [Surat Kartini kepada Mandri/ R.M Abendanon, Agustus 1900]

Door Duisternis Tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang.  Maknanya begitu kuat: menerangi sebuah bangsa yang sedang digelapi oleh kolonialisme ratusan tahun. Kartini memang telah lama mati, namun kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan, apakah yang dicita-citakan Kartini sudah terwujud? “Perubahan dalam seluruh dunia bumiputra kami akan terjadi;  titik baliknya sudah ditakdirkan. Tetapi kapan? Inilah masalahnya. Kita tidak dapat mempercepat jam revolusi.” [Surat Kartini kepada E.H. Zeehandelar 6 November 1899].

Kartini merupakan tokoh  penting dalam sejarah Indonesia, penganjur pembaharuan, ide-idenya tak lekang dimakan zaman.  

Sahat Tarida, kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut