Merekam Sejarah Perjuangan Bangsa Dengan Berkeliling Menggunakan Sepeda Ontel

Puluhan mahasiswa dan aktivis pergerakan di Surabaya, Jawa Timur, berusaha merekam sejarah perjuangan bangsa dengan berkeliling tempat bersejarah di menggunakan sepeda onthel, kemarin (12/8).

Mereka menyusuri jalanan kota Surabaya sejauh 10 kilometer. Di dalam perjalanan, para aktivis sempat berziarah ke makam WR Supratman di Jalan rangkah Kenjeran dan makam Bung Tomo di Ngagel Surabaya.

Sejumlah organisasi pergerakan di kota Surabaya pun turut dalam kegiatan ini. Diantaranya: SBK-KP KSN, FAM Unair, SKMR, SMI Surabaya, dan IKOHI Jatim.

Para peserta juga mengenakan pakaian unik, yakni pakaian tempo dulu dan pakaian adat. Hal ini, kata Catur Wibowo, salah seorang panitia aksi, bertujuan untuk meresapi jejak langkah dan semangat para pejuang kemerdekaan, sedangkan pakaian adat menyimbolkan bahwa bangsa Indonesia ini di bangun oleh orang-orang dari berlatar belakang suku dan agama yang berbeda-beda.

Dengan kegiatan ini, Catur dan kawan-kawannya berharap bahwa hal itu bisa menyegarkan kembali ingatan sejarah tentang sebuah cerita perjuangan anak bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Pengembalian kisah perjuangan kemerdekaan dulu itu semakin terasa penting ketika saat ini telah sama-sama kita rasakan bersama terjadinya krisis multidimensi yang di alami oleh bangsa Indonesia,” katanya.

Menurut Catur Wibowo, krisis kebangsaan ini akan mudah kita lihat dengan merajalelanya praktek korupsi, penjarahan sumber daya alam oleh pihak asing, penggusuran tanah rakyat, politik upah murah, dan kesulitan rakyat memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Semoga kita semua akan juga bisa mengambil pelajaran dan meneladani keberanian dari para pejuang dulu dalam mengembalikan Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat baik dalam bidang politik, ekonomi dan budaya,” katanya.

Surabaya sendiri adalah salah satu pusat sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Soekarno sendiri menyebut kota ini sebagai “dapurnya nasionalisme”. Di kota inilah pertama-kali aktivitas pergerakan anti-kolonialisme disusun.

Selain melahirkan sejumlah peristiwa besar, seperti pemberontakan di kapal tujuh (zeven Provincien) dan pertempuran heroik 10 November 1945, kota Surabaya juga melahirkan tokoh-tokoh besar dalam perjuangan bangsa seperti HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Soemarsono, Bung Tomo, dan lain-lain.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut