Long March Petani Ogan Ilir Tiba Di Istana Negara

Aksi jalan kaki (Long March) yang digelar oleh puluhan petani Ogan Ilir, Sumatera Selatan, akhirnya berhasil mengingajakkan kaki di depan Istana Negara di jalan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (9/12).

Para petani mulai memasuki Jakarta pada hari Jumat (6/12). Mereka langsung beristirahat di daerah Jakarta Barat. Kemudian, pada hari Senin (9/12) pagi, seratusan petani yang menyusul dari Ogan Ilir dengan menumpang bus juga tiba di Jakarta.

Aksi long-march yang dilakukan oleh petani Ogan Ilir ini memakan waktu 27 hari untuk tiba di Jakarta. Mereka memulai aksinya tanggal 10 November 2013 lalu.

Di depan Istana Negara, para petani yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 ini pun menggelar mimbar bebas dan menyuarakan tuntutannya. “Saya berharap, tanah kami yang dirampas oleh PTPN VII harus dikembalikan,” kata Sopar (81 tahun), petani asal desa Seri Bandung, Tanjung Batu, Ogan Ilir.

Hal senada diungkapkan oleh Hendra, petani asal desa Betung, Kabupaten Ogan Ilir. Ia berharap, konflik agraria antara petani Ogan Iliri dengan PTPN VII yang sudah berlangsung 30-an segera diselesaikan oleh pemerintah.

Dalam aksinya para petani Ogan Ilir mendesak pengembalian lahan mereka seluas 13.000 ha yang saat ini masih dikuasai oleh PTPN VII Cinta Manis. Mereka juga mendesak agar Menteri BUMN Dahlan Iskan segera mereka merespon tuntutan petani.

Dalam aksi ini, para petani mengirimkan delegasi untuk menghadiri mediasi yang diinisiatifi oleh Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pertemuan itu menghadirkan pihak PTPN, BPN, Pemerintah Provinsi Sumsel, Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir, dan lain-lain. Sayang, Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang juga diundang di pertemuan ini, tidak hadir tanpa pemberitahuan apapun.

Menurut Yoris Sindhu Sunarjan, Ketua Umum Serikat Tani Nasional yang turut mendampingi petani, pertemuan mediasi tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Panitia Bersama untuk Penyelesaian Konflik Agraria. Panitia tersebut akan melibatkan para petani Ogan Ilir di dalamnya.

Usai menggelar aksi massa di depan Istana Negara, para petani kembali melanjutkan aksinya ke kantor Kementerian BUMN. Di sana mereka menuntut pencopotan Menteri BUMN Dahlan Iskan apabila tidak merespon tuntutan petani.

“Dahlan Iskan jangan mengaku pro-rakyat, jika tetap membiarkan PTPN yang notabene dibawah kendali Kementerian BUMN terus merampas hak-hak kaum tani,” kata seorang petani dalam orasinya.

Aksi massa petani Ogan Ilir di depan Kementerian BUMN ini diguyur hujan deras. Meski demikian, para petani tetap berdiri kokoh di depan pintu gerbang kantor Kementerian BUMN.

Setelah menggelar mimbar bebas sejalam beberapa jam, para petani Ogan Ilir ini diperkenankan menginap di dalam kantor Kementerian BUMN. Rencananya, para petani ini akan kembali melanjutkan aksinya pada hari Selasa (10/12) besok.

Untuk diketahui, konflik antara petani Ogan Ilir dengan PTPN VII Cinta Manis mulai terjadi sejak tahun 1982. Menurut Abdul Muis (62), seorang petani dari Desa Seri Bandung, Tanjung Batu, Ogan Ilir, saat itu proses pembebasan lahan bermasalah sehingga berujung pada perampasan lahan milik rakyat.

Konflik tersebut melibatkan 6000-an kepala keluarga petani dari 22 desa di Kabupaten Ogan Ilir. Sejak tahun 1999, para petani mulai bergerak untuk memperjuangkan kembali hak-haknya.

Namun, perjuangan petani ini tidak gampang. Meski berbagai cara sudah dilakukan, termasuk pendudukan lahan, tetapi pemerintah tak kunjung merespon tuntutan mereka. Bahkan, pada tahun 2012 lalu, konflik agraria di Ogan Ilir memicu korban jiwa.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut