Runtuhnya Wibawa Penegak Hukum

Kasus penyerbuan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, benar-benar membuat wibawa hukum di negara ini ambruk ke titik nadir. Dan, belum sempat kasus itu terungkap, terkuak lagi kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh anggota kepolisian terhadap tahanan perempuan di penjara markas Kepolisian Resor Poso, Sulawesi Tengah.

Ini bukan kasus pertama kalinya. Pada bulan Mei 2011, seorang anggota kepolisian di Polres Pangkalpinang, Bripda Haryo, juga memperkosa tahanan perempuan yang sedang hamil.  Pada Maret 2011, seorang anggota polisi di Polres Palangkaraya, Kalimantan Tengah, juga memperkosa tahanan.

Gejala ini tentu tak sehat bagi negara yang disebut “negara hukum”. Aparat penegak hukum, khususnya kepolisian dan kejaksaan, tidak bisa menggardai penegakan hukum. Bahkan, dalam banyak kasus, mereka terlibat dalam berbagai pelanggaran hukum. Pada saat bersamaan, pengadilan juga tidak bisa menjadi tempat untuk mendapatkan keadilan.

Prinsip equality before the law (semua sama di mata hukum) tidak berlaku. Pada kenyataannya, hukum di negara ini sangat tumpul ke atas (elit dan kaum kaya), tetapi sangat tajam ke bawah (kaum miskin dan rakyat biasa). Bayangkan, anak seorang Menteri, Rasyid Rajasa, yang kelalaiannya menyebabkan 2 orang meninggal dan 3 orang lainnya terluka, hanya dihukum 6 bulan hukuman percobaan dengan hukuman pidana 5 bulan. Bandingkan dengan nasib anak rakyat biasa, Anjar Andreas Lagarond (AAL), yang dituduh mencuri sandal jepit butut milik Polisi, justru diancam dengan hukuman 5 tahun penjara.

Ini yang membuat tingkat kepercayaan rakyat terhadap institusi penegak hukum sangat rendah. Jajak pendapat Kompas terbaru mengungkapkan, sebanyak 73,6% responden menganggap citra kepolisian buruk dan 71,0% menganggap citra kejaksaan buruk. Tingkat kepercayaan rakyat terhadap lembaga pengadilan juga sangat rendah. Buktinya, rakyat lebih suka dengan metode penyelesaian “main hakim sendiri” ketimbang melalui proses pengadilan.

Pada aspek lain, masyarakat makin menyadari, bahwa lembaga penegak hukum hanya melayani kepentingan segelintir orang, yakni pemilik modal dan elit berkuasa. Akhirnya, ketika pemilik modal berbenturan dengan rakyat, aparat penegak hukum hadir sebagai penjaga kepentingan pemodal. Ini terjadi dalam berbagai konflik perburuhan, konflik agraria, penggusuran pemukiman dan lapak PKL, dan lain-lain.  Lebih parah lagi, ketika membela kepentingan pemilik modal, aparat negara (TNI/Polri) justru mengarahkan senapannya kepada rakyat.

Ini pula yang membuat lembaga penegak hukum rentan disuap. Fakta itu diperkuat oleh temuan Indonesian Development of Economics and Finance (INDEF), bahwa biaya suap terbesar yang dikeluarkan pengusaha untuk menjalankan roda bisnisnya ternyata diterima oleh polisi. Persentasenya mencapai 48% total biaya siluman yang harus dikeluarkan pengusaha. Sementara sisanya mengalir ke instansi Bea Cukai sebesar 41 persen dan Imigrasi 34 persen.

Karena aparat penegak hukum lebih mewakili kepentingan segelintir orang, yakni pemodal, maka jangan salahkan bila rakyat kemudian menempatkan aparat penegak hukum sebagai musuh mereka. Rakyat tak segan-segan melakukan perlawanan terhadap aparat penegak hukum. Ini juga yang membuat kasus pengeroyokan aparat sangat marak terjadi di berbagai tempat akhir-akhir ini.

Situasi ini sebetulnya sangat berbahaya. Negara bukan hanya dianggap gagal menjaga kepentingan umum, tetapi juga gagal menjalankan fungsi paling minimumnya, yakni memelihara ketertiban. Padahal, salah satu tujuan pendirian negara Republik Indonesia, sebagaimana ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945, adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Karena itu, sebelum terlambat, masalah ini harus diatasi. Lembaga penegakan hukum harus didemokratisasi. Praktek korup dan suap di lembaga tersebut harus ditumpas habis. Sanksi yang diberikan kepada penegak hukum yang melanggar hukum harus lebih berat. Hal ini diperlukan untuk memulihkan kepercayaan rakyat terhadap aparat penegak hukum.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut