Mengakhiri Privatisasi Air Di Jakarta

Rencana Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta mengambil alih perusahaan penyulingan air bersih PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), yang dikuasai oleh  Suez International (Perancis) dan PT Astratel Nusantara, merupakan langkah progressif yang patut diapresiasi dan disokong oleh massa-rakyat.

Menurut Jokowi, keputusan mengambil alih Palyja merupakan jalan untuk memastikan pengelolaan air bersih di DKI Jakarta bisa diakses oleh seluruh rakyat. “Supaya Jakarta bisa lebih leluasa mengelola air, betul-betul untuk rakyat, untuk masyarakat. Bukan orientasi pada keuntungan,” kata Jokowi.

Jokowi menyadari, jika pengelolaan air bersih diserahkan ke swasta, maka orientasinya hanya keuntungan semata. Harga air akan ditentukan menurut mekanisme pasar. Akibatnya, tidak semua warga masyarakat bisa mengakses air bersih. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan dasar manusia untuk tetap hidup.

Jokowi sendiri sudah menyiapkan dua langkah untuk proses pengambil-alihan tersebut. Pertama, Pemda DKI Jakarta akan membeli saham Palyja melalui proses negosiasi. Kedua, jika jalan pertama mentok, maka pemda DKI akan melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan swasta tersebut.

Keterlibatan swasta dalam pengelolaan air di Jakarta bermula di tahun 1997. Saat itu, karena alasan perbaikan kualitas layanan, PAM Jaya menadatangani kontrak dengan dua multinasional, yakni Suez Environment (Perancis) dan Thames Water (Inggris). Kontrak kerjasama itu berlangsung selama 25 tahun.

Sejak itulah pengelolaan air di Jakarta hanya dikuasa dua perusahaan: untuk wilayah barat Jakarta dikuasai oleh PT. PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA), sedangkan wilayah timur Jakarta dikuasai oleh PT Aetra  yang dimiliki oleh Acuatico.

Dalam konsesi itu tercantum hak swasta untuk mendapatkan bayaran atas jasanya menyediakan layanan air. Pembayaran tersebut dilakukan melalui sistem yang disebut imbalan air (water charge). Masalahnya, imbalan ini naik setiap 6 bulan. Artinya, supaya berimbang, tarif air seharusnya naik setiap semester. Apabila kenaikan tarif tidak terjadi, maka operator swasta akan membebankan  selisih Water Charge (imbalan air) dan Tariff Air ke PAM Jaya (Pemda DKI). Hingga Oktober 2011, utang PAM Jaya sudah mencapai Rp610 miliar. Dan, bila kontrak itu tidak dihentikan, maka pada tahun 2022 mendatang PAM Jaya/Pemda DKI akan berutang  Rp 18,2 triliun.

Sementara itu, sejak dikelola oleh pihak swasta, tarif air di Jakarta terus menanjak naik. Dari tahun 1998 hingga 2003 saja terjadi tiga kali kenaikan yang cukup signifikan, yakni kenaikan pertama sebesar 18%, kemudian 25% di April 2001, dan 40% di tahun 2003. Untuk saat ini, di wilayah kerja Palyja tarif air mencapai Rp 7.800/m3, sedangkan untuk wilayah kerja Aetra sebesar Rp 6.800/m3. Bandingkan dengan harga air di wilayah lain di Indonesia: di Surabaya hanya Rp 2.600/m3 dan di Bekasi seharga Rp 2.300/m3.

Selain itu, perbaikan kualitas dan perluasan jaringan, sebagaimana dijanjikan oleh pihak swasta, tidak terjadi. Pada tahun 2010, Badan Pusat Statistik menemukan bahwa hanya 34,8 persen penduduk DKI yang memiliki sumber air minum bersih dan layak. Hasil riset Kesehatan Dasar 2010 Kementerian Kesehatan menyebutkan, hanya 18,3 persen warga Jakarta yang memiliki sambungan air perpipaan terlindungi. Sedangkan, sekitar 90 persen lebih air tanah di Jakarta mengandung bakteri E-coli.

Privatisasi air di Jakarta, yang sudah berlangsung 16 tahun, terbukti hanya membawa malapetaka: tarif air sangat tinggi, Pemda DKI dililit utang, korupsi merajalela, kualitas layanan makin buruk, dan sebagian besar rakyat Jakarta kesulitan mengakses air bersih.

Karena itu, niat Pemda DKI merebut layanan air bersih untuk kepentingan rakyat harus kita dukung dan disokong. Sebab, di tengah gempuran neoliberal di negeri ini, masih ada pemerintahan lokal yang konsisten memperjuangkan kepentingan rakyatnya. Ini sekaligus merupakan tamparan keras terhadap rezim nasional, yakni SBY-Budiono, yang justru mengorbankan kepentingan bangsa demi melayani keserakahan korporasi multinasional.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut