Bagaimana Venezuela Memenuhi Kebutuhan Sembako Rakyatnya

2 Agustus 2011: siang itu ratusan warga sudah berkumpul di acara pembagian sembako oleh sebuah tempat ibadah di Bogor. Begitu panitia memulai pembagian, ratusan warga ini pun menyerbu ke depan dan saling berebut. Banyak warga, umumnya ibu-ibu, rela terinjak-injak demi berebut makanan.

Kejadian itu sudah menjadi panorama dalam setiap pembagian sembako di Indonesia. Maklum, sekalipun negeri ini dikenal dengan kekayaan alamnya, tetapi sembako menjadi barang mahal bagi rakyatnya. Bahkan, pada September 2008, acara pembagian sembako di Pasuruan, Jawa Timur, menelan 21 korban jiwa.

Venezuela, sebelum Hugo Chavez berkuasa, juga merasakan hal yang semacam itu. Pada tahun 1960, jumlah penduduk pedesaan Venezuela hanya 35%. Tetapi, pada tahun 1990-an, jumlah penduduk pedesaan Venezuela tinggal 12%. Mayoritas penduduk desa berpindah di kota, ketika negeri itu sedang mengalami “boom minyak”.

Setelah itu, produksi pangan pun jatuh. Sekitar 70% kebutuhan pangan rakyat Venezuela bergantung kepada impor. Padahal, lebih dari separuh penduduknya dikategorikan miskin, dan sekitar 45% diantaranya masuk kategori “kemiskinan ekstrem”. Ketergantungan impor inilah yang membuat rakyat Venezuela sering menjerit ketika harga pangan dunia tiba-tiba melonjak naik.

Karena sebagian besar kebutuhan pangan diimpor, maka rakyat Venezuela pun harus membeli sembako di mall-mall dan supermarket. Harga pangan di supermarket Venezuela sama dengan harga pangan di supermarket AS. Padahal, upah minimum di Venezuela saat itu hanya 11 USD per-hari.

Chavez berkuasa pada tahun 1998. Ia berhadapan langsung dengan persoalan-persoalan pelik ini. Selain hancurnya sektor pertanian, Chavez juga berhadapan dengan kenyataan: 75% tanah dikontrol oleh 5% tuan tanah. Itulah yang disebut “latifundios”.

Chavez pun memulai sejumlah gebrakan. Tetapi, hampir semua gebrakan itu diawali oleh penulisan kembali konstitusi.

Gebrakan pertama Chavez untuk kedaulatan pangan adalah land reform. Ini diatur dalam konstitusi negara Venezuela yang baru. Lalu, pada tahun 2001, Chaves mengeluarkan UU tentang tanah dan pembangunan pertanian. Di bawah slogan “kembali ke desa”, Chavez menegaskan bahwa tanah yang tidak terpakai alias menganggur harus digunakan untuk menaikkan produksi makanan.

Program itu sukses mendistribusikan tanah-tanah milik negara yang menganggur kepada petani dan koperasi. Lalu, hukum baru Venezuela itu juga memungkinkan pengambilan tanah swasta, dengan ketentuan: 50 hektar untuk tanah berkualitas tinggi dan 3000 hektar untuk tanah berkualitas rendah.

Misi ini diberi nama mission Zamora—mengambil nama tokoh pejuang reforma agrarian Venezuela pada tahun 1850-an. Tidak hanya mendistribusikan tanah kepada petani dan koperasi, pemerintahan Chavez juga memberikan dukungan modal dan teknologi kepada para petani.

Sekalipun petani sudah berproduksi, tetapi jika tidak didukung industri pengolahan, maka hasil produksi petani Venezuela itu akan tetap dijual ke pasar internasional. Karena harga di pasar internasional memang relative lebih tinggi. Tetapi rakyat Venezuela harus membeli lebih mahal hasil pertanian itu apabila sudah diolah menjadi produk jadi. Chavez pun menyusun program pembangunan pabrik olahan. Skema ini mengakhiri penindasan petani oleh tengkulak.

Lalu, pada tahun 2003, Chavez kembali meluncurkan sebuah program baru: Mission Mercal. Program ini merupakan respon terhadap sabotase sayap kanan Venezuela pada tahun 2002. Saat itu, kamar dagang Venezuela (Fedecámaras) melancarkan aksi “lockout” karyawan. Perusahaan-perusahaan makanan, yang sebagian besar dikontrol oleh modal asing, turut menjalankan lockout. Supermarket juga banyak yang tutup. Rakyat Venezuela krisis bahan pangan.

Dengan program Mission Mercal, pemerintahan Chavez membangun ribuan toko kelontong yang disubisidi pemerintah dengan menjual daging, ikan, telur, susu, keju, roti, sereal, pasta, nasi, tepung, saus tomat, buah, kopi, margarin, minyak, gula, dan garam. Harganya 39% di bawah harga barang sejenis di Supermarket swasta. Di Mercal, harga susu bubuk hanya 7.89 bolivar, sedangkan di pasar swasta harganya mencapai 17 bolivar.

Mission Mercal ini membeli produk pangan secara langsung kepada petani Venezuela. Impor hanya dibolehkan jika bahan pangan itu tidak diproduksi petani Venezuela. Mereka memangkas proses distribusi, menghilangkan agen perantara dan menghindarkan penimbunan. Toko-toko ini punya gudang penyimpanan yang sangat besar.

Toko-toko ini juga menyediakan lapangan kerja baru bagi rakyat Venezuela. Meskipun didanai dan disubsidi pemerintah, tetapi toko-toko ini dijalankan sepenuhnya oleh rakyat melalui dewan komunal.

Pemerintah juga meluncurkan Producción y Distribución Venezolana de Alimentos (PDVAL), sebuah jaringan yang mendistribusikan bahan pangan dan kebutuhan rakyat dengan harga murah ke seluruh negeri. Program ini sepenuhnya disokong oleh perusahaan minyak negara Venezuela (PDVSA). Salah satu bentuk program ini adalah mobil pengangkut makanan yang mengangkut makanan ke komunitas (kampung-kampung).

Mission Mercal juga mengorganisir dapur umum untuk memberi makanan murah dan bergizi kepada rakyat Venezuela. Daging dengan harga murah, bahkan ada yang gratisan, didistribusikan melalui mission mercal ini. Ini untuk menopang program pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi rakyat.

Sekarang, sekalipun krisis pangan dunia menghantui, Chavez dengan lega berkata kepada rakyatnya: “ada krisis pangan dunia, tetapi Venezuela tidak akan jatuh ke dalam krisis itu. Sebaliknya, kita akan membantu negara-negara lain yang mengalami krisis ini.”

Dan, baru-baru ini, Venezuela telah menjadi negara pertama yang mengirimkan makanan ke Haiti dan Somalia.

Venezuela bisa melakukan itu karena pemerintahannya berpihak kepada rakyat. Chavez, seorang bekas kolonel, berani melawan kepentingan asing dan swasta. Sedangkan presiden Indonesia, SBY, yang berpangkat jenderal, sangat takut kepada imperialisme Amerika dan modal asing.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Adi Permana

    Sangat mengesankan! Saatnya sejarah sosialisme ditulis kembali. Amerika Selatan harus menjadi rujukan pergerakan sosialisme abad 21. Tinggalkan model sosialisme Soviet ala Stalin dan penerusnya. Tinggalkan model sosialisme ala Korea Utara.

  • muhammad hakim

    pemimpin yang tegas dengan konsep yang jelas dan mampu mewujudkan konsepnya, ternyata bisa melahirkan kebijakan yang membantu kehidupan rakyatnya. semoga Indonesia bisa punya pemimpin dengan karakter seperti itu: tegas, memiliki konsep, dan mampu merealisasikannya.

  • Hilda

    tulisan yang menarik, berbicara tentang kesulitan ekonomi dan kemiskinan di Indonesia memang tdk ada habis2nya. Kata kunci dari tulisan ini utk saya adalah pemimpin kita harus pro rakyat…! sebaik2nya suatu sistem pemerintahan/negara, jk pemimpinnya tdk berpihak pada rakyat miskin tetep aja akan dijajah oleh kekuatan asing dan diluar dirinya (kroni2nya juga), kapan yaaa…kita punya pemimpin spt itu…(mimpi.com)
    tulisannya bermanfaat 😉

    salam

  • andreas soge

    Tidak perlu alergi kalau harus berguru kepada Negara berkembang seperti kita kalau bertujuan untuk kesejateraan rakyak kebanyakan bukan rakyat2an ala penguasa…Tanks tulisan yang sangat inspiratif..

  • efendi

    Indonesia harus mencari presiden dengan nama Hugo Boboyono Chavez…

  • MULYADI

    JANGAN-JANGAN DIA JADI PRESIDEN DI DUKUNG ASING

  • Tulisan yang cukup menarik dan mencerahkan……

  • Andreas Kusumajaya

    Keuntungan Perusahaan Minyak Negara digunakan untuk Memperkat Ketahanan Pangan Rakyat! Sungguh amat sangat Komunis bisa jadi Venezuela BERSWASEMBADA PANGAN seperti Uni Soviet berkat Land Reform yang aktif dan Subsidi Pemerintah yang mampu menambah Kekuatan Petani. Tapi jangan lupakan penambahan Kekuatan Militer dengan modernisasi dan pembangunan industri pertahanan karena AS & NATO semakin MENGGILA akhir-akhir ini! MAJU TERUS VENEZUELA! SEMOGA MENJADI NEGARA ADIDAYA DI AMERIKA LATIN! VIVA LA LATINO AMERICA! HASTA LA VICTORIA SIEMPRE!! COMUNISMO O MUERTE! UUURRRAAAAAAAAAAA!!

  • Mokhamad Riduwan

    Kita sebenarnya bisa bahkan lebih jika saja negara ini tidak salah urus dan tata kelola yg baik terkait aset sumber daya alamnya. Sebetulnya Blue print untuk itu sdh d buat oleh pendiri bangsa ini. Coba tengok pasal 33 UUD 45, serta UU Agraria, yg d dalamnya terdapat program land reform dan d sahkan oleh pemerintahan Soekarno d tahun 60-an. Sayang Nekolim yg tidak senang dengan kemajuan kita sebagai negara inspirasi dunia ke-tiga, menjegal kepemimpinan Seokarno yg prorakyat. Lewat serangkaian sandiwara kudeta yg rapi. Ya, soekarno pernah berkata negara kita bukan komunis dan liberalis, tapi Sosialis, Sosialis apa? Sosialis yg kita punya sendiri, kita punya tradisi Gotong Royong itulah sosialis kita, dan sebenar-benarnya sosialis kita adalah PANCASILA. Semoga saya salah! Please Save Our Nation!!!

  • nyoman adi irawan

    pemimpin Indonesia/ yang berobsesi memimpin Indonesia,harus memahami (rajin baca buku)sejarah bangsa Indonesia yg sebenarnya (bkn sejarah seerti versi orde baru (orde babi), supaya paham betul apa yang harus di perjunagkan.
    -\mission Zamorra\ presiden Chaves yang terinspirasi dari Tokoh pejuang Venezuela untuk Revormasi Agraria, th 1850-