Kita Butuh Ganti Haluan

Desakan untuk reshuffle kabinet kian terasa kuat. Selain disuarakan oleh berbagai partai politik, desakan itu juga datang dari para komentator politik dan sejumlah kelompok yang mengatasnamakan rakyat.

Entah mengapa, ada opini yang kuat, terutama dari orang-orang yang menghendaki reshuffle kabinet, bahwa langkah ini akan sedikit memperbaiki kinerja pemerintahan. Seolah-olah kelemahan pemerintahan nasional saat ini terletak pada orang-orang atau menteri-menteri yang tidak becus bekerja.

Satu hal yang perlu digaris-bawahi, bahwa kegagalan pemerintahan sekarang tidak hanya pada satu atau beberapa bidang/kemeterian. Tetapi kegagalan pemerintahan sekarang bersifat menyeluruh di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, sangat salah jika mengidentifikasi persoalan hanya pada kesalahan orang-perorang saja.

Karena itu, sejak awal munculnya isu reshuffle, kami sudah menegaskan bahwa penyelesaian itu tidak akan mengubah apapun. Pejabat menteri bisa berganti orang, tetapi nuansa kebijakannya akan tetap sama dengan menteri sebelumnya. Mengganti separuh, atau bahkan keseluruhan menteri, jikalau tidak diserta pergantian haluan kebijakan, maka jangan berharap ada perbaikan yang sifatnya mendasar.

Oleh karena itu, menurut hemat kami, yang perlu disuarakan keras-keras sekarang ini adalah kebutuhan mengubah haluan, khususnya ekonomi dan politik. Bahkan, jika kepemimpinan nasional menolak mengubah haluan, maka kepemimpinan nasional pun mendesak untuk segera diganti.

Perjalanan bangsa di bawah kepemimpinan SBY-Budiono, yang semakin mengarah kepada neokolonialisme, adalah pengingkaran terhadap cita-cita proklamasi kemerdekaan. Sistim politik kita terus dirongrong oleh free fight liberalism dan otonomi yang didikte oleh pihak luar. Sistem ekonomi kita sudah sangat liberal, dan itu sangat terang bertolak belakang dengan semangat pasal 33 UUD 1945.

Saat ini, kita adalah sebuah bangsa yang berjalan melawan tujuan. Alih-alih mendekati masyarakat adil dan makmur, justru perjalanan bangsa kian mengarah pada keterpurukan seperti era kolonial: kemiskinan mayoritas rakyat, kehancuran ekonomi, keterbekalangan, kerusakan mental,  dan lain sebagainya.

Pendek kata, jikalau tidak ada perubahan haluan, yaitu kembali kepada cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 agustus, maka bangsa ini akan berjalan terus dalam kegelapan dan mendekati kehancuran.

Di dunia ini, ada banyak bangsa yang sedang berjuang sama dengan kita. Mereka juga melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan mereka, dan mulai berjuang keras untuk keluar dari jebakan neoliberalisme. Karena neoliberalisme—mengutip Hugo Chavez, presiden Venezuela—hanya menciptakan jalan ke neraka.

Politik reshuffle, kalaupun itu tetap dipaksa diberlakukan, hanya rekonfigurasi sementara dari kekuasaan neoliberal di Indonesia. Tetapi, rejim neoliberal itu sendiri tidak bisa menutup krisis di dalam dirinya. Juga tidak berdaya menyuap keresahan dan ketidakpuasan massa rakyat yang sudah meluas.

Karena itulah, seiring dengan tumbuh-kembangnya ketidakpuasan itu, mari kita serukan ‘gerakan ganti haluan”; kembali kepada cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, UUD 1945 (sebelum amandemen), dan Pancasila.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut