Pernyataan Joshua Oppenheimer Terkait Aksi Kekerasan Terhadap Korban 1965 Di Jogjakarta

Korban 1965.jpg

Berikut ini Pernyataan Joshua Oppenheimer, sutradara film sekaligus pembuat film ‘The Act of Killing/Jagal’, terkait Pembubaran Paksa dan Kekerasan oleh Front Anti-Komunis Indonesia 27/10/2013 di Yogyakarta:

Pada hari Minggu lalu sekelompok orang yang telah dimiskinkan berpuluh tahun berusaha memperbaiki hidupnya, dengan bertemu, berkumpul, berbagi cerita, juga belajar membuat pupuk dengan tenaganya sendiri karena negara tak membantu kehidupan mereka, dan karena justru negaralah yang membuat mereka miskin. Mereka adalah keluarga korban dan penyintas pembantaian massal 1965. Di manakah negara bagi mereka?

Pada hari yang sama, seorang jagal yang puluhan tahun lalu turut serta mempermiskin mereka lewat pembantaian massal mengumpulkan orang-orang agar mereka tak bisa berkumpul. Orang ini dan anak buahnya adalah Front Anti-Komunis Indonesia dan mereka leluasa memukuli serta memaksa pertemuan bubar tanpa dicegah oleh negara. Di manakah negara?

Adegan yang sungguh dramatis ini bukan adegan film fiksi. Ini adalah apa yang sedang benar-benar terjadi, baru saja, di Indonesia. Para pembunuh massal masih terus menyelenggarakan pertunjukkan teror dan ancamannya dengan efektif serta masih bisa memamerkan impunitas yang mereka nikmati. Bahwa mereka tak tersentuh hukum. Dan negara kembali gagal melindungi hak mereka yang telah dirundung penindasan selama ini; negara gagal menegakkan keadilan. Sejak puluhan tahun silam.

Ada satu pertanyaan penting bagi mereka yang peduli dengan persoalan Hak Azazi Manusia yang harus diajukan dalam kasus ini, dan juga banyak kasus lain sepanjang sejarah suram pelanggaran Hak Azazi Manusia di Indonesia: sekalipun polisi mengetahui rencana penyerangan terhadap pertemuan tersebut, mengapa bukannya melindungi para peserta, tetapi polisi justru membiarkan penyerangan itu terjadi, sehingga beberapa peserta mengalami cedera?

Kami tahu negara, Presiden Republik Indonesia, dan aparat penegak hukum memerlukan kebesaran hati dan keberanian luar biasa untuk memulai rekonsiliasi dan penegakan keadilan atas pelanggaran HAM berat 1965 dengan meminta maaf. Sampai negara punya kebesaran hati dan keberanian itu, ini adalah sebuah ujian kecil. Apakah kejahatan akan terus dibiarkan? Akankah kita melihat kewenangan negara digunakan sebagaimana mestinya: untuk melindungi hak azasi warga negara Indonesia? Akankah impunitas puluhan tahun diteruskan dan dipelihara?

Sampai kapan kekosongan moral ini akan dibiarkan?

Akan tiba waktunya semua yang berwenang dan punya kekuasaan ditimbang keputusan dan perbuatannya dalam sejarah.

Mata dunia mengawasi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut