Mahasiswa Samarinda Kritik Ujian Nasional

Sedikitnya 50-an mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan Indonesia (AMPPI) menggelar aksi massa di perempatan Mall Lembuswana, Samarinda, Jumat (19/4/2013).

Dalam aksinya, AMPPI mengeritik pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang kacau-balau. Mereka menganggap kacau-balaunya pelaksanaan UN sebagai bukti carut-marutnya pendidikan di bawah rezim SBY.

“Ujian Nasional sudah terbukti gagal. Selain menggerus anggaran negara cukup banyak, UN juga gagal memperbaiki kualitas pendidikan,” kata Muhamad Jamil, salah seorang orator dalam aksi ini.

Jamil, yang juga ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Samarinda, mengatakan, dengan biaya sebesar  Rp 94,8 milyar, pelaksanaan UN sering dijadikan lahan bisnis.

Menurut Jamil, kualitas pendidikan seharusnya tidak diukur dengan proses ujian selama 4 hari, melainkan dari proses pembelajaran dan interaksi sosial yang berlangsung selama anak didik menjadi murid di sekolah tersebut.

Dalam aksinya, AMPPI juga menolak praktek neoliberalisme yang makin merajalela di dunia pendidikan. Menurut mereka, neoliberalisme telah mengubah pendidikan sebagai barang dagangan.

“Pendidikan itu hak dasar rakyat. Itu ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945 dan dalam pasal 31 UUD 1945. Jadi, pendidikan tidak bisa dijadikan barang dagangan untuk mencari keuntungan,” ujar Jamil.

Untuk diketahui, AMPPI merupakan gabungan dari sejumlah organisasi, seperti seperti LMND, KAMMI, BEM Unmul, BEM FKIP Unmul, BEM Fekon Unmul, LSM GARAP, HIMAPKN, BEM Polnes.

Rahman

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut