Maestra, Kisah Sukses Kuba Memberantas Buta Huruf

Maestra

Sutradara : Catherine Murphy
Penulis/Editor : Eve Goldberg
Durasi : 33 Menit
Tahun Produksi : 2011

Tingginya tingkat melek huruf di Kuba adalah satu prestasi membanggakan dan banyak dipuji dari revolusi Kuba. Dimulai setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1961, kampanye pemberantasan buta huruf memobilisasi lebih dari 1 juta rakyat Kuba sebagai guru atau pelajar. Di tahun yang sama, 707.000 rakyat Kuba belajar bagaimana membaca dan menulis. Maestra menceritakan kisah yang menginspirasi kampanye ini melalui kenangan perempuan yang menjadi pengajar—Maestra.

Pembuat film, Catherine Murphy, tinggal di Kuba pada tahun 1990-an dan memperoleh gelar master dari Universitas Havana. Dia adalah pendiri dan sekaligus direktur proyek multimedia yang dikenal sebagai proyek melek huruf, yang berfokus pada pengumpulan sejarah lisan dari para sukarelawan guru saat kampanye pemberantasan buta huruf. Untuk film “Maestra”, film pertama yang dihasilkan proyek ini, ia mewawancarai lebih dari 50 perempuan dan 13 laki-laki yang terlibat dalam kampanye itu. Banyak diantara mereka yang sudah berumur 70-an tahun. Ia juga melaksanakan penelitian selama lima tahun di arsip film nasional Kuba.

Cuplikan film ini memperlihatkan energi dan antusiasme dari perempuan muda menumpang kereta menuju kota-kota kecil dan seluruh pelosok desa Kuba untuk hidup di tengah-tengah rakyat dan mengajari mereka bagaimana menulis dan membaca. Namun tantangan yang mereka hadapi sangat ekstrem. Banyak diantara perempuan ini mendapat penentangan dari keluarga mereka, dan banyak diantaranya meninggalkan harapan keluarga. Mereka tinggal bersama dengan keluarga miskin, tidur di tempat tidur gantung pada malam hari. Di siang harinya, mereka bekerja di sawah dan ladang bersama dengan petani, dan beberapa jam menjelang malam hari, mereka harus mempersiapkan pelajaran di dalam kelas.

Kesulitan dan kemiskinan yang dialami oleh rakyat tidak selalu kondusif untuk belajar membaca dan menulis. Diana Balboa, seorang pengajar melek huruf, menceritakan kisah seorang petani yang 47 tahun memotong pohon sawit: “Tangannya bengkak dan cacat akibat pekerjaan keras itu. Ia tidak mampu memegang pensil. Aku membantunya memegang pensil tetapi selalu jatuh dari tangannya. Orang itu hanya bisa belajar membaca sedikit, tetapi ia tidak pernah mampu menulis.”

Di tengah-tengah kampanye pemberantasan buta-huruf, pelarian Kuba—dengan dukungan CIA—meluncurkan serangan teluk babi. Meskipun berhasil ditangkal dan dihalangi angkatan bersenjata Kuba, beberapa tentara bayaran berhasil lolos menyisir daerah pedesaan, dan melakukan kekerasan terhadap petani dan guru melek-huruf.

Di negara dimana kaum miskin perkotaan dan desa sudah lama ditolak oleh lembaga pendidikan, kampanye pemberantasan buta-huruf merupakan pemberdayaan. Bagi kaum kontra-revolusioner yang hendak melihat Kuba kembali ke status-quo, mengajari orang miskin menulis dan membaca adalah penghinaan bagi klas berkuasa. Seorang pengajar menceritakan bagaimana kelompok bersenjata menggedor pintu rumah keluarga angkatanya dan menuntut: “bawa keluar guru melek huruf!” Tetapi keluarga ini, seperti juga keluarga lainnya di seluruh Kuba, memilih mempertaruhkan nyawa dengan berbaris untuk melindungi guru-guru itu. Sayangnya, terkadang mereka tidak selamanya bisa lolos dari ancaman ini, dan seorang pengajar,  Manuel Ascunce, dibunuh oleh pemberontak.

Seperti diceritakan para guru melek huruf, kampanye ini telah melanggar hal-hal yang bersifat tabu di masyarakat, khususnya seputar gender. Perempuan muda pada umumnya tunduk pada norma-norma patriarkhi. Mereka tidak diharapkan unggul dalam urusan studinya. Mereka dikurung dirumah, dan masa depan mereka dibatasi oleh apa yang sudah diputuskan oleh keluarga mereka. Kampanye buta-huruf ini telah membantu para perempuan muda ini keluar dari kekangan orang tua mereka. Untuk Norma Guillard, yang ikut ambil-bagian dalam kampanye ini pada usia 15 tahun, ini adalah pengalaman. Ini adalah pertama-kalinya ia jauh dari rumah, dan memberinya semacam perasaan kebebasan dan kemerdekaan.

Film ini menunjukkan bagaimana kampanye pemberantasan melek-huruf tidak hanya mempromosikan melek-huruf, tetapi juga sangat mengubah kehidupan para pengajar (maestras) itu sendiri. Setelah kembali dari kampanye ini, mereka diberi beasiswa untuk melanjutkan studi mereka. Guillard pun segera mendaftar. Seperti yang ia ceritakan, “aku menjadi berguna untuk berpindah kemana-saja dan menjadi independen. Ia akhirnya dilatih sebagai psikolog. Pengajar (maestra) lainnya menjadi guru matematika. Profesi ini sangat jarang untuk perempuan di masa sebelum revolusi.

Dalam film ini, kami diingatkan satu tonggak penting yang dicapai Kuba dalam waktu singkat. Satu adegan paling menyentuh dalam film ini adalah cuplikan seorang pria yang menulis namanya dipapan tulis hitam, dengan tulisan miring yang disengaja, sementara guru menyaksikannya dari samping. Ketika selesai ia berdiri di depan nama lengkapnya: Pablo Benitez. Dia cukup tenang, dan sebuah senyum bangga terpancar dari mukanya.

Kampanye pemberantasan buta-huruf adalah sangat penting untuk dikembalikan hari ini, untuk menjawab tantangan global soal buta-huruf. Kami sering berfikir tentang buta-huruf, khususnya di negara-negara barat, sebagai masalah yang diberantas tahun lalu, bersama dengan persoalan cacar. Tapi menurut UNESCO, sekitar 1 milyar orang—atau 25% dari populasi orang dewasa—masih buta huruf. Sementara negara-negara berkembang memiliki tingkat buta-huruf cukup tinggi, sementara negara berkembang di barat juga cukup tinggi. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1998 oleh Institut Nasional untuk Melek Huruf memperkirakan bahwa 47% orang dewasa di Detroit dan 36% di New York adalah pembaca dan penulis level-1, yang berarti bahwa mereka hanya bisa mengerjakan tugas yang berkaitan dengan dokumen dan teks sederhana, seperti tanda-tangan nama mereka dan menghitung deposito bank, tetapi tidak bisa membaca dengan cukup baik untuk “mengisi sebuah aplikasi, membaca label makanan, atau membaca cerita sederhana untuk anak.”

Maestra adalah film yang merekonstruksi dengan indah dan menarik satu kampanye paling signifikan dalam sejarah Kuba. Lima puluh tahun berlalu, film ini menunjukkan bagaimana kampanye itu masih berpengaruh dalam kehidupan orang-orang yang ambil-bagian di dalamnya.

SUJATHA FERNANDES

Penulis adalah Asisten Professor Sosiologi di Queens College dan lulusan City University of New York. Ia juga adalah seorang penulis. Salah satu karya terbarunya adalah Close to the Edge: In Search of the Global Hip Hop Generation (Verso, 2011). Penerjemah: Ali Wardhana

Catatan: Resensi ini pertama kali dipublikasikan di NACLA Report edisi September/Oktober 2011

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut