Mengenal Nicolas Maduro:  dari Sopir Bus, Pencinta Rock, Hingga jadi Presiden Venezuela

Tanggal 20 Mei mendatang, Venezuela akan menggelar Pemilihan Presiden (Pilpres). Dari lima kandidat yang akan dipilih oleh 20 juta pemilih, ada satu kandidat yang punya peluang sangat besar, yaitu sang petahana: Nicolás Maduro Moros.

Siapa Nicolás Maduro?

Maduro lahir tanggal 23 November 1962 dari keluarga kelas pekerja di Caracas, Ibukota Venezuela. Ayahnya, Nicolás Maduro Garcia, adalah seorang aktivis buruh dan pendukung partai sosial-demokrat Acción Democrática (AD). Sedangkan ibunya, Teresa de Jesús Moros, adalah keturunan Kolombia.

Ayah Maduro adalah pendukung setia seorang politisi kiri di AD, Prieto Figueroa. Belakangan, Figueroa disingkirkan dari partai itu karena dianggap terlalu kiri, kemudian mendirikan partai baru bernama Movimiento Electoral del Pueblo, MEP.

Di usia sangat belia, ayahnya kerap mengaja Maduro ke pertemuan-pertemuan politik MEP. Kadang-kadang, dalam kunjungan ke basis pemilih, Maduro kecil juga diajak masuk ke kampung-kampung kumuh—yang di Venezuela disebut “barrio”.

Terlahir dari keluarga aktivis politik membuat Maduro sangat politis sejak kecil. Saat masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, dia berdebat dengan gurunya yang menjelek-jelekkan revolusi Kuba. Gara-gara itu, dia “diasingkan” ke perpustakaan sekolah.

Masuk sekolah menengah atas, Maduro yang masih “remaja tanggung” makin radikal. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, dia bergabung dengan partai kiri militan, Partido de la Revolución Venezolana (PRV). Partai ini didirikan oleh Douglas Bravo, mantan gerilyawan dan aktivis Partai Komunis Venezuela (PCV).

Namun, seradikal-militan apapun Maduro muda, dia tetap terhitung “gaul”. Dia pencinta fanatik musik rock. Dia menggandrungi grup musik rock asal Inggris, Led Zeppelin. Gaya hippie, gerakan kontra-budaya populer di AS tahun 1960-an, pernah dilakoni Maduro muda.

Demi menyalurkan bakat musiknya, Maduro dan kawan-kawannya sempat membentuk grup band rock bernama “Enigma”. Ini bukan band asal-asal. Sebuah video di youtube menunjukkan band ini pernah tampil di televisi tahun 1981. Di video itu, Maduro yang keren jadi gitaris merangkap vokalis.

Makin dewasa, Maduro makin kiri. Di tahun 1980an dia bergabung dengan organisasi marxis, Liga Socialista. Sembari menjadi aktivis sosialis, dia juga bekerja sebagai supir bus di “Metro Caracas”. Saat itu, sebagai kota modern di dunia, Caracas sudah punya Rapid Transit System yang disebut “Metro-Caracas”.

Namun, jiwa sebagai aktivis membuat Maduro tidak sekedar bekerja sebagai sopir bus, dia menghimpun kawan-kawannya sesama sopir ke dalam sebuah serikat buruh. Dari situlah dia dikenal sebagai seorang aktivis serikat buruh.

Di sisi lain, sejak 1982, seorang kapten bernama Hugo Chavez mendirikan gerakan bawah tanah bernama Movimiento Bolivariano Revolucionario 200, disingkat MBR-200. Gerakan ini menghimpun tentara muda yang berpikiran progressif dan terinspirasi oleh pejuang pembebasan Amerika latin, Simon Bolivar.

Pada 4 Februari 1992, Chavez beserta sejumlah perwira muda melakukan pemberontakan militer terhadap Presiden berhaluan neoliberal, Carlos Andrez Perez. Sayang, karena kurang menggerakkan rakyat, kudeta itu gagal.

Empat hari setelah pemberontakan, Chavez muncul di layar televisi dan mengatakan, “Saya menyerah untuk sekarang ini.” Ia bersama 300 pasukannya meletakkan senjata, lalu dijebloskan ke penjara.

Peristiwa singkat Chavez di televisi ternyata disaksikan oleh Maduro. Sejak itulah Maduro mulai mengagumi Chavez dan tertarik dengan gerakannya. Ia sempat mengunjungi Chavez di penjara.

Tak lama kemudian, Maduro menjadi bagian dari gerakan MBR-200. Dia diberi nama samaran “Verde” oleh Chavez. Tahun 1994, Maduro sudah menduduki posisi Biro Nasional MBR-200.

Saat itu, Chavez sudah berkesimpulan: gerakan rakyat adalah kunci. Dan untuk meraih dukungan rakyat, MBR-200 berkampanye “Majelis Konstituante Sekarang Juga”. Ke seantero negeri, Chavez dan aktivis MBR-200 menciptakan lingkaran-lingkaran kecil bernama “Komite Bolivarian”.

Tahun 1997, setelah dianggap matang secara politik, lingkaran-lingkaran Bolivarian diorganisasikan ke dalam partai politik elektoral bernama Pergerakan untuk Republik Kelima (MVR). Maduro sudah menjadi bagian di dalamnya.

Siapa sangka, di tengah dunia yang sangat kanan, Chavez dan MVR memenangi pemilu Venezuela tahun 1998. Begitu dilantik, Chavez merealisasikan janjinya untuk membentuk Majelis Konstituante.

Ide di balik Majelis Konstituante ini adalah menulis ulang konstitusi Venezuela. Sebab, konstitusi lama dianggap terlalu neoliberal dan hanya melindungi kepentingan elit. Mereka ingin sebuah konstitusi baru yang lebih menjamin hak-hak dasar rakyat Venezuela.

Maduro sendiri terpilih sebagai anggota Majelis Konstituante. Setelah bekerja beberapa bulan, Majelis Konstituante menghasilkan konstitusi baru bernama “Konstitusi Bolivarian (1999)”. Konstitusi ini termasuk salah satu konstitusi paling progressif dan revolusioner di dunia.

Tahun 2000, Maduro terpilih sebagai anggota Majelis Nasional (DPR) dari MVR. Tahun 2005, dia ditunjuk sebagai Presiden Majelis Nasional.

Tahun 2006, dia ditunjuk oleh Chavez sebagai Menteri Luar Negeri. Meski kemampuannya sempat diragukan oleh banyak media kanan, tetapi Maduro berhasil tampil sebagai diplomat ulang. Dia menjadi penyambung lidah politik luar negeri Venezuela di forum-forum internasional.

Tahun 2012, Maduro diangkat oleh Chavez sebagai Wakil Presiden.

Pada 5 Maret 2013, Chavez meninggal dunia, ketika masa jabatannya sebagai Presiden belum berakhir. Di tengah kekosongan itu dan berbagai rumor tentang siapa pelanjut Chavez, Maduro ditunjuk sebagai Presiden sementara.

Sebulan kemudian, tepatnya 14 April 2013, Venezuela menggelar Pilpres. Maduro berhasil terpilih, setelah menyingkirkan kandidat kuat oposisi, Henrique Caprilles, hanya dengan selisih 1,5 persen suara.

Sejak itu, oposisi Venezuela tidak terima dengan kekalahan dan menggelar aksi demo yang disertai kekerasan dan vandalisme. Aksi itu berlanjut sepanjang tahun hingga 2017 lalu. Tak hanya demo kekerasan dan vandalis, oposisi juga melancarkan perang ekonomi: penimbunan barang kebutuhan pokok, sabotase ekonomi, penyelundupan, dan lain-lain.

Di sisi lain, sejak 2014, harga minyak dunia terjun bebas. Padahal, minyak adalah jantung ekonomi Venezuela. Hampir 90 persen penerimaan negeri ini berasal dari minyak. Situasi ini yang membuat pemerintahan Maduro terjepit dalam krisis fiskal.

Di sisi lain, karena kebutuhan pokok harus dibeli dari impor, ditambah aksi penimbunan dan sabotase dari oposisi, membuat kebutuhan pokok menjadi langka. Inflasi menjulang tinggi.

Ditambah lagi, AS dan barat gencar melakukan upaya penggulingan terhadap Maduro. Selain melakukan sanksi ekonomi, AS melalui CIA dan USAID aktif menyokong gerakan oposisi di Venezuela. Ditambah lagi, media-media korporasi besar di AS dan Eropa menjadi satu “paduan suara” yang mendiskreditkan Maduro dan Venezuela di dunia internasional.

Tetapi, sangat luar biasa, di tengah rongrongan dari dalam dan luar itu, Maduro tetap berhasil mempertahankan revolusi Bolivarian. Dia tetap melanjutkan banyak program sosial warisan Chavez: pendidikan, kesehatan, perumahan, reforma agraria, perburuhan, dan lain-lain. Dia juga tetap menjaga martabat Venezuela sebagai bangsa mandiri dan berdaulat.

Itu yang membuat dukungan rakyat Venezuela, terutama dari lapisan bawah, masih sangat tinggi untuk Maduro.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut