27 Juli 1996: Monumen Perjuangan Demokrasi

HUJAN rintik mengguyur wilayah Jakarta, termasuk di jalan Diponegoro 58, tempat yang saksi kekejian rejim Soeharto 14 tahun yang lalu. Sebuah peringatan kecil dilakukan di tempat tersebut, yang merupakan bekas Kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI), oleh sekumpulan orang yang dikenal sebagai korban peristiwa 27 Juli 1996.

Meskipun rata-rata sudah berusia tua, namun mereka masih nampak tegar dan bersemangat, bahkan begitu lantang meneriakkan; Tuntaskan kasus 27 Juli sekarang juga! Mereka merupakan anggota dari Forum Komunikasi Kerukunan (FKK) 124, sebuah perkumpulan para korban tragedi 27 Juli yang setiap tahunnya berjuang untuk mencari titik terang mengenai kejadian tersebut.

Pada tanggal 27 Juli 1996, sekitar pukul 05.00 WIB, Serombongan pasukan berbaju merah — kaus PDI — bergerak menuju Diponegoro 58, yang konon kabarnya diangkut oleh 8 truk militer. Badan mereka kekar dan rambutnya cepak. Senjata mereka lengkap: dari batu, pentungan, sampai senjata api yang dilengkapi dengan bayonet di ujungnya.

Saat penyerangan berlangsung, sebagian besar massa pendukung Megawati sedang tertidur lelap karena kecapean, sebagaian sedang bermain catur, dan sebagian berjaga-jaga. Karena jumlah penyerbu sangat besar dan bersenjata lengkap, maka massa pendukung Mega pun agak terdesak ke dalam.

“Situasi saat itu masih gelap, tidak bisa melihat dengan jelas, sehingga kami kesulitan untuk menghalau para penyerbu berkaos merah itu. Mereka sudah masuk dengan golok, parang, dan bayonet. Ada banyak korban yang berjatuhan saat itu,” ujar Elsye Mailoa, 48 tahun, salah satu korban 27 Juli yang mengalami langsung kejadian tersebut.

Setiap kali mengenang peristiwa berdarah itu, Elsye mengaku bahwa pihaknya selalu terkenang dengan korban yang berjatuhan, bahkan masih banyak korban 27 Juli yang belum diketahui di mana rimbanya.

Ketika Megawati berkuasa, Elsye dan kawan-kawan menaruh harapan besar bahwa kasus ini akan segera terungkap, dan nasib kawan-kawan mereka bisa diperjelas. Namun, cerita berbicara lain, Megawati justru menunjuk Sutiyoso, salah satu tokoh kunci penyerbuan saat itu, sebagai gubernur DKI Jakarta.

Senada dengan Elsye, sesepuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Saban Sirait, menegaskan, ada banyak pihak yang kecewa karena peristiwa ini tidak pernah jelas dan para pelakunya bisa diadili.

“Pihak yang bisa menjelaskan kasus ini adalah pengadilan. Mereka punya kekuasaan untuk memanggil para pelaku untuk menjelaskan kejadian itu. Kenapa ada pengerahan pasukan? Kenapa ada korban?” katanya kepada Berdikari Online.

Saban Sirait menjelaskan, siapapun yang menjadi pemerintahnya, mereka tidak boleh melupakan kasus ini. “pemerintah itu harus sesuai dengan janji kampanyenya, omongannya. Terutama soal penegakan hukum,”tegasnya.

Harus diakui, bahwa peristiwa 27 Juli merupakan tonggak sejarah yang penting dalam perjuangan demokrasi melawan kediktatoran Soeharto. Beberapa jam setelah kejadian penyerbuan itu, massa rakyat pun bergerak di berbagai titik di Jakarta. Di megaria, ribuan massa sudah berkumpul dan berusaha menjebol barikade polisi dan tentara. “Mega pasti menang, pasti menang, pasti menang…..,” demikian pekikan mereka.

Dalam kejadian demikian, rakyat telah mengambil pelajaran penting mengenai watak sesungguhnya dari rejim Soeharto, dan segera saja setelah mendengar penyerbuan kantor PDI, rakyat di Ibukota terlibat pertempuran dengan militer dan polisi di mana-mana. Hari itu, di seluruh Jakarta, rakyat telah menjadi bagian penting dalam perjuangan melawan kediktatoran Soeharto.

Agus Priyono, ketua umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai yang segera dikambing-hitamkan oleh Soeharto setelah kejadian itu, menyebut kejadian ini sebagai salah satu periode ‘kebangkitan” perlawanan rakyat menghadapi rejim Soeharto.

Melalui mimbar demokrasi dan selebaran, kata Agus Jabo, rakyat mulai mengetahui wajah asli rejim Soeharto, yang sebelumnya selalu dibungkus dengan senyum manis sang diktator dan berbagai propoganda-propoganda pemerintah yang sangat sistematis.

Untuk itu, peristiwa 27 Juli tidak sekedar milik PDI Perjuangan, melainkan bagian penting dari perjuangan rakyat Indonesia melawan kediktatoran Soeharto. (Ulf)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut