Kalah Di Referendum, Evo Morales: Perjuangan Akan Terus Berlanjut

Bolivia menyelenggarakan referendum pada hari Minggu (21/2/2016) lalu. Referendum tersebut untuk memutuskan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden Bolivia.

Referendum ini meminta sikap rakyat Bolivia, “Ya” atau “Tidak”, atas usulan amandemen pasal 168 Konstitusi Bolivia tentang masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden.

Kalau “Ya” menang, berarti Presiden dan Wakil Presiden Bolivia bisa dipilih kembali kendati sudah berkuasa selama dua periode. Ini membuka jalan bagi Evo Morales, yang sudah berkuasa dua periode, untuk mencalonkan diri kembali di Pilpres 2019.

Namun, dalam referendum yang berlangsung pada hari Minggu itu, pihak “Tidak” yang menang. Dari 99,5 persen suara yang sudah dihitung, sebanyak 51,3 persen menyatakan “Tidak” dan 48,7 persen menyatakan “Ya”.

Hasil ini disambut gegap gempita oleh pihak oposisi. Di kota Santa Cruz, yang dikuasai oleh oposisi, penduduk setempat turun ke jalan-jalan. Kembang api juga tampak di langit Ibukota Bolivia, La Paz, sesaat setelah hasil referendum sudah diketahui.

Evo Morales dan partainya, Gerakan Menuju Sosialisme (MAS), sudah mengakui hasil referendum. Namun, Evo menuding pihak oposisi menggunakan cara-cara kotor untuk memenangkan referendum.

Tuduhan Evo itu tidak mengada-ada. Pada bulan Januari, melalui akun twitter-nya, tokoh oposisi Samuel Doria Medina menuding Evo menggunakan uang 200 USD untuk memotong rambutnya. Belakangan, tudingan itu terbukti palsu. Dan dia pun menghapus postingan itu. Sayang, tudingan palsu itu sudah terlanjur menyebar kemana-mana.

Kemudian tokoh oposisi yang lain, Filiberto Escalante, menuding Evo melakukan nepotisme dengan mempekerjakan seluruh anggotanya di perusahaan migas milik negara, YFPB. Lagi-lagi tudingan itu terpatahkan. Faktanya, adik perempuan Evo bekerja di rumah sakit dan saudaranya yang lain memasang jarak dengan politik.

Sebelumnya, Evo juga menuding Amerika Serikat terlibat menyokong kampanye “Tidak”. Sokongan tersebut berupa rekomendasi strategi hingga pendanaan.

Perjuangan terus berlanjut

Hasil referendum tidak menurunkan kadar progressif dan radikal pemerintahan Evo Morales. Sesaat setelah mengetahui dirinya kalah, Evo mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengadopsi kebijakan politik yang progressif.

“Kami mungkin kalah dalam satu pertempuran, tetapi belum kalah dalam perang,” kata Evo seperti dikutip oleh teleSUR, Rabu (24/2/2015)

Evo menegaskan, kekalahan dalam refendum tidak akan membuat pemerintahannya menanggalkan keberpihakan kepada kaum miskin dan terpinggirkan.

“Kami anti-neoliberal, anti-kapitalisme, dan anti-imperialis. Kami akan tetap di jalan itu. Perjuangan ini akan terus berlanjut terlepas dari Ya atau Tidak yang menang. Kami tidak akan meninggalkannya,” tegas Evo.

Evo sendiri sudah memerintahkan seluruh jajaran pemerintahannya untuk duduk bersama dengan pemimpin berbagai organisasi sosial untuk mengevaluasi hasil referendum.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut