Komentar Sang Menteri Bak ‘Jelangkung’

Hari Kamis, 6 September 2013, pukul 07.23 WIB, Investor Daily menurunkan berita bertajuk Serangan AS Ke Suriah Bagus Untuk Ekonomi RI. Rupanya, berita serupa juga dimuat di Beritasatu.com dan Suarapembaruan.com.

Berita itu memuat komentar Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengenai dampak ekonomi kemungkinan serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Suriah. “Kita tidak menghendaki perang. Tapi, kalau AS akhirnya menyerang Suriah, dan pihak mana pun, termasuk Indonesia, tidak bisa mencegah, kita justru mendapatkan manfaat,” kata Gita.

Dia menambahkan, jika nantinya AS menyerang suriah, harga minyak akan melejit. Begitu pula harga komoditas pertambangan dan perkebunan. “Tapi, pada saat yang sama, yield surat utang di AS akan turun, termasuk yield (imbal hasil) treasury bills,” tambahnya.

Komentar Gita Wirjawan ini menyebar di jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Kaskus. Para penghuni jejaring sosial pun langsung melabrak komentar sang Menteri yang dianggap ‘tidak pantas’ dan ‘tidak manusiawi’.

Staff Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), Alif Kamal, langsung mengeluarkan pernyataan tanggapan secara resmi. Menurut Alif, pernyataan Gita Wirjawan sangat tidak pantas dan sama sekali tidak memperlihatkan sensifitasnya terhadap persoalan kemanusiaan.

“Terlihat jelas bahwa Gita Wirjawan tidak punya sensifitas kemanusiaan. Tega-teganya ia bicara manfaat ekonomi dari kemungkinan serangan militer AS terhadap bangsa Suriah,” kata Alif.

Alif mengatakan, serangan AS ke Suriah akan membawa kerugian besar bagi rakyat Suriah. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai perikemanusiaan, pemerintah Indonesia seharusnya menolak rencana invasi AS ke Suriah.

“Dalam pembukaan UUD 1945 ditegaskan, bahwa kita harus ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,” ujarnya.

Alif juga mengirim pernyataan tanggapan terkait komentar Gita Wirjawan ke sejumlah media. Salah satunya adalah Rakyat Merdeka Online (RMOL). RMOL pun memberitakan tanggapan Alif Kamal itu melalui berita berjudul Gita Wirjawan Diingatkan dengan Pesan Bung Karno. Sayang, tak lama kemudian, berita RMOL itu tidak bisa diakses lagi.

Dan, trengg….tiba-tiba muncul berita klarifikasi di Beritasatu.com berjudul Berita “Serangan AS ke Suriah Bagus buat Ekonomi RI” Adalah Tidak Benar. Di berita klarifikasi itu tertulis: Berita berjudul “Serangan AS ke Suriah Bagus buat Ekonomi RI” yang ditayangkan Beritasatu.com, Investor Daily, Suara Pembaruan, Suarapembaruan.com, dan Investor.co.id adalah tidak benar. Berita itu tidak pernah dikatakan oleh Menteri Perdagangan Gita Wirawan.

Tak hanya itu, berita klarifikasi itu juga memuat permintaan maaf Pemimpin Redaksi Investor Daily, Primus Dorimulu. “Kami mohon maaf kepada pembaca karena telah menerima berita itu,” katanya.

Belakangan berita klarifikasi juga muncul di Investor Daily. Isinya sama persis dengan berita serupa di Beritasatu.com. Tak hanya itu, Investor Daily juga meghapus berita berjudul Serangan AS Ke Suriah Bagus Untuk Ekonomi RI tersebut.

Di sini muncul kejanggalan besar. Pertama, berita berjudul Serangan AS Ke Suriah Bagus Untuk Ekonomi RI adalah laporan Primus Dorimulu, pimred Investor Daily, dari St. Petersburg Rusia. Di situ disebutkan bahwa komentar Gita Wirjawan itu disampaikan saat acara briefing menjelang pertemuan puncak G-20 yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di St Petersburg, Rusia.

Dengan demikian, kalau dikatakan bahwa Menteri Perdagangan Gita Wirjawan tidak pernah menyampaikan komentar itu, lantas darimana Primus Dorimulu menyusun beritanya. Apakah ia sengaja menyusun berita bohong untuk disebarkan di publik? Kalau ia benar melakukan hal itu, maka Primus Dorimulu harus dikenai pidana penyebaran berita bohong kepada publik.

Kedua, isi berita itu menggunakan istilah dan hitung-hitungan ekonomis yang cukup rumit. Di situ disampaikan analisa mengenai kebijakan The Federal Reserve. Selengkapnya ditulis begini: Gita memperkirakan, AS akan tetap menjalankan kebijakan yang sudah dipertimbangkannya. The Federal Reserve (The Fed) akan mengurangi (tapering)quantitative easing (QE) karena dua alasan. Pertama, ekonomi AS sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Laju pertumbuhan ekonomi di atas 2%. Kedua, penggelontoran dana oleh The Fed dikhawatirkan menimbulkan asset bubbles. Jika dana terus dipompakan, harga aset akan jatuh. Keputusan The Fed menghentikan QE menjadi topik pembahasan para menteri ekonomi pada sidang G-20 di St Petersburg.

Menurut pendapat saya, pendapat seperti di atas khas pendapat seorang ekonom. Dalam hal ini, pendapat itu sangat mungkin dilontarkan oleh Gita Wirjawan, yang jebolan Harvard University. Atau, kalau itu murni karangan Primus Dorimulu, berarti dia punya bakat sebagai seorang ekonom.

Ketiga, berita klarifikasi yang diturunkan oleh Beritasatu.com dan Investor Daily sangat janggal. Klarifikasi itu muncul setelah Gita Wirjawan menuai badai protes di jejaring sosial. Saya kira, sebuah berita yang katanya laporan langsung dari St. Petersburg, yang isi dan kerangka beritanya sama sekali tidak terlihat ada rekayasa, tiba-tiba dinyatakan tidak benar.

Saya kira, semua orang pantas mengeluarkan dugaan dengan klarifikasi yang tiba-tiba itu. Pertama, Orang bisa saja menduga bahwa Menteri Perdagangan Gita Wirjawan telah menekan media bersangkutan untuk menghilangkan berita tersebut dan membuat klarifikasi. Dugaan ini sangat masuk akal. Kita tahu, Gita Wirjawan adalah seorang Calon Presiden, yang sedang berusaha menjaga citranya di hadapan publik.

Kedua, bisa saja Gita Wirjawan benar-benar menyampaikan komentar tersebut, tetapi kategori komentar itu adalah Off  the Record. Dugaan ini sangat mungkin terjadi. Apalagi, berita ini hanya diberitakan oleh media tertentu (tidak semua media). Kalau hal ini benar, berarti pemuatan berita itu hanya melanggar kesepakatan antara si Narasumber (Gita Wirjawan) dengan si wartawan.

Namun, terlepas dari persoalan off the record itu, komentar Gita Wirjawan itu tetap tidak tepat dan tidak sensitif dengan persoalan kemanusiaan yang dialami rakyat Suriah. Tetap saja pernyataan Gita itu tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat dari negara yang menganut Pancasila dan pembukaan konstitusinya menentang segala bentuk penjajahan di atas dunia dan menyerukan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Saya berpendapat, kalau ternyata berita itu tidak benar, maka permintaan maaf dan klarifikasi saja tidak cukup. Di sini, Beritasatu.com, Investor Daily, dan Suarapembaruan.com telah secara sengaja menyebarkan berita bohong kepada publik. Di sini jelas sudah terjadi tindak pidana. Kita berharap agar hukum dan kebenaran bisa ditegakkan.

Ah, rasanya kok komentar Sang Menteri ini bak Jelangkung:  datang tak dijemput, pulang tak diantar..

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Haruna Rahman

    itu saja mau colon presiden. siapa yang mau pilih ya. urus sembako tata niaga aja kaya ijon,.