Menaruh Harapan Pada Sea-Games

Pembukaan Sea-Games XXVI di Palembang mengundang decap kagum. Perpaduan animasi, tata-cahaya dan atraksi penari menambah semarak pertunjukan yang berlangsung sekitar tiga jam itu.

Tetapi, jika anda tahu, biaya yang digelontorkan untuk acara pembukaan itu mencapai Rp150 milyar. Lebih besar dari anggaran yang diperuntukkan untuk rehabilitasi SMP di seluruh Indonesia sebesar Rp 129 miliar.

Sebagai informasi, Sea-Games di Palembang dan Jakarta memperoleh alokasi dana dari APBN 2010 sebesar Rp1 triliun, dana APBN Perubahan 2011 sebesar Rp700 miliar, dan dana APBD-P Sumatera Selatan sebesar Rp111 miliar. Sedangkan sumber dana dari pihak non pemerintah senilai Rp1,6 triliun. Total kebutuhan anggaran diperhitungkan yakni Rp3,1 triliun.

Ya, anggaran sebesar itu tentu saja kontras dengan kehidupan mayoritas rakyat. Dalam banyak kasus, negara sangat pelit untuk mengucurkan anggaran terkait kebutuhan-kebutuhan darurat rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan lain-lain.

Tetapi, tak mengapa, toh Soekarno pernah bilang, “yah, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi makan terhadap jiwa rakyat yang telah lama diinjak-injak juga tidak kalah penting.” Praktis, dengan keterpurukan bangsa yang sedemikian rupa di segala bidang, kita berharap ada kebanggaan nasional yang tersisa dari olahraga.

Indonesia terakhir kali menjuarai Sea-Gemes pada tahun 1997. Kala itu, Indonesia masih diperintah oleh rejim orde baru. Tetapi, dalam sea-games berikutnya—1999, 2001, 2003, 2005 dan 2007, prestasi Indonesia kian melorot. Bahkan, dalam Sea-games 2005 dan 2007, Indonesia gagal masuk tiga besar.

Karena itu, kita berharap bahwa Sea-games XXVI tidak hanya menguras banyak anggaran, tetapi juga menghasilkan segudang prestasi. Kita tidak mau decap kagum orang-orang di Asia Tenggara hanya karena bangsa kita royal menghambur-hamburkan banyak uang untuk membiayai perhelatan besar ini. Tetapi yang terpenting lagi adalah kita menunjukkan prestasi dan kemajuan pembangunan olahraga kita.

Tetapi prestasi memang tidak jatuh dari langit: ia merupakan hasil dari pembinaan dan pembangunan sektor olahraga itu sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan olahraga kita memang sangat terpuruk. Bahkan, kementerian pemuda dan olahraga identik dengan “sarang korupsi”.

Dengan jumlah penduduk yang besar, kita punya modal besar untuk membangun prestasi olahraga yang membanggakan. Tetapi itu tidak bisa berjalan, karena olahraga dan fasilitasnya hanya bisa diakses golongan tertentu dari rakyat kita. Olahraga juga menjadi salah satu item yang menjadi ajang “menggali profit”.

Pemerintah juga seolah lepas tangan soal olahraga ini. Kita jarang menemukan lagi upaya pemerintah membina bakat olahraga anak-anak Indonesia sejak dini. Kita juga jarang melihat inisiatif pemerintah dalam mendorong kejuaraan-kejuaraan olahraga dari tingkat bawah sebagai sarana menyaring bibit-bibit atlet nasional.

Jangankan itu, penghargaan terhadap atlet nasional yang pernah mengharumkan nama bangsa pun hampir tidak ada. Beberapa bulan lalu, sejumlah media nasional mengangkat kisah seorang bekas  atlet balap sepeda nasional asal Surabaya, Jawa Timur, bernama Suharto. Ia pernah menyumbangkan medali emas pada SEA Games 1979 di Malaysia. Tetapi sekarang Soeharto harus menyambung hidup dengan mengayuh becak. Kisah semacam itu banyak terjadi.

Padahal, soal olahraga juga soal pembangunan mental suatu bangsa. Di jaman Bung Karno, olahraga menjadi bagian dari proyek “pembangunan karakter dan bangsa” (nation and character building). Pantas saja jika sekarang kita semakin merosot sebagai sebuah bangsa yang berkarakter dan berkepribadian. Memang olahraga sudah lama ditinggalkan dan diabaikan.

Melalui Sea-Games XXVI ini, kita berharap bangsa bangsa Indonesia bisa bangkit kembali. Kita berharap bahwa Sea-Games XXVI menjadi momen “pembangkitan kembali” bangsa kita dari keterpurukan berbagai bidang: politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dengan begitu, kita bisa kembali menjadi bangsa bermartabat dan berdaulat di segala lapangan kehidupan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut