Demagog Itu Bernama Amien Rais!

Praktek neokolonialisme makin nyata menjajah Indonesia. Sayangnya, kepemimpinan nasional sekarang tak kuasa melawan praktek tersebut. Malahan, kepemimpinan nasional sekarang sangat membebek pada kepentingan neokolonialis.

Elit politik yang lain juga tak bisa diharapkan: mereka sibuk dengan kepentingan pribadi masing-masing. Banyak diantara mereka juga menjadi ‘penjilat’. Hanya sedikit yang kelihatan mengekspresikan sikap protes terhadap kembalinya neokolonialisme di bumi nusantara.

Pada saat itulah sosok Bung Karno dirindukan. Banyak orang yang berharap akan datangnya sosok pemimpin seperti Bung Karno. Tak sedikit pula kaum ‘demagog’ yang berusaha mengaku sebagai Soekarnois. Bahkan, tak sedikit elit politik yang pura-pura menyambut kebangkitan Soekarnoisme ini.

Salah satunya adalah Amien Rais. Pada sarasehan kebangsaan bertema “Bung Karno dan Pemikiran Sosio Demokrasi” di Jakarta, Rabu (27/6), Amien Rais berbicara panjang-lebar mengenai Bung Karno dan pemikirannya. Katanya, kepemimpinan Soekarno sangat positif untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Bekas ketua MPR ini juga menyinggung pemikiran Soekarno. Salah satu yang ia tandai adalah sosialisme. Menurutnya, sosialisme sangat relevan untuk konteks Indonesia saat ini. Juga, kata Amien Rais, sosialisme merupakan antitesa terhadap persoalan bangsa sekarang ini, yakni liberalisme dan ekonomi pasar bebas.

Amien Rais tiba-tiba menjadi Soekarnois. Ia bahkan seakan menjadi pendukung sosialisme. Apakah ini gejala sesaat? Ingat, ini masih dalam suasana bulan Bung Karno. Siapapun bisa terkena semangat “Soekarnoisme”.

Ini bukan kali pertama Amien Rais berbicara radikal. Tempo hari ia berbicara mengenai nasionalisasi perusahaan migas asing. Juga, saat menjelang pemilu 2009, ia berkampanye tentang anti-neoliberalisme. Ia juga menjadi penentang keras rencana pemerintah memprivatisasi sejumlah BUMN.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Senin, 25 Juni 2012, budayawan Mohamad Sobary menulis di koran SINDO. Artikelnya berjudul “Aspirasi Kita Tentang Pemimpin Bangsa”. Sebetulnya, ia sedang menyoal hasil Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bandung, Jawa Barat. Namun, pada bagian akhir artikel, Sobary mengeritik pedas Amien Rais.

Di paragraf terakhir ia menulis begini: “Lebih baik jadikan saja agenda internal.Panggil Amien Rais yang telah dengan gemilang berhasil meliberalisasi konstitusi kita, yang membikin kita jadi bangsa budak macam ini. Secara moral, politik, ekonomi, kebudayaan,di sini dan di dalam hidup yang kelak pasti datang, dia harus bertanggung jawab. Dia tahu, dalam segala hal,Tuhan tak main-main.”

Sobary ada benarnya. Kita tahu, banjir bah neoliberal saat ini tak lepas dari jebolnya tanggul konstitusi kita. Ketika menjabat Amin Rais menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yakni dari tahun 1999 hingga 2004, konstitusi (UUD 1945) mengalami empat-kali amandemen.

Amandemen itulah yang jadi pangkal masalah: empat kali amandemen UUD 1945 telah melucuti semangat anti-imperialisme dan anti-kolonialisme dalam konstitusi tersebut. Salah satu yang mengalami amandemen adalah pasal 33 UUD 1945.

Keberadaan pasal 33 UUD 1945 sangatlah urgen. Sebab, seperti diterangkan Bung Hatta, politik perekonomian kita itu terletak di pasal 33 UUD 1945. Di situ diatur mengenai bagaimana ekonomi nasional diorganisir dan dijalankan. Juga diatur mengenai penguasaan cabang-cabang produksi dan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Di sinilah letak masalahnya: amandemen itu telah melucuti hal-hal di atas. Saat ini, pasal 33 UUD 1945 bersifat sangat lentur dan terbuka terhadap praktek neokolonialisme. Akibatnya, penyelenggaraan perekonomian sekarang sangat jauh dari cita-cita para pendiri bangsa, termasuk Bung Karno.

Juga, tak bisa dilupakan, partainya Amien Rais—Partai Amanat Nasional (PAN)—menjadi penyokong paling gigih rejim neoliberal sekarang. Artinya, jika ia mau kritis terhadap neoliberal, kenapa tidak memerintahkan partainya untuk keluar dari koalisi.

Artinya, secara sadar Amien Rais telah menjadi ‘kuda troya’ kembalinya proyek neokolonialisme di Indonesia. Dengan begitu, berbagai persoalan bangsa sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari ‘dosa’ Amien Rais.

Pertanyaannya: gejala apa yang membuat Amien seakan berbalik arah 180 derajat. Ya, orang bisa saja beranggapan bahwa Amien sedang “membersihkan dosa”. Namun, bagi saya, Amien Rais tak lebih dari seorang demagog yang ingin menutup buku kehidupannya dengan kebaikan. Pesan saya: jangan percaya pada kaum demagog!

Ahmad Rofik, penggiat Marhaenisme

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Ikranagara

    Bung Karno, Bung Hatta, juga ribuan pemimpin pejuang bangsa Sabang Merauke berjasa besar memerdekakan negeri kita dari penjajah. Itu jelas! Tercatat dalam sejarah! Nah! Mari kita bicara tentang ekonomi! Inilah kenyataannya: di Zaman Orde Lama Bung Karno (tanpa Hatta) dalam kabinet Nasakom ciptaan beliau terbukti telah gagal dalam membangun ekonomi negeri, bukan pemerataan kemakmuran yang terjadi, melainkan pemerataan kemiskinan. Inflasi di zaman Orde Lama Bung Karno rata-rata 625 %! Untunglah ada Soeharto yang kemudian menyelamatkan ekonomi negeri kita. Itu jelas! Tercatat dalam sejarah bangsa kita!

  • suripto

    baca, telaah, selanjtnya ……………..