Merapi Kembali Meletus Hebat, Rakyat Mengalami Kepanikan

Gunung Merapi kembali mengeluarkan suara gemuruh tadi malam, sekitar pukul 23.40 WIB, membuat rakyat di Jogjakarta dan sekitarnya panik.

Rakyat tumpah ruah di jalan-jalan seperti Kaliurang dan Gejayan. Rakyat di posko pengungsian pun dibuat panik oleh gemuruh sangat keras dan disertai getaran kuat itu.

Di sepanjang jalan kaliurang, rakyat terlihat memadati jalanan untuk mencari kendaraan guna menyelamatkan diri. Sementara beberapa truk polisi berusaha untuk mengangkut rakyat ke tempat yang aman.

Di wilayah kecamatan Cangkringan yang berada di dekat Merapi, warga dibuat panik oleh datangnya awan panas hanya beberapa menit setelah letusan hebat.

Seorang warga menuturkan bahwa puluhan orang tewas di Desa Argomulyo, setelah awan panas menghanguskan rumah mereka. Selain itu, awan panas juga menghanguskan sejumlah rumah warga di Desa Kranggan, Cangkringan.

Warga juga melaporkan bahwa awan panas juga menghanguskan desa-desa lainnya di kecamatan yang sama. Belum diketahui jumlah korban secara pasti.

Warga dengan bersusah payah berusaha menembus gelap untuk menyelamatkan nyawa masing-masing.

Di rumah sakit Sardjito Yogyakarta, sekitar pukul 04.30 WIB, terdapat 35 orang warga yang terkena luka bakar dirawat di rumah sakit ini.

Dilaporkan pula bahwa seorang anak kecil tewas akibat luka bakar di sekujur tubuhnya.

“Dia tewas hanya beberapa saat setelah tiba di rumah sakit. Keluarganya juga terkena luka bakar,” ujar seorang petugas RS Sardjito yang enggan disebut namanya.

Hujan pasir dan Kerikil

Koresponden Berdikari Online di Kilometer 20 Jalan Kaliuran melaporkan bahwa hujan abu dan kerikil juga mengguyur sejumlah kawasan di sekitar Merapi.

“Hujan pasir dan kerikil mengguyur dan hampir merubuhkan posko kami,” ujar Edi Susilo, seorang petugas posko dan juga anggota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Koresponden kami, Ramdani Dhani, melaporkan bahwa hujan kerikil dirasakan oleh warga di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pakem, Turi dan Cangkringan.

Tidak hanya itu, hujan kerikil juga dirasakan hingga di kampus UGM, UNY, dan daerah sekitarnya.

Sementara hujan pasir juga terjadi di Jalan tamansiswa, Kusumanegara, dan parangritis.

Seorang relawan lainnya, Petrus, mahasiswa UST, menuturkan bahwa gemuruh yang disertai hujan abu dan kerikil membuat kepanikan di antara warga pengungsi dan relawan.

Pengungsi Membludak

Paska erupsi besar tadi malam, jumlah pengungsi Merapi semakin membludak di beberapa titik.

Di Stadion Maguwoharjo, sekitar pukul 02.30 WIB, ribuan pengungsi sudah berdatangan sejak bunyi letusan terdengar. Lautan manusia di stadion ini diperparah oleh banyaknya kendaraan bermotor yang terparkir di halaman stadion.

Ketidaksiapan pemerintah membuat sebagian warga tidak mendapatkan tikar untuk beristirahat. Demikian pula dengan jumlah WC yang sangat terbatas.

Belum ada laporan detail mengenai jumlah pengungsi dari berbagai wilayah di sekitar lereng merapi ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • iwnk

    Aktivitas Merapi meningkat, zona bahaya diperluas 20 Km. Semoga masyarakat dan kawan2 di Magelang, Yokyakarta dan sekitarnya diberi kekuatan.

  • RamDhani

    aksi solidaritas temen-temen, kami nantikan disini??