Obama Mewakili ‘Masyarakat Internasional’ Yang Mana?

“Bagaimana anda bisa menyatakan perang melawan terorisme sementara perang itu sendiri adalah terorisme.” Begitulah kata sejarahwan kiri, Howard Zinn, ketika mengomentari kampanye Amerika Serikat memerangi terorisme.

Saya sangat tergugah dengan kata-kata Howard Zinn di atas. Saya kira, kata-kata itu sangat relevan untuk melabrak dalih yang dikemukakan oleh Presiden Obama di balik rencana serangan militer ke Suriah. Kita bisa berkata: bagaimana Obama menyatakan perang untuk membela kemanusiaan sementaraan perang itu sendiri membunuh kemanusiaan.

Rencana AS menyerbu Suriah memang menuai kontroversi. Namun, Obama berdalih, serangan itu tetap harus dilakukan, karena Suriah sudah melanggar ‘garis merah’. Garis merah yang dimaksud Obama adalah larangan penggunaan senjata kimia.

Karena itu, bagi Obama, aksi militer ke Suriah merupakan pertaruhan kredibilitas komunitas internasional. Bukan mempertaruhkan kredibilitasnya sendiri maupun bangsanya. Tidak mengherankan, si peraih nobel Perdamaian tahun 2009 selalu mengatasnamakan ‘masyarakat internasional’ untuk melegitimasi aksinya.

Tapi, baiklah, kita ajukan pertanyaan: masyarakat internasional mana yang diklaim oleh Obama? Begitu Obama melontarkan keinginannya menyerbu Suriah, protes menentang rencana tersebut meletus dimana-mana. Bahkan, ada aksi protes yang digelar oleh warga AS yang tergabung dalam Answer Coalition di depan Gedung Putih pada tanggal 31 Agustus 2013. Aksi serupa juga terjadi di Inggris, Perancis, Yordania, Iran, Venezuela, Turki, Yunani, dan lain-lain.

Yang menarik adalah bila kita melihat jajak pendapat yang dilakukan oleh sejumlah lembaga atau media. Survei yang dilakukan oleh media konservatif Fox News menyebutkan, sebanyak 51% warga AS menentang intervensi ke Suriah, sementara yang mendukung hanya 37%. Hal serupa juga diperlihatkan oleh survei Reuter, yang menyebutkan bahwa 56% menolak dan hanya 19% yang mendukung serangan AS ke Suriah.

Yang lebih mencengankan adalah laporan dari Drudge Report, sebuah website agregasi berita di AS, yang menemukan bahwa 92% menolak serangan AS ke Suriah. Sementara yang mendukung rencana perang Obama hanya 8%. Survei yang sedikit menguntungkan Obama adalah yang dilakukan oleh Pew Research Center, yang menemukan bahwa yang menolak intervensi ke Suriah hanya 48% dan yang mendukung mencapai 29%.

Di Perancis, yang pemerintahannya mendukung rencana Obama menyerbu Suriah, juga memperlihatkan kecenderungan yang sama. Survei BVA menyimpulkan bahwa 64% warga Perancis menolak rencana serangan militer ke Suriah.

Di Inggris, situasinya tidak jauh berbeda. Kendati Perdana Menteri David Cameron sangat loyal mendukung rencana Obama, tetapi parlemen Inggris memilih menolak Inggris melibatkan diri dalam intervensi militer di Suriah. Di inggris, berdasarkan survei, sebanyak 60% warga Inggris menolak intervensi ke Suriah, sementara yang mendukung hanya 24%.

Di level negara, empat negara terbesar dunia, yakni China, India, Rusia, dan Brazil, menolak agresi AS ke Syiria. Jumlah penduduk keempat negara ini nyaris separuh dari penduduk dunia. Afrika Selatan juga menolak agresi AS ke Suriah. Mayoritas negara-negara Amerika Latin, seperti Venezuela, Bolivia, Ekuador, Uruguay, Argentina, dan lain-lain, menolak agresi militer AS.

Di Turki, salah satu sekutu resmi AS untuk menyerbu Suriah, rakyatnya juga terbelah. Sebagian besar partai oposisi di Turki menolak dukungan rezim Recep Tayyip Erdogan. Ironisnya, rezim Tayyip Erdogan, yang menjadi pembela kemanusiaan bersama Obama, adalah rezim pembantai demonstran pada bulan Juni lalu. Dan lebih ironis lagi, berbagai laporan media menyebutkan, ketika membubarkan aksi protes besar-besaran rakyat, rezim Erdogan menggunakan bahan kimia dalam gas air mata yang dipakai untuk membubarkan massa.

Okelah, sekarang si Obama tiba-tiba tampil seolah-olah sebagai penentang penggunaan senjata kimia, tetapi ia lupa dosa negaranya ketika menggunakan senjata kimia saat memerangi rakyat Vietnam di tahun 1960-an hingga 1970-an. Kini, 40 tahun setelah perang, efek senjata kimia yang digunakan tentara AS masih dirasakan oleh rakyat Vietnam. Laporan Cathy Scott-Clark dan Adrian Levy menyebutkan, sekitar 650.000 rakyat Vietnam menderita beragam penyakit kronis akibat senjata kimia tentara AS itu. Sementara 500.000 orang lainnya sudah mati. Ketika perang berakhir di tahun 1975, sebanyak 10% rakyat Vietnam menderita parah akibat terus diguyur 72 juta bahan kimia oleh pesawat-pesawat perang AS. Bagaimana Obama menutupi dosa-dosa negaranya terhadap rakyat Vietnam?

Di sini saya hendak mengutip satu pernyataan menggugah dari novelis besar, Ernest Hemingway: “Jangan pernah berpikir bahwa perang, tidak peduli seberapa ia dibutuhkan, atau bagaimana ia dibenarkan, bukan sebuah kejahatan.”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • koboy kampus

    saya berharap perang akan beakhir….. tapi bagaimana berkhir jika kita memihak salah satunya……..