Kuba Berjuang Untuk Swasembada Pangan

Merespon harapan rakyat, berkurangnya produktivitas pekerja, blokade Amerika Serikat, dan meroketnya biaya impor—khususnya pangan—Kuba merestrukturisasi ekonominya. Perubahan pertanian merupakan bagian dari proses ini.

Pada tahun 2008, pemerintah membuka lahan tidur untuk jangka panjang, yang dikelola oleh individu atau koperasi. Langkah itu diambil setelah biaya tahunan impor pangan naik hingga di atas 1,5 miliar dollar AS dan kenyataan bahwa setengah lahan pertanian di Kuba, sekitar 8,5 juta hektar, adalah lahan menganggur. Para pembuat kebijakan berharap setengah juta pekerja dari sektor pekerjaan negara dipindahkan ke sektor pertanian ini.

Hampir empat tahun kemudian, tepatnya 17 Mei 2012 lalu, seorang pejabat pertanian Kuba, Pedro Olivera, melaporkan bahwa 163 ribu petani atau koperasi sudah menerima 3,8 juta hektar lahan tidur, yang mana 79% diantara mereka bertani.

Banyak penerima menyatakan proses itu panjang dan membosankan. Beberapa mengaku bahwa kontrak yang mereka tandatangani sulit dimengerti. Kegiatan pertanian mereka sering tertunda karena tidak tersedianya kredit dan pasokan yang dijanjikan. Proses transportasi produk pangan ke pasar masih bermasalah. Banyak petani yang memprotes kontrol negara terhadap distribusi pangan. Muncul rencana untuk merestrukturisasi Kementerian Pertanian.

Pemerintah lantas membujuk kaum muda dan orang di kota untuk bertani. Upaya terbaru pemerintah adalah mengusir serangan marabú—sejenis burung—di lahan pertanian dengan mendorong tanaman biomassa untuk memproduksi energi. Meskipun teknologi untuk pemanenan baru dan irigasi sudah diterapkan pada pemanenan gula, tetapi sisa-sisa peninggalan penggilingan lama yang tidak efisien masih menghambat produksi gula. Vietnam terus menyarankan ke Kuba agar beralih ke produksi beras.

Didorong oleh kesuksesan produksi beras dan kacang-kacangan, produksi pertanian diperluas hingga 9,8% pada empat bulan pertama di tahun 2012  dan impor beras dari Vietnam—pemasok utama beras di Kuba—mulai berkurang. Meski begitu, secara keseluruhan produksi tahun 2012 masih berada di bawah capaian produksi tahun 2005. Ketidakmampuan Kuba meningkatkan produksi pangan secara keseluruhan diakibatkan oleh pola lama dari level produksi yang sangat rendah.

Di tahun 2010, produksi beras per are, produksi unggas, dan produksi jagung berada angka rata-rata tahunan selama 50 tahun produksi pangan ini. Kuba membelanjakan sebesar 159,9 juta dollar AS dan 155,9 juta dollar AS untuk mengimpor unggas dan jagung. Di dunia peringkat produksi beras Kuba berada di level sangat rendah.

Kuba, pada tahun 2010, harus mengimpor 40.000 ton susu bubuk seharga 194  juta dollar AS. Produksi susu dan daging menurun hingga sekarang, 2012. Para pengamat mengatakan, petani kesulitan menjaga kesehatan ternak mereka sehingga produksi menurun. Lebih dari setengah petani baru yang menerima tanah pada rencana reformasi tahun 2008 berkeinginan untuk memelihara ternak.

Paradoksnya, reformasi pertanian Kuba pasca keruntuhan blok soviet dan hilangnya mitra-dagang justru menerima penghargaan dunia sehubungan dengan praktek pertanian berkelanjutan. Produksi pertanian Kuba dari tahun 1996 hingga 2005, yang rata-rata tumbuh 4,2% pertahun, adalah tertinggi di Amerika Latin. Pada tahun 1990-an, pemerintah sudah mentransfer tanah kepemilikan kecil kepada individu petani untuk penggunaan jangka waktu panjang. Penduduk kota dan seluruh negeri sama-sama menerapkan prinsip ekologis dalam pertanian skala kecil.

Dalam artikel berjudul “Paradoks Pertanian Kuba”, Miguel Altieri dan Fernando Funes-Monzote menandai kesuksesan pertanian Kuba sehubungan dengan desenstralisasi dan menguatnya peran individu dan koperasi. Petani kecil di Kuba, pada tahun 2005, hanya menguasai 25% dari budidaya pertanian, tetapi tingkat produksi mereka mengcakup 65% dari total produksi pulau itu. Ini sekaligus dengan kemampuan mereka mengurangi ketergantungan terhadap pestisida dan pupuk kimia.

Reformasi pertanian baru-baru ini merupakan respon pemerintah terhadap beban kuba, seperti yang dilaporkan, karena mengimpor 70% dari kebutuhan pangannya.  Altieri dan Funes-Monzote mengatakan, perkiraan itu mengacu pada makanan yang dibagikan melalui sistem penjatahan. Mereka juga menunjukkan, data untuk produksi dan distribusi beberapa makanan dasar seperti makanan laut (seafood), sayuran, telur, dan buah yang kurang dikenal dan hal itu, pada kenyataannya, Kuba mungkin sudah mendekati swasembada dalam kategori ini.

Pertanian akan berkembang pada jalur pararel di Kuba. Manusia dan hewan, yang disokong oleh pertanian organik, hidup berdampingan dengan alat-alat pertanian modern seperti benih rekayasa genetika, peralatan pertanian, dan perbaikan sistim irigasi. Namun, jika melihat ketahanan petani Kuba sejak kolapsnya ekonomi di tahun 1990an,  kita bisa yakin bahwa Kuba akan mendekati kemerdekaan di bidang pangan dalam waktu dekat.

Dan, yang terpenting, Kuba tak mengalami kelaparan. Menurut laporan organisasi pangan PBB, rata-rata asupan kalori harian rakyat kuba adalah 3200—tertinggi di Amerika latin.

W. T. Whitney Jr.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut