Massa Bayaran Ganggu Demo Menentang Kedatangan Budiono Di NTT

Sekelompok massa bayaran berusaha mengganggu dan membubarkan aksi demonstrasi puluhan mahasiswa saat kedatangan Wakil Presiden Budiono di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekelompok massa bayaran ini berusaha mengacau ketika mahasiswa anti-budiono sedang melakukan orasi-orasi di dekat Bandara tempat Budiono dan rombongan akan mendarat di Kabupaten Ende.

Kemudian, beberapa menit menjelang turunnya Budiono dari atas pesawat, Polisi juga mengerahkan pasukan Brimob, Dalmas, dan TNI untuk menghalangi massa aksi mendekat ke jalur masuk bandara.

Kristianus Tara, selaku koordinator aksi ini, menegaskan bahwa pihaknya merasa kecewa dengan perlakuan pihak keamanan yang tidak bisa mengawal dengan baik jalannya aksi mahasiswa.

Mahasiswa ini, yang mengatasnamakan diri Gerakan Rakyat Anti-Imperialisme Neoliberal (Granma), merupakan gabungan dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Budiono dianggap agen neoliberal

Selain berencana merenovasi sejumlah situs Bung Karno di kabupaten Ende, Budiono juga direncanakan memberikan penghargaan kepada masyarakat atas berjalannya program PNPM.

Namun, pihak mahasiswa menganggap program itu sebagai program pembohongan karena dibiayai dengan utang luar negeri, dan nantinya rakyat Indonesia akan dibebani untuk membayar utang tersebut.

Seorang mahasiswa, Yulius Fanus, menyampaikan orasi yang menuding program PNPM sebagai program yang justru memicu konsumtifisme, bukan memicu produktifitas masyarakat.

Sementara mahasiswa lainnya, Yohanes Brechmans, menyoroti soal pengusaan sumber daya alam (SDA) oleh pihak asing, yang menyebabkan industri dalam negeri mengalami kesulitan dalam memasok bahan bakar.

“Budiono telah berkonstribusi dalam mengekspor murah gas Indonesia, sementara industri di dalam negeri mengalami krisis energi,” ujarnya saat menyampaikan orasi di depan massa.

Ardian, aktivis dari HMI, mengkritik kebijakan SBY-Budiono yang mengintrodusir kebijakan neoliberal di dunia pendidikan.

Ia juga menekritik Budiono terkait dugaan keterlibatan mantan Gubernur BI ini dalam skandal bank century yang merugikan negara sebesar Rp6,7 triliun.

Seruan aksi besar-besaran

Dalam pernyataan yang dikirimkan kepada berdikari online, mahasiswa berencana akan melanjutkan aksi ini esok pagi dengan jumlah massa yang lebih besar, bahkan akan dilakukan dengan memobilisasi massa rakyat.

Untuk memaksimalkan rencananya besok, mahasiswa telah membagi-bagikan selebaran seruan aksi ke rumah-rumah penduduk pada malam hari ini.

Mahasiswa juga akan menggelar konferensi pers guna mengecam perlakuan aparat keamanan dan kehadiran massa bayaran yang menggangu jalannya aksi massa damai.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut