Naik Mobil Aklamasi Darmin

(sebuah laporan situasi sepanjang fit and proper test calon Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Komisi XI DPR RI pada sekitar minggu ketiga Juli 2010, dari seseorang kawan seperjuangan yang tidak ingin diungkap namanya)

Ada hal-hal menarik sepanjang proses pemilihan Darmin Nasution sebagai gubernur BI. Hal-hal itu mungkin tidak terbaca oleh sebagian orang, tapi menguatkan indikasi adanya permainan di balik pencalonan (pencaloan?) Darmin.

Hal-hal itu antara lain:  Sidang dilanjutkan dengan agenda jawaban Darmin atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberikan kemarin. Ada tambahan pertanyaan tapi hanya memperdalam pertanyaan sebelumnya. Sampai sini semua nampak wajar saja. Setelah skors pada saat maghrib barulah terlihat ada kejanggalan-kejanggalan, di antaranya perubahan mekanisme pemilihan.

Semula disepakati bahwa pemilihan calon gubernur BI diselesaikan melalui voting. Ternyata mendadak beberapa anggota dewan mengusulkan agar Darmin Nasution dipilih secara aklamasi. Padahal petugas sekretariat sudah menyiapkan perangkat untuk voting. Spontan pimpinan sidang meminta wartawan keluar ruangan dengan alasan pemilihan dilakukan tertutup. Lamat-lamat terdengar perdebatan di antara anggota dewan di dalam ruangan.

Beberapa pengamat seperti Adhie Massardi, Ichsanudin Noorsy dan lain-lain meminta agar pemilihan dilakukan terbuka. Pernyataan mereka dimuat sejumlah media.

Pertemuan Rahasia Empat Sekawan

Rapat kemudian diskors. Beberapa anggota dewan masih berdebat di dalam. Sebagian lagi keluar ruangan.

Achsanul Qosasih nampak keluar buru-buru bersama Emir Moeis (PDIP), Harry Azhar Azis (Golkar) dan Surahman Hidayat (PKS). Mereka berempat keluar dari Kompleks Senayan dengan menggunakan satu mobil. Pemandangan ini tidak disadari para wartawan.

Perlu diingat, Harry Azhar Azis dan Surahman Hidayat adalah nama yang masuk dalam bongkar pasang komisi. Tiga hari menjelang proses uji kelayakan Darmin, mereka diangkat menjadi wakil ketua komisi.

Ketok Palu

Beberapa waktu kemudian mereka kembali. Emir Moeis masuk ruangan lebih dulu dan mengambil alih pimpinan rapat. Ia langsung mengetuk palu bahwa rapat sepakat untuk secara aklamasi memilih Darmin Nasution sebagai gubernur BI. Sontak sejumlah anggota dewan kaget. Ecky Awal Muharam dari PKS mempertanyakan hal ini. Muchtar Amma (Hanura), Dolfie EFP dan Eva Kusuma Sundari (PDIP) menyatakan keberatan.

Namun, Emir Moeis bersikeras. Rapat diskors lagi. Masing-masing fraksi mengadakan rapat internal.

Setuju dengan Catatan

Rapat kemudian dinyatakan terbuka agar nampak demokratis. Emir Moeis menjelaskan, proses yang dipilih adalah aklamasi, bukan voting. Alasannya, kalau pemilihan deputi gubernur cukup lewat voting karena hanya menyangkut soal integritas. Sementara pemilihan gubernur menyangkut soal kapabilitas, track record dan lain-lain sehingga harus mufakat. Bagi yang menolak, diberi kompensasi bahwa penolakannya akan dipakai sebagai catatan.

Jadi, skenarionya adalah: secara aklamasi setuju tapi dengan catatan. Masing-masing fraksi kemudian rapat lagi. Kembali ke forum, mereka tinggal membacakan pemandangan fraksi. Pimpinan rapat dialihkan ke Surahman Hidayat.

Muncul sejumlah interupsi sehingga rapat jadi molor. Sementara pimpinan rapat terlihat hanya sebagai fasilitator dan pengetuk palu, sama sekali tidak mengendalikan rapat. Setelah interupsi terakhir barulah ia mengatakan bahwa tiba saatnya pandangan fraksi-fraksi.

Giliran pertama, Fraksi Demokrat. Hanya dengan satu kalimat, Demokrat menyatakan menyetujui Darmin Nasution sebagai gubernur BI.

Giliran kedua, Fraksi Golkar. Golkar bersikeras bahwa Darmin masih diduga terlibat kasus Century. Golkar juga meminta agar Darmin memiliki kebijakan yang mendukung UKM. Meskipun berpanjang lebar dan mengambang, pesannya jelas: Golkar menyetujui dengan catatan.

Giliran ketiga, Fraksi PDIP. Disebutkan, PDIP meminta Darmin berpihak ke sektor riil dan mengutamakan kedaulatan keuangan negara. Sama dengan Golkar, PDIP setuju dengan catatan.

Giliran keempat, Fraksi PKS.  PKS berpesan agar perbankan nasional menjadi tuan di negeri sendiri. Pesan lainnya, mengembangkan perbankan syariah dan pengendalian suku bunga. Intinya sama dengan dua fraksi sebelumnya, setuju dengan catatan.

Giliran kelima, Fraksi PPP. Mahmud Yunus membacakan permintaan, jika di kemudian hari Darmin jadi terdakwa dalam kasus Century, maka ia harus mundur. Gubernur BI juga harus menjaga integritas bangsa dan mampu menurunkan suku bunga serta berpihak ke ekonomi kecil. Lagi-lagi sama, setuju dengan catatan.

Giliran keenam, Fraksi PKB. Singkat dan padat. Setuju dengan catatan, bila terbukti bersalah dalam kasus Century maka Darmin harus mundur.

Giliran ketujuh, Fraksi Gerindra. Sama dengan PKB.

Giliran kedelapan, Fraksi Hanura. Sama.

Giliran kesembilan, Fraksi PAN. Seragam.

Kesimpulan dari pandangan fraksi, semua setuju dengan catatan. Perbedaannya hanya pada waktu kapan Darmin harus mundur dari jabatan Gubernur BI jika terbukti bersalah dalam kasus Century: apakah ketika jadi tersangka atau terdakwa.

Fraksi yang memilih tersangka: Golkar, Demokrat, PDIP, dan Hanura.

Fraksi yang memilih terdakwa: PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra.

Telpon Achsanul Qosasih

Tibalah saatnya mengakhiri rapat. Belum selesai pimpinan sidang mengetuk palu, Achsanul Qosasih sembari tersenyum menelepon Darmin Nasution. “Pak Darmin, beres. Selamat ya, Anda jadi gubernur BI. Sukses…sukses…”

Dolfie ESP yang ada di sebelahnya nampak geregetan. Ia langsung menegur Achsanul Qosasih, “Lho, kok Anda begitu. Apa kapasitas Anda memberitahu Darmin soal keputusan ini?” Qosasih yang belum sempat menaruh ponselnya agak gagap karena kaget. “O, gak apa-apa. Cuma kasih selamat saja,” katanya.

Kemenangan Fraksi, Kekecewaan Anggota

Semua fraksi akhirnya meloloskan Darmin sebagai gubernur BI. Tapi keputusan partai ini tidak serta merta mencerminkan suara hati semua anggotanya. Kepada Jurnalparlemen.com, sejumlah saksi mengungkapkan rasa kecewanya.

Sadar Soebagyo (Gerindra) menggerutu, aklamasi dengan catatan sangatlah aneh. Sebab, tidak mungkin Darmin bisa begitu saja mengubah kebijakan sesuai catatan-catatan anggota dewan. Apalagi poin-poin catatannya terbilang sulit diekskusi.

Edison Bataubun (Golkar) dengan nada kesal menyatakan kecewa dengan konspirasi pimpinan partainya dengan Demokrat.

Cecep Syarifudin sembari berbisik mengatakan bahwa secara kapasitas, terlebih dari jawaban yang diberikan dalam uji kelayakan,  “Darmin Nasution sangat tidak layak jadi gubernur.” Dalam rapat fraksi ia sudah mengemukakan alasan rasional tentang penolakannya kepada Darmin. Namun, katanya, “Ada tekanan dari atas. Ada intruksi dari Muhaimin, kita harus milih Darmin. Tidak boleh dibantah. Ya sudah, ikut sajalah..”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Ini membuktikan bahwa sekalangan anggota dewan yang terhormat telah bertaruh. apakah hanya dengan konsesi-konsesi buta dan kontrak politik yang rawan terkhianati, kita akan masih memasang agen neolib sebagai pemmpin Bank Sentral? Bukankah ada juga rumor bahwa kemungkinan dapat terjadi Skandal Century Jilid II di tahun 2013-2014 dengan naiknya Darmin ini…

    Pertanyaannya, jika ada bail out jilid 2 untuk capres, mungkin tidak lagi untuk menaikkan SBY. mungkin Darmin akan lebih memilih SMI untuk “dibantu”

    siapkah kita?

  • komindo

    mhhhhhhh…