“Mabuk” Bareng Iwan Fals

Mohon maaf untuk tulisan yang sudah terlambat ini.
Ide menulis sebenarnya sudah ada sejak sepulang nonton konser,
sudah ketemu judul, tapi trus tidak berdaya menjadikannya tulisan.
Baru selang beberapa bulan kemudian baru ada keinginan untuk selesaikan jadi tulisan.

Jakarta Fair 2011 di Kemayoran untuk yang ke-44 kalinya diadakan dari tanggal 9 juni sampai 10 juli 2011, diselenggarakan oleh PT. Jakarta International Expo (JIExpo) bersama Pemprov DKI Jakarta, juga dalam rangka HUT Kota Jakarta Ke-484.

Arena pameran diisi banyak stan yang menggelar produk dalam negeri dalam skala usaha besar – menengah dan kecil. Sepenglihatan saya, stan yang mencolok dan berani menyewa banyak lapak lumayan besar dan tersebar di beberapa titik seputar arena PRJ adalah provider telekomunikasi seperti Telkomsel dan Esia.

Selain Telkomsel dan Esia yang jor-joran mengobral Hp, stan yang juga ramai didatangi pengunjung adalah stan otomotif. Helm merk NHK sampai velek motor racing (boleh ditanya ke pabrikannya) laris manis dagangnya. Untuk usaha skala kecil (seperti yang dimaksud penyelenggara dalam press rilisnya), mungkin adalah tukang “kerak telor” yang berjejer di sepanjang jalan seputar arena pameran.

Magnet lain yang digadang-gadang Panitia JIExpo yang bakal menyedot puluhan ribu penonton adalah konser musik 32 hari non-stop yang bertajuk “JIEXPO Music Concert 2011”. Menampilkan 200 lebih pemusik dan penyanyi Indonesia, diantaranya: Andien, Afgan, Ari Lasso, Endank Soekamti, The Flowers, Edane, Geisha dan seabrek nama populer yang pasti Anda kenal.

Dari 32 hari pertunjukan musik, saya hanya datang sekali, yakni pada rabu malam 15 juni 2011, saat jadwal di panggung utama akan diisi super star: Iwan Fals. Kedatangan saya ke konser malam itu tentu bukan ngasal, tapi memang sudah di jadwal. Saya ingin nonton Iwan Fals secara live setelah lama tidak melihat pertunjukannya lagi.

Iwan membuka konsernya dengan “lagu satu” (album Hijau, 1992) dan sontak disambut gemuruh puluhan ribu massa. Bendera-bendera Oi (Orang Indonesia) berkibar, sedangkan massa yang sebelumnya adem ayem duduk-duduk langsung berdiri dan merapat mendekat panggung. Luar biasa, seorang Iwan Fals ini benar-benar super-star!

Penampilan Iwan Fals malam itu diiringi Toto Tewel (gitar) dan Edi Darome (kibordis). Sedangkan dua orang lagi, yang memain bas dan drum sayup kurang jelas saat Iwan memperkenalkan kepada penonton malam itu. Toto Tewel dan Edi Darome adalah nama besar di dunia musik Indonesia. Keduanya tak lain adalah personil band rock Elpamas. Keahlian bermusik kedua orang ini bisa Anda dengar di album “Dinding-dinding Kota” (1989), “Tato” (1991), “Negeriku” (1997), “Dongeng” (2000) dan album terakhir mereka “60 km/jam” (2003). Elpamas tenar saat “Pak Tua” jadi hits era 90an, karena liriknya menyindir soeharto Elpamaspun kena cekal. Lagu-lagu lain (yang tidak jadi hit) tapi wajib Anda simak adalah Dinding-dinding Kota, Untukmu Generasinku, KGB (Kereta Gaya Baru), RSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali) dst.

Oke, kembali ke super star kita, Iwan Fals, sepertinya memformat reportoar/susunan lagu-lagu yang dibawakan malam itu menjadi semacam kontras atau satir di tengah perayaan belanja atau pameran harga di arena PRJnya sendiri. Iwan dengan lagunya mampu membikin puluhan ribu massa rakyat jelata koor, mabuk/trance, berjoget dan meraung melepas (sejenak) beban hidup. Lagu-lagu Iwan adalah pelepasan dari karut marut rutinitas mencari makan demi hidup. Saya (mungkin juga orang banyak itu) pasti tersinggung saat lagu “Mimpi Yang Terbeli” dinyanyikan. Bagaimana tidak, di arena seramai PRJ yang menyediakan banyak barang, jauh-jauh datang hanya untuk nonton harga – cuci mata, sudah gitu mbawa bekal makan-minum sendiri dari luar.

Dalam lagu lain, saya sempat berfikir: bagaimana perasaan ribuan SPG/SPBoy yang berjam-jam berdiri membagi brosur ke pengunjung ketika Iwan menyanyikan “Robot Bernyawa”?

Disamping saya berdiri, seorang paruh baya telanjang dada dan “mabuk” mengikuti semua lagu-lagu Iwan, bernyanyi – berjoget – berteriak lepas – bebas! Saya pun turut bernyanyi – tersinggung dan merinding hebat tatkala  lagu “Libur Kecil Kaum Kusam” membahana:

“pergilah derita ini hari
berilah tawa yang terkeras
untuk obati tangis lalu
limpahkan senang paling indah
agar luka tak nyeri
agar duka tak menari..”

(“Libur Kecil Kaum Kusam” – album Wakil Rakyat , 1987)

Pasangan-pasangan cinta mengeraskan bernyanyinya saat “Entah” dan “Aku Suka Kamu” jadi reportoar berikutnya. Koor massal terus terjadi di lagu “Esek-Esek Uduk Uduk, (Nyanyian Ujung Gang)”, “Besar Dan Kecil” dst.

Iwan Fals adalah sedikit dari musisi Indonesia yang sanggup mempopulerkan semua lagunya dalam setiap album (phisik) yang diluncurkan. Biasanya, yang lumrah terjadi dalam industri musik kita, bila artis/musisi meluncurkan album, maka hanya 1-2 lagu andalan yang akan popular di massa. Lagu tersebut sudah dibaca hoki-nya oleh produser,sehingga mendapat perhatian lebih aransemennya, dibuatkan video klip promosi dan ditaruh paling atas nomor satu dalam urutan cakram rekaman (kaset/CD) serta ditulis besar mencolok di cover/sampul jadi judul album.

Mungkin iya, bahwa “kaidah-kaidah” tadi harus juga dilalui Iwan di Musica Record (label tempat Iwan bernaung), tapi Iwan sanggup membuat lagu-lagu lain di album yang baru diluncurkannya juga popular. Ambil contoh album Wakil Rakyat tahun 1987 (seperti maunya pedagang lagu) melahirkan hits ‘Mata Indah Bola Pingpong’ yang sangat digemari remaja tahun itu. Tapi Iwan tidak lantas bermenye-menye di sepanjang album. Terbukti Iwan tetap mampu mempopulerkan lagu ‘Surat Buat Wakil Rakyat’, ‘Teman Kawanku Punya Teman’, ‘Libur Kecil Kaum Kusam’, ‘Guru Zirah’ dan ‘PHK’.

Trus di album ‘1910’ (dokumentasi atas peristiwa kelam sejarah perkeretaapian di Indonesia yang pada 19 Oktober 1987 terjadi dengan apa yang disebut dengan ‘tragedi bintaro’) memasang ‘Buku Ini Aku Pinjam’ di urutan pertama side A (sebutan untuk kaset rekaman yang punya dua sisi saat itu). Tapi lagu-lagu lain seperti ‘Ada Lagi Yang Mati’, ‘Ibu’, ‘Mimpi Yang Terbeli’, ‘Balada Orang-Orang Pedalaman, ‘Nak’, ‘Pesawat Tempurku’ dan lagu ‘1910’ sendiri jelas-jelas jadi lagu wajib banyak anak muda saat bernyanyi dan bergitar di tongkrongan ujung gang.

Itulah sekelumit soal Iwan Fals. Event organizer jaman sekarang kalo membuat pentas musik harus memanggungkan banyak artis, karena masing-masing artis yang akan mengisi panggung paling banter nyanyi 3 lagu, selain stamina yang drop juga kehabisan stok (lagu).

Yang sanggup menyamai Iwan Fals paling hanya Rhoma Irama (bersama Sonetanya). Karya-karya si raja dangdut ini juga mewakili cerminan hidup kebanyakan orang, seperti: ‘Begadang’, ‘Darah Muda’, ‘135 juta’, ‘Judi’, ‘Gali Lobang Tutup Lobang’, ‘Bujangan’ dan seterusnya.

Majalah TEMPO edisi 30 Juni 1984 pernah mengulas, berdasarkan data penjualan kaset, dan jumlah penonton film- film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan 1984. “Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas”, kata TEMPO.

Jadi menurut saya (mohon maaf, bukan bermaksud berlebihan dan mengecilkan peran tokoh2 nasional yang lain) ada tiga tokoh yang karyanya dikenang dan hidup di sanubari rakyat. Suatu saat Anda pasti menjumpai poster atau sticker besar bergambar wajah mereka di kaca truk, di dalam angkot, di bis antar kota atau di dinding rumah warga dusun pelosok. Mereka adalah Iwan Fals, Rhoma Irama dan Soekarno. ***

Tebet, 11-11-11

[email protected]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Kelana SK

    aku juga mengenang tejo… ha ha ha pejuang seniman & seniman pejuang yang ‘bergerak-gerak’….
    gimana kabar jaker, bung?