Membangun Bangsa Melalui Pendidikan

Pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai. Kata-kata ini sangat membekas di benak Mauricio Funes, Presiden El Salvador saat ini. Karena itulah, begitu terpilih sebagai Presiden pada pemilu 2009, presiden berhaluan kiri ini segera membuat gebrakan untuk memajukan pengetahuan rakyatnya.

Salah satu bentuk gebrakan itu adalah Program Literasi Nasional (NLP). Program ini langsung oleh Wakil Presiden El Salvador, Sanchez Caren, yang punya segudang pengalaman sebagai Menteri Pendidikan. Rencananya, rakyat El Salvador akan bebas dari buta-huruf pada tahun 2021.

Di El Salvador, ada 689.500 orang—dari total 6 juta penduduk negeri ini–berusia 15 tahun ke atas  yang tidak bisa membaca dan menulis. Sebagian besar diantara mereka adalah kaum perempuan. Begitu program ini diluncurkan pada tahun 2010, sudah 4 kota/kabupaten yang dibebaskan dari buta-huruf. Setidaknya 120 ribu orang telah bergabung dalam program revolusioner ini. Lalu, pada tahun ini, sudah 6 kota yang dibebaskan dari buta-huruf.

“Keaksaraan adalah kekuatan cinta,” kata Sanchez, “karena merupakan bukti persaudaraan dan solidaritas manusia. Selain itu, literasi mendorong pembangunan berkelanjutan…dan membaca akan melahirkan pengetahuan, dan dengan pengetahuan orang punya kesempatan untuk mengubah keadaan.”

Program NLP ini, pada level pertama, mengambil metodologi Kuba untuk mengajar rakyat El Salvador usia 14 tahun ke atas agar bisa membaca dan menulis. Ada dua tahap pada program ini: tahap pertama, peserta diajari memegang dan menggunakan pensil. Dan, pada lima tahun berikutnya, mereka diharapkan sudah bisa menulis, membaca, dan berhitung (matematika dasar). Pada tahap kedua, peserta diasah kemampuannya soal membaca, menulis, dan matematika. Di sini, peserta diharap tidak hanya sudah bisa menandatangani dokumen, namun juga bisa memahami isi dan maksud dokumen yang ditanda-tanganinya.

“Ketika saya memulai, banyak rakyat yang bahkan tidak tahu caranya memegang pensil, dan banyak diantara mereka yang tangannya bergetar,” kata seorang relawan di daerah Cojutepeque. Dan sekarang, sekalipun baru belajar satu bulan setengah, sudah banyak yang bisa menulis dan membaca.

Menjalankan program ini tidaklah gampang. Para sukarelawan harus berjuang keras, terkadang door to door (pintu ke pintu), untuk mengidentifikasi warga yang buta-huruf dan mengajak mereka bergabung dalam program. Para sukarelawan juga harus berjuang keras mengorganisir lingkaran-lingkaran komunitas pemberantasan buta-huruf. Bahkan, para sukarelawan juga harus berjuang sendiri mengorganisir sukarelawan pengajarnya. Pekerjaan yang tidak gampang, kan?

Terkadang, di daerah yang tak terjangkau transportasi, para sukarelawan harus berjalan berkilo-kilo meter untuk menjangkau rakyat yang masih buta-huruf. Kadang pula mereka harus berjuang di bawah kondisi cuaca yang buruk. Tapi, semangat membangun bangsa tak membuat semangat mereka patah.

Yang lebih keren lagi, para sukarelawan ini sebagian besar adalah pelajar menengah dan SMU. Mereka telah membuang masa indah keremajaan mereka demi sebuah cita-cita yang lebih besar: memajukan bangsa. Ya, di El Salvador, di negeri yang jarang ditengok dunia, anak-anak usia 9 tahun telah mengabdikan dirinya pada rakyat dan negaranya.

Selain mengajari membaca, menulis, dan matematika, kursus-kursus pemberantasan buta-huruf juga mendiskusikan isu-isu sosial yang dihadapi rakyat, seperti hak-hak kaum buruh, penanggulangan sampah, kesetaraan gender, dan lain-lain.

Selain diselenggarakan di dalam ruangan, terkadang pelajaran juga disiarkan melalui radio-radio komunitas. Harapannya, mereka yang tak punya waktu atau berhalangan tetap bisa mengikuti pelajaran. Wow, benar-benar kerja agung!

Ada juga program yang dirancang khusus untuk sektor tertentu populasi, seperti perempuan yang bekerja di pasar, orang yang dipenjara, dan lain-lain. Alhasil, sudah ada 2644 tahanan yang berpartisipasi dalam program keaksaraan. Juga terbentuk 14 lingkaran untuk melayani orang buta dan 13 untuk orang tuli.

Juliana Alvarenga, seorang partisipan di lingkaran keaksaraan yang diselenggarakan oleh aktivis Front Parabundo Marti untuk Pembebasan Nasional (FMLN), menyatakan terima kasihnya atas program ini. Katanya, dulu ia selalu meminta tolong untuk mengenal bus yang hendak ditumpanginya. Sekarang, ia sudah mengenal bus dan tujuannya, bahkan mengenal dokumen-dokumen yang mesti ditandatanganinya.

Selain program pemberantasan buta huruf, pemerintahan revolusioner El Salvador juga menyediakan seragam sekolah, perlengkapan belajar, dan makanan setiap hari untuk seluruh anak-anak El Salvador. Ini merupakan yang pertama-kalinya terjadi di negeri kecil di Amerika Tengah itu.

Begitulah perjuangan pemerintah El Salvador untuk menciptakan ruang bagi sektor-sektor yang selama ini terpinggirkan, agar mereka punya kesempatan yang sama dan menjadi protogonis dalam membangun bangsa.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut