Lima Alasan Pemilu 2014 Sulit Berkualitas

Penyelenggaraan pemilu 2014 dinilai masih sulit menghasilkan pemilu berkualitas. Pasalnya, baik penyelenggara pemilu maupun kontestan pemilu belum siap menyelenggarakan pemilu secara bersih dan demokratis.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh staff Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), Alif Kamal, di Jakarta, Kamis (31/10/2013). Menurutnya, pemilu berkualitas mengisyaratkan adanya kontestasi politik yang demokratis dan partisipasi politik rakyat yang tinggi.

Alif pun membeberkan setidaknya empat alasan mengapa proses penyelenggaraan pemilu 2014 masih sulit berkualitas. Pertama, menurut dia, sampai sekarang KPU belum berhasil menyediakan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang akurat dan objektif.

“Masalah DPT ini tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, DPT bermasalah bisa memicu penghilangan hak politik rakyat dan terbukanya peluang kecurangan pemilu,” kata Alif.

Alif berharap agar KPU bisa bekerja maksimal guna menyelesaikan persoalan DPT ini. Selain itu, sikap terbuka KPU dan kontrol publik diperlukan untuk memastikan DPT pemilu 2014 bisa benar-benar akurat dan terverifiksi.

Alasan kedua, kata Alif, KPU sebagai penyelenggara pemilu masih terbelit persoalan independensi. Ia menyoroti kerjasama KPU dengan Lemsaneg yang justru berpotensi membuat KPU tersandera dan kehilangan independensinya.

“Kita tahu, Lemsaneg ini kan bertanggung-jawab kepada Presiden. Sedangkan Presiden sekarang ini adalah pimpinan salah satu parpol kontestan pemilu 2014,” ujar Alif.

Alasan ketiga, ungkap Alif, praktek politik uang masih berlangsung massif di berbagai ajang pemilihan, baik pemilu nasional maupun kepala daerah. Menurutnya, praktek politik uang yang massif menggerogoti kualitas demokratis penyelenggaraan pemilu.

Alasan keempat, banyak anggota KPU, termasuk di berbagai daerah, tersandung kasus hukum. Ia mengungkapkan, hingga sekarang ini sudah ada ratusan anggota penyelenggara pemilu yang dipecat karena menyalah-gunakan wewenang.

Menurutnya, banyaknya anggota penyelenggara pemilu bermasalah menunjukkan bahwa penyelenggara pemilu masih sulit berlaku jujur, adil, bersih, dan demokratis. “Kalau penyelenggaranya saja sudah rusak, sudah pasti pemilunya juga rusak,” tandasnya.

Alasan kelima, kata Alif, adalah belum siapnya para kontestan pemilu, baik pemilu maupun caleg-nya, untuk bertarung secara jujur, adil, bersih, dan demokratis. Ia menilai kecenderungan para kontestan pemilu menghalalkan segala cara, termasuk politik uang dan kecurangan, juga faktor penghambat lahirnya pemilu berkualitas.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut