Jaelani: dari Melawan Kesewenang-Wenangan Orde Baru hingga Merawat Kehidupan

Jaelani.jpg

Kalimantan, tak hanya kisah tentang paru-paru dunia,  alih fungsi  kawasan hutan, pertambangan, batubara, minyak,  perkebunan kelapa sawit, kerusakan lingkungan, penghijauan, kerusakan hutan dan Orang Hutan tapi juga kisah tentang seorang anak manusia dalam pencarian hidup: lahir dan batin. Ini adalah kisah tentang perjuangan seorang anak manusia yang juga,  seorang suami dan  seorang Ayah  menemukan ketenangan batin.

“Di sini, dalam kesunyian hutan kebun, aku menemukan hidupku. Aku mendengar nyanyian merdu alam, burung-burung, bahkan nyanyian dan rintihan pepohonan serta bibit-bibit tanaman yang tumbuh,” ungkapnya sambil menikmati madu hutan tanpa diolah yang baru saja diambil dari sarang dengan lebih dahulu mengusir keriangan lebah-lebah yang barangkali marah hasil kerja tekunnya “dirampas”. Aku pun turut menikmatinya: warnanya putih seperti seperti cairan gula tebu dan rasanya manis sekali.

Ketika merasa gagal dalam hidup alias bangkrut, keputus-asaan menyerang dan sia-sia segala yang telah dibuat baik di masa gegap gempita melawan Soeharto Orde Baru dengan  terlibat aktif mendirikan  Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada 29 Desember 1994 maupun di masa sesudah Orde Baru tumbang: 1999 menjadi Calon Legislatif DPRD II dari PDI Perjuangan,  Jaelani, alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada ini mengambil keputusan penting dalam hidupnya: “Harus pergi meninggalkan kota dan kampung halamannya.” Kepergian itu pun tak sendirian tapi dengan memboyong keluarga.  Kemana?

“Saat itu di otakku hanya pergi ke Kalimantan. Tak ada gambaran ke kota mana atau pun pulau-pulau lain,” ujar Jaelani, nama yang dikenal semasa mahasiswa dan juga dengan nama itulah ia didukung kawan-kawan untuk menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dan menjadi pimpinan Mahasiswa Fakultas Filsafat Angkatan 1991. Sebagai mahasiswa yang aktif dan kritis, Jaelani juga terlibat dalam aksi radikal saat itu yang dipimpin organisasi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi-SMID. Pada 7 Juli 1994, Jaelani terlibat dalam Aksi Puasa Keprihatinan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi di halaman Gedung YLBHI  yang dihadiri 200 aktivis mahasiswa dari berbagai kota. Aksi itu untuk menentang sikap pembredelan Tempo, Editor dan Detik oleh Pemerintah RI. Karena aksi ini, Jaelani bersama 41 aktivis lainnya dari berbagai cabang SMID  yaitu:  Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Semarang dan Jember ditangkap oleh Aparat  Kepolisian RI di bawah Komando Letkol Dadang Garnida.

“Tanpa tujuan? Bagaimana kamu bisa sampai di Banjar Baru, Cempaka, Gunung Kupang, bekas penambangan intan ini?”

“Ya. Aku bertanya-tanya dengan uang 250 ribu kira-kira sampai mana ini kalau pergi ke Kalimantan yang paling dekat bersama istri dan anak. Yang paling dekat ke Banjarmasin , Kalimantan Selatan. Ya, pergilah kami ke sana dengan Kapal, makan dan tidur seadanya. Di atas kapal aku merenungi perjalanan hidupku yang naik tiba-tiba turun dan meyakinkan diri akan hidup mulai  dari nol di Kalimantan lalu menelpon saudaraku di Kalimantan Timur kalau aku ke pergi Banjarmasin. Saudaraku menyarankan aku untuk sementara datang ke pamanku di Banjar Baru. Aku pasrah saja seperti mengalirnya sungai: panta rhei,” jawabnya sambil mengutip Filsuf Yunani, Heraklitos.

“Masih ingat juga sama Heraklitos?” sindirku.

Jaelani tertawa ia bangkit mengajakku jalan-jalan melihat berbagai bibit tanaman yang dia jaga, rawat, tumbuh dan hidup sehat-subur yang siap disebarkan ke seluruh Pulau Kalimantan. Ya ada jutaan bibit tumbuh di sini: Gaharu, Sawit, Jati, Sengon, termasuk pohon buah-buahan terutama Mangga dan Buah Naga;  juga tanaman hias seperti Mawar dan Kamboja.  Sambil jalan, kadang ada saja orang yang menghampiri dan bertanya langsung berapa harga per bibit untuk jenis pohon ini dan pohon itu. Jaelani dengan nada cepat memberikan jumlah harganya. Orang itu pun bisa ikut sambil jalan melihat berbagai tanaman bibit atau Jaelani meminta salah satu pekerjanya untuk mengantar tamu itu melihat bibit yang dicarinya.

Jaelani juga  tak segan menegur pekerjanya yang lalai menyiram tanaman bibit atau salah  cara menyiram tanaman bibit sambil memberikan contoh langsung bagaimana menyirami tanaman bibit yang benar. Baju “dinas”nya pun hampir tidak berbeda dengan orang-orang yang bekerja padanya. Jaelani berani kotor sebagaimana para petani dan pekerja kebun mengolah kehidupan di atas tanah dan air yang dicintai dengan amat sangat.  Jaelani  memang mulai dari nol sebelum hidup bersama jutaan berbagai bibit tanaman.

Dengan berani, ia bersepeda onthel melewati jalan-jalan berdebu dan panas di Gunung Kupang, Cempaka dan sekitarnya menawarkan bibit tanaman. Hingga suatu hari Jaelani sanggup membeli tanah untuk dijadikan pusat pembibitan berbagai tanaman. Hamparan tanah yang dia beli dan tanah-tanah di sekitarnya diyakini penduduk gersang dan tak menyimpan air. Tapi Jaelani percaya dan yakin: di bawah tanah yang dilihat orang-orang gersang dan kering kerontang ini menyimpan air berlimpah untuk hidup dan berkembang biak bagi jutaan calon pohon yang siap disebar ke seluruh Kalimantan.  Kisah bahagia Gunung Kupang dan Cempaka bersama pendulangan Intan dan emas sudah berakhir. Tapi kisah duka itu pun terhibur dengan hadirnya Jaelani. Jaelani telah menawarkan kehidupan yang lain yaitu tersedianya air yang digali dari tanah yang dia beli bahkan kadang cukup untuk berbagi dengan warga sekitarnya dan kerja pembibitan pohon. Namanya menjadi terkenal di Gunung Kupang, Cempaka, Banjar Baru.  Banjarmasin Post pun datang menulis:  Jaelani telah Menyulap Cempaka Jadi Hijau. (Banjarmasin Post, 1 Maret 2009)

“ Ya gimana ya: aku juga masih ingat sama Louis O. Kattsoff. Masih ingat pelajaran Pengantar Filsafat? Apa yang disampaikan di awal mula? Filsafat itu tidak membuat roti. Itu yang paling teringat.  Sementara, kita harus hidup, membuat roti, membuat kehidupan. Duh, filsafat. Tapi memang benar, hidup tidak hanya untuk roti saja.” Aku mengangguk.

“Sekarang hidupmu dekat dengan kehidupan. Kamu menanam bibit, merawatnya, memberi “minum” (kata Tan, anak pertamaku kalau menyirami bunga) agar tumbuh sempurna dan dicintai orang lain sehingga orang lain itu pun merawatnya dengan baik. Apakah kamu akan menulis filsafat tumbuh-tumbuhan?”

“Apa yang harus ditulis?”

“Terserah kamu. Kamu yang bergelut dengan hidup-mati tumbuh-tumbuhan di sini. Mungkin bisa berangkat dari segi teknik pembibitan. Teman kita telah menulis filsafat olah raga. Yang lain menulis filsafat sex, bahkan sudah diterbitkan menjadi buku. Bukankah dengan hidup barumu ini kau dipanggil Jon Bibit?“ Jon adalah nama panggilan lain selain Jaelani atau sering juga disebut Timur Jaelani.

“Ya. Nanti pasti akan kutulis caraku menanam bibit dan merawatnya.”

Aku pun berharap besar Jaelani akan menulis tentang tumbuh-tumbuhan sebagaimana Aristoteles menulis  tentang tumbuh-tumbuhan atau  seperti orang asing, Franz Wilhelm Junghuhn, penemu obat  malaria yang begitu besar cintanya pada tumbuh-tumbuhan di Nusantara sampai  berakhir di Lembang, 24 April 1864 pada umur 54 tahun.

Jaelani dilahirkan di Kediri, 21 Juli 1971. Tentu masih banyak waktu berkembang dan tumbuh bersama Banjar Baru Natural Farm yang ia dirikan  dan orang-orang yang mencintainya. Aku berharap Jaelani berumur panjang,  sehat dan bahagia;  terus berbagi mengenai ilmu baru yang kini ditekuninya kepada alam, rakyat dan negeri yang dicintainya.

AJ Susmana

Banjar Baru Natural Farm, Cempaka, Gunung Kupang, Akhir September 2013 – Jakarta, 9 Desember 2013

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut