Lagu-Lagu Yang Melecehkan Kaum Perempuan

Robin Thicke in his Blurred Lines film clip.

Pembaca (pendengar) diposisikan sebagai laki-laki, sehingga pendengar diasumsikan selaras dengan apa yang diinginkan pencipta lagu. Apa yang dikomunikasikan oleh pencipta lagu yang menggambarkan seksisme dan stereotipe negatif perempuan seakan-akan benar dan wajar. Pendengar tidak sadar bahwa dia telah dimasuki ideologi antifeminis oleh pencipta lagu. Posisi pendengar yang berada pada pihak laki-laki (pencipta lagu) akan memperkuat konstruksi ideologi patriarkhi dan menambah tersebar luasnya bias gender dalam lirik lagu.

-Netty Dyah Kurniasari, Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIB, Universitas Trunojoyo

Mungkin tulisan ini kurang up to date karena baru sekarang membahas problem beberapa lagu yang beredar di masyarakat dimana liriknya sungguh tidak mendidik. Saya mencoba menambahi atau melengkapi perbendaharaan keprihatinan mengenai masalah tersebut diatas yang sudah banyak ditulis di blog, di komentar-komentar miris, sampai pada kajian mendalam.

Mendengarkan lagu-lagu (pop) kita hari ini sebagaian besar masih belum berubah secara isian tema atau liriknya. Relasi percintaan laki-laki dan perempuan dieksploitasi tak habis-habis dan jadi inspirasi untuk penciptaan-penciptaan berikutnya. Para seniman musik itu tahu bahwa tema tersebut yang akan “digemari alias diterima” masyarakat luas dan direstui industri music. Maka mereka sekuat hati mencipta lagu se-lebay dan se-galau mungkin.

Dikte industri musik Indonesia yang dimonopoli oleh koorporasi raksasa dunia, seperti Sony BMG Music Entertainment, Universal, Warner Music Group dan EMI Group, memang maunya seperti itu, setali tiga uang dengan kapitalisme yang eksploitatif, mendarah daging dalam hidup keseharian ini.

Untuk gampangnya, bolehlah di cek tema apa yang dominan dan hari ini beredar di radio-radio, tayang di tivi-tivi. Sedikit sekali yang bicara perkara-perkara sosial atau problem kanak-kanak kita hari ini. Mengutip pernyataan penyair Edgar Allan Poe: “The death of beautiful woman is, unquestionably, the most poetical topic in the world”.

Sebenarnya saya tidak bermasalah dengan tema atau kisah percintaan tersebut, karena sebagai manusia tentu suka sekaligus mengalaminya, cuma yang mengganggu adalah betapa dominannya tema percintaan tersebut. Sudah dominan ditambah bias gender, ada penindasan dan ketidakdilan disana. Tidak ada ideologi kesetaraan (ya…minimal cita-cita kearah sana) yang menginspirasi para musisi kita.

Relasi yang terjadi dalam lirik lagu melulu menempatkan perempuan sebagai obyek (penderita), selalu salah, direndahkan martabatnya, negatif, pasif, tergantung pada laki-laki dan melulu sebagai simbol seks. Sebaliknya laki-laki itu gambarannya mendominasi, macho, aktif dan sebagai subyek yang tegar mencari jalan keluar atas masalah-masalah asmaranya.

Sekarang ayo.. kita coba permasalahkan lagu-lagu itu, Anda bisa simak dan beri pendapat kritis atas karya tersebut.

Madu Tiga (Ahmad Dhani).

Lagu ini menggambarkan betapa “digdayanya” laki-laki dalam berpoligami. Sebuah relasi jauh dari cita-cita membangun kesetaraan.

Judul Lagu     : Madu Tiga
Penyanyi       : TRIAD Band
Pencipta       : P. Ramlee

Aii… senangnya dalam hati
kalau beristri dua
Oh seperti dunia
Ana yang punya

Kepada istri tua
Kanda sayang padamu
Oh kepada isteri muda
I say i love you

Istri tua merajuk
Balik ke rumah istri muda
Kalau dua-dua merajuk
Ana kawin tiga

Mesti pandai pembohong
Mesti pandai temberang
Oh tetapi jangan sampai
Hai pecah tembelang.

Telat Tiga Bulan (Jamrud Band)

Aziz MS si pentolan Jamrud itu yang menulis sebagai besar liriknya. Band rock asal Cimahi ini sudah menghasilkan 12 album studio dan mencapai puncak sukses penjualan 2 juta keping di album‘Ningrat’di tahun 2000. Berkali meraih AMI Award sebagai grup rock terbaik. Aziz MS begitu lugas dalam menulis lirik dengan tema beragam, soal seks bebas, percintaan, over dosis narkotika dan tema-tema sosial lainnya.

Berikut liriknya yang merendahkan perempuan itu.

Judul         : Telat Tiga Bulan
Penyanyi      : Jamrud Band
Pencipta      : Azis M. Siagian

Malam Jumat bertemu
Di apotik Pak Mahmud
Kamu tersenyum tersipu
Aku pura-pura malu
Dan kita mulai
Saling tanya jawab

Malam Sabtu kujemput
Rok minimu menyambut
Kuajak kau ke laut
Lihat pemandangan bagus
Namanya laut
Angin pasti kencang
Rokmu melayun
Naik turun

Hey salahkah aku
Yang jadi mau
Karena melihat isi dalam rokmu

Hei kenapa kau pun mau
Dan kita langsung berguling bergerak bebas di atas pasir

Beberapa bulan gak ketemu
Kau tampak jadi gendut
Lagi memilih susu
Di apotik Pak Mahmud
Kutanya kabar
Kau malah menangis
Sambil berbisik
Aku telat 3 bulan

Belum kalau kita menyimak lagu dangdut, tarling, campursari (walau tidak semua memang), satu sisi saya pribadi suka dengan kejujuran atas lirik-liriknya, tapi disisi lain betapa dangkal dan jorok. Pendengar benar-benar diarahkan untuk menangkap pesan cabul dalam lagu tersebut. Persetan mau kanak-kanak yang mengkomsumsi, yang penting heboh dan vulgar dulu agar mudah diingat dan masuk di kepala masyarakat. Sudah liriknya cabul ditambah komunikasi di atas panggung, cara menyanyi atau membawakan lagu si biduan-biduan tersebut juga seronok dan bergaya persetubuhan. Entah tuntutan profesi atau tekanan sang manajer yang pasti saat saya pernah menonton pertunjukan seperti itu jatuh prihatin dan serendah-rendahnya iman berujar seperti saat Yesus disiksa sekarat di kayu salib: “Allah ku… Allah ku ampunilah mereka, sebab mereka tidak sadar apa yang mereka perbuat.

Berikut dosa lagu-lagu tersebut, Anda bisa googling sendiri liriknya;

Judul            : Cinta Satu Malam
Penyanyi         : Melinda
Pencipta         : Cahyadi

Judul Lagu       : Paling Suka 69
Penyanyi         : Julia Perez
Pencipta         : Julia Perez

Judul Lagu       : Hamil Duluan
Penyanyi         : Tuty Wibowo
Pencipta         : Tjahjadi Tjajanata Ishak

Judul Lagu       : Kebelet
Penyanyi         : Deviana Safana
Pencipta         : Monata

Judul Lagu       : Wanita Lubang Buaya
Penyanyi         : Minawati Dewi

Judul Lagu       : Mobil Bergoyang
Penyanyi         : Lia MJ feat Asep Rumpi

Judul Lagu       : Apa Aja Boleh
Penyanyi         : Della Puspita

Judul Lagu       : Ada Yang Panjang
Penyanyi         : Rya Sakila

dan seterusnya… dan seterusnya….

Cita-cita tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki adalah mimpi yang sudah diperjuangkan sejak masa pergerakan dahulu. Dewi Sartika, Kartini, Roehana Koeddoes, Maria Walanda Maramis adalah sekian dari perempuan-perempuan berpikiran progresif. Demi kemajuan kaumnya mereka mendirikan sekolah-sekolah bagi perempuan; pendidikan baca tulis, keterampilan, mengenal organisasi, aktif di urusan publik, belajar mengusahakan hidup mandiri dan tidak bergantung secara ekonomi pada laki-laki, punya pendapat dan ide dalam membangun ekonomi hingga terlibat dalam kegiatan politik, itulah yang ingin diraih atas sekolah-sekolah tersebut, agar kaum perempuan tidak melulu terlempar sebagai mahkluk domestik yang cuma ngurusi dapur – sumur dan kasur atau jerat kemiskinan yang menjerumuskan banyak perempuan dalam kawin paksa usia dini, perceraian yang tidak adil, KDRT, prostitusi, pasrah di poligami dan pergundikan.

Kapitalisme, hingga pada tahap yang paling mutakhir sekarang ini, yakni imperialisme neoliberal, memang berkewajiban melanggengkan penindasan atas perempuan. Mereka butuh obyek untuk dieksploitasi, karena itu yang akan mendukung penjualan atas produk-produk mereka dan menyuruh rakyat sedunia untuk berperilaku konsumtif. Dan obyek eksploitasi itu adalah perempuan, dari iklan cream pemutih kulit, penghambat tumbuh kembangnya bulu ketiak hingga lagu-lagu yang sedang jadi pembahasan kita dalam tulisan ini.

Terakhir, sebagai bentuk kepedulian atas ketidakbenaran di atas maka kita harus berani membangun gerakan dengan menyuarakan kesetaraan ke segala lini. Para senimannya, pekerja seninya, pelaku industri kreatif baik perempuan maupun laki-laki harus mulai mencipta karya-karya (musik, sastra, gambar, film dan sebagainya) yang tidak merendahkan martabat kaum perempuan, tidak bias gender apalagi melulu mengumbar seksualitas. Atau dengan mengeluarkan seruan untuk tidak mendengarkan lagu, tidak akan mendatangi konser artis atau grup musik yang sudah terbukti punya lirik tidak mendidik dan mengumbar seksualitas. Agar kesalahan yang terus menerus dijejalkan ke telinga – mata dan hati kita itu tidak berubah menjadi kebenaran atau kesepakatan umum.

Jakarta, 10 Maret 2015

Sukir Anggraeni, bekerja di Blackhole Production

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut