Pilkada Jakarta sebagai Harapan Nasional

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk  Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta tak lama lagi. Berbagai harapan ditabur para calon gubernur. Dijanjikan: Jakarta dan penduduknya  akan menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Masihkah percaya pada janji-janji para kandidat gubernur?

Pilkada DKI Jakarta tentu saja bukan sekadar janji-janji para calon gubernur tetapi juga dapat menjadi janji sendiri yang masih harus diolah oleh para warga Jakarta demi kemajuan martabat Republik Indonesia. Mengapa? Karena Jakarta sebagai Ibukota Republik seharusnyalah menjadi kota yang mencerminkan visi dan misi pendirian Republik Indonesia. Semangatnya barangkali bisa diambil dari semangat Ismail Marzuki ketika menyambut kembali Jakarta sebagai ibukota Republik setelah beberapa tahun dipindahkan ke Yogyakarta dalam lagu ‘Selamat Datang Pahlawan Muda’:

Selamat datang pahlawan muda
Lama nian kami rindukan dikau
Bertahun-tahun bercerai mata
Kini kita dapat berjumpa pula

Dengarkan sorak gegap gempita
Mengiringi derap langkah perwira
Hilangkan rindu dendam ibumu
Selamat datang di Jakarta Raya

DKI Jakarta akan selalu saja menjadi pusat perhatian daerah: baik politiknya, kebudayaan dan ekonominya selama masih menjadi Ibukota Negara Republik.  Karena itu, mau tidak mau, Pembangunan Jakarta adalah cermin pembangunan Indonesia. Dengan demikian, Pilkada Jakarta  pun menjadi harapan nasional untuk menjadi teladan perubahan secara nasional.

Apa yang menjadi harapan perubahan nasional itu tentu berangkat dari kegelisahan umum dan nasional soal berbagai hambatan kemajuan nasional atau tak terwujudnya berbagai tujuan nasional sebagaimana dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945:  melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia. Begitu pentingnya posisi Jakarta bagi kehidupan nasional,  pilkada DKI Jakarta mau tak mau menjadi ajang pertaruhan berbagai harapan untuk  memulai kehidupan baru, alternatif baru, jalan baru yang mempercepat secara nasional terwujudnya cita-cita negara Proklamasi 17 Agustus 1945.

Bila Kota Jakarta dilihat dari pendiriannya hampir 5 abad yang lalu, kita akan melihat berbagai kisah sedih penindasan kolonial dan bagaimana satu persatu wilayah nusantara jatuh di bawah kekuasaan kolonial. Tetapi Jakarta tentu saja bukan sekadar kisah kekalahan tetapi juga harapan terlebih ketika Republik Indonesia didirikan 67 tahun yang lalu dalam semangat kemerdekaan nasional. Semangat nasional ini adalah usaha untuk menjadi bangsa yang berdaulat, adil dan makmur. Oleh Bung Karno dirumuskan dalam semangat Tri Sakti: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan.

Semangat nasional itu sampai sekarang seakan jauh dari harapan. Dari Jakarta, mengalir kisah-kisah sedih yang jauh dari semangat para pendiri bangsa yang begitu indah dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945. Jakarta tak mencerminkan kota yang manusiawi sebagaimana sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab. Justru Jakarta mencerminkan ketidakadilan ekonomi  yang membuat ketidakmanusiawian  semakin nyata mewujud di tanah air tercinta; tak hanya bagi antar warga Jakarta sendiri tapi juga menjadi cermin ketidakadilan di berbagai bidang pembangunan antara pusat dan daerah. Jakarta sejak kemerdekaan terus menjadi alat meniupkan cemburu sehingga tak pelak menjadi alasan mengadakan pemberontakan-pemberontakan daerah menuntut keadilan.

Karena itu warga Jakarta seharusnya tidak main-main dalam menentukan dukungan kepada salah satu kandidat Gubernur. Pada Pilkada kali ini terdapat 6 pasang Calon Gubernur dan wakil Gubernur. Ini semua adalah anugerah bagi warga Jakarta agar dapat memilih pasangan yang tepat untuk memimpin Jakarta.  Jakarta yang multietnis yang menghadapi masalah rutinitas sehari-sehari yang memboroskan energi  seperti kemacetan tentu memerlukan seorang genius tersendiri dalam menata kota.  Jakarta yang menjadi tujuan utama urbanisasi untuk mengubah nasib kehidupan harus tampil bijaksana dan manusiawi dalam menghadapi orang-orang yang tidak beruntung. Semua ini memerlukan teknik leadership yang tak gampang.

Jakarta tentu tak bisa sendiri mengatasi persoalannya. Apa yang menjadikan Jakarta berbeban berat tentu juga karena berbagai kebijakan yang keliru secara nasional sehingga permasalahan dan berbagai tujuan hanya berpusat dan berputar di Jakarta. Inilah yang menjadikan Pilkada Jakarta menjadi harapan nasional dan semangat nasional untuk berubah. Momentum ini tersedia pada pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2012.  6 pasang kandidat yang bertarung  dengan kualitas pengalaman leadership yang dibawa masing-masing mencerminkan kegeraman akan perubahan.

Akhirnya, warga Jakarta sendirilah yang akan menentukan apakah DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara bisa tampil sebagai Ibukota yang membawa visi dan misi cita-cita pendirian Republik Indonesia atau justru hanya akan semakin menegaskan jauhnya cita-cita Republik di kota yang paling diharapkan secara nasional ini.

AJ Susmana, Deputi Keuangan Komite Pimpinan Pusat- Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut