Masihkah SEA Games Menaikkan Martabat Bangsa?

Di bulan Agustus 1962, sebuah pesta olahraga terbesar di Asia sedang digelar di Jakarta. Saat itu, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-IV. Indonesia berhasil menyingkirkan Pakistan sebagai calon tuan rumah.

Indonesia saat itu baru berumur 17 tahun. Kondisi politik dan ekonomi belum benar-benar membaik. Pendapatan per-kapita bangsa Indonesia saat itu masih di bawah 100 USD. Gang-gang di Jakarta masih penuh lumpur  dan jalanan pun masih kurang.

Tetapi, oleh Bung Karno, kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games coba dimanfaatkan untuk mengangkat martabat bangsa yang terjajah ratusan tahun ini di mata dunia. “Buat apa toh sebetulnya kita ikut-ikutan Asian Games? Kita harus mengangkat kita punya nama. Nama kita yang tiga setengah abad tenggelam dalam kegelapan,” kata Bung Karno.

Bung Karno pun meminta bantuan kepada Uni Soviet. Sedangkan Uni Soviet, tanpa memberika persyaratan yang mengikat Indonesia, telah bantuan sebesar 10,5 juta dollar AS. Pinjaman itu, menurut Maulwi Saelan, salah satu ajudan Bung Karno saat itu, dibayar oleh Indonesia dengan karet alam dalam tempo dua tahun.

Indonesia pun berhasil membangun kompleks olahraga di Senayan seluas 270 ha, dengan stadion utama yang dapat menampung 110 ribu penonton, yang kala itu dibanggakan sebagai stadion terbesar di dunia. Kemegahan stadion Gelora Bung Karno (GBK) masih bertahan hingga sekarang. Setidaknya, bangunan itu telah menjadi monumen kebanggan bangsa Indonesia.

Selain itu, untuk kepentingan Asian Games, Indonesia juga berhasil membangun Hotel Indonesia (HI), memperluas ruas jalan Thamrin, Jalan jend.Sudirman, jalan Grogol (sekarang, Jalan S. Parman), dan pembangunan jembatan Semanggi yang didesain oleh Ir. Sutami.

Pada ajang olahraga paling bergengsi di Asia itu, atlet-atlet Indonesia juga berhasil mencetak prestasi luar biasa. Indonesia menempati urutan kedua setelah Jepang dalam perolehan medali. Prestasi gemilang itu belum pernah berulang hingga sekarang.

Bagi Bung Karno, olahraga adalah bagian dari revolusi guna mengharumkan nama bangsa. Ia telah menempatkan olahraga sebagai salah satu alat untuk pembangunan bangsa dan karakternya (nation and character building).

Pada tahun 2011 ini, tepatnya di bulan November mendatang, Indonesia akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Sea Games ke-XXVI. Tentu, ajang SEA Games lebih rendah dibanding dengan Asian Games tahun 1962 itu.

Akan tetapi, belum juga ajang kejuaraan olahraga kawasan Asia Tenggara itu diadakan, berbagai persoalan sudah muncul; korupsi, fasilitas yang belum siap, dan prestasi olahraga nasional yang merosot.

Kejadian paling memalukan adalah korupsi dana pembangunan Wisma Atlet di Palembang. Kasus ini telah menyeret sejumlah nama petinggi partai berkuasa di Indonesia dan pejabat di Kementerian Olahraga. Ini tentu sangat memalukan kita sebagai bangsa Indonesia.

Persoalan lainnya adalah belum siapnya fasilitas penunjang kegiatan olahraga ini. Masih banyak fasilitas yang diperlukan belum terselesaikan. Bahkan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat tanda identitas bagi penyelenggara, ofisial, wasit, dan atlet pun belum bisa tersedia.

Konon, penyebab semua kelambanan itu adalah aturan dan birokrasi. Ada peraturan yang mengharuskan bahwa setiap pembangunan fasilitas dan pembelian peralatan yang menggunakan anggaran negara mesti dilakukan melalui cara tender. Mekanisme ini rawan dengan permainan proyek baik oleh pejabat maupun partai politik pemerintah.

Belum lagi, atas nama keindahan dan kecantikan kota, Pemkot Palembang telah melakukan penggusuran terhadap PKL di sejumlah ruas jalan. Hal itu tentu akan berdampak pada ekonomi rakyat bersangkutan. Tidak mesti kegiatan olahraga akbar seperti ini justru menindas rakyat.

Persoalan besar yang tak kalah mengkhawatirkan adalah menurunnya prestasi olahraga nasional. Sejak 1998, prestasi Indonesia kian merosot. Padahal, sebelumnya Indonesia selalu merajai ajang olahraga negara-negara Asia Tenggara ini. Di Sea-Games Manila (2005), Indonesia menempati urutan ke lima. Sungguh memalukan!

Penyebab turunnya prestasi olahraga nasional, antara lain, disebabkan oleh: kurangnya perhatian pemerintah, komersialisasi olahraga dan fasilitas olahraga, dan kurangnya pembinaan olahraga sejak dini.

Bandingkan dengan era Bung Karno saat itu. Pada tahun 1963, misalnya, Bung Karno menerbitkan Kepres No 263/1963  tentang target Indonesia menjadi 10 besar dalam bidang olahraga di dunia. Seiring dengan Kepres itu, pemerintah mengintensifkan program olahraga sejak SD dan pembangunan kelengkapan sarana materiilnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut